I can't believe I had to see
The girl of my dreams cheating on me
The pain you caused has left me dead inside
I'm gonna make sure, you regret that night
(The wanted - Warzone)
Meski harinya sudah malam, namun tidak berarti suhu lantas berubah dingin atau sejuk. Medan tak pernah mengenal pagi, siang, sore, malam. Rerata tiap harinya suhu Medan termasuk panas. Dan Ben belum terbiasa dengan itu. Dia memilih masuk kembali ke kamar hotelnya. Cuaca diluar benar-benar tidak bersahabat. Lebih baik menyejukkan diri di dalam kamar.
Di kamarnya, Harris nampak sedang mengerjakan laporannya. Mereka tinggal sekamar, sedang empat orang lainnya mereka ada di dua kamar terpisah. Sambil menikmati satu kaleng minuman soda. Dia berujar kepada Ben, "Mau nggak lo? Tuh ambil di kulkas, baru gue beli tadi dari supermarket di bawah."
Ben menggeleng sambil menghempaskan tubuhnya di sofa. "Nggak deh. Lagi ngerjain apaan lo?" Ben melirik sekilas ke arah laptop.
"Lagi liatin data sekalian kerjain laporan. Biasalah."
"Rajin banget, coy."
"Yoi. Biar cepet kelar. Terus kita cepet balik deh.." Harris berujar dengan semangatnya. Tak jelas alasan apa yang membuat Harris ingin segera kembali ke Jakarta. Namun, Ben mengira mungkin Harris ingin cepat kembali lantaran Mamanya baru saja keluar dari rumah sakit dan masih memerlukan perawatan karena dalam masa pemulihan. Meski ada adiknya yang menjaga disana, tapi tetap saja Harris kerap kali memikirkan Mamanya. Ben pernah tanpa sengaja mendapati Harris menelpon Mamanya dan memantau perkembangan kesehatan Mamanya.
Tapi entah kenapa, mendengar keinginan Harris, Ben merasa tidak sependapat.
"Pulang aja lo pikirin. Temuan dulu dong dicari. Jangan karena pengin cepat pulang, kerjaan jadi nggak maksimal ya." Ben setengah mendengus.
"Iya. Siapa juga yang nggak maksimal. Ini daritadi gue udah dapet beberapa temuan sih.." Sepasang mata Harris ditambah dengan kacamata yang menggantung itu, giat memperhatikan data-data yang ada di dalam laptopnya.
Mendengar kata temuan, Ben segera menegakkan tubuhnya. Dia memajukan tubuhnya ke arah Harris yang duduk di lantai dengan laptop diatas pangkuannya.
"Temuan apaan?" Dia teringat dengan temuannya pada invoice Naima. "Invoice?"
Harris mengerakkan kepalanya ke kiri dan kanan. "Bukan. Tapi ini...." dia menunjuk data-data itu dengan jemarinya. "Menurut lo.. apa mungkin di tanggal segini konsumen dikasih CN sementara tanggal invoicenya dari tanggal jatuh tempo aja udah satu bulan."
Ben menghembuskan napas lega. Entah kenapa dia merasa lega karena itu bukan soal invoice tapi soal input bayar. "Oh. Ya nggak wajarlah. Siapa sih yang ngurus input bayar?"
"Kurang tau deh gue namanya. Kayaknya kalau nggak salah si Alicia, Alexa.. siapa sih namanya?"
"Alexa." Ben meralat. "Coba tanyain dulu alasan kenapa dia input salah begitu, kalau alasannya nggak masuk akal mending lo masukin di berita acara."
Harris mengangguk setuju. Dia lanjut menganalisisnya data. Ben kembali menyandarkan tubuhnya. Dia membiarkan teman sekaligus partner kerjanya itu menganalisis data. Ia sendiri larut dalam pikirannya. Pikiran yang semenjak kemarin merajai pikirannya.
Naima.
"Ben..." Perkataan Haris menyisip diantara keheningan yang terjadi diantara mereka.
"Hmm."
"Something wrong with you and that girl. I guess."
Ben menautkan alisnya. Lagi, ia menegakkan tubuhnya. Kali ini pandangannya menyipit ke arah Harris. "Maksud lo... that girl? Siapa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Return
Literatura FemininaHidup Naima tidak pernah mudah sesudah kepergian Ben. Kepingan kebahagiaan yang ia serakkan selalu saja tanpa permisi merangkai dalam setumpuk kenangan lewat pikirannya. Dan sebagai seorang pria yang mencintai Naima, Geribaldi selalu optimis.. bahwa...
