Juu Ni

8.5K 444 14
                                        


Author POV

"Hinata... Hinataaa!"

"Berhentilah mengigau, Naruto. Ayo pulang. Aku harus segera pulang."

Ya. Saat ini Naruto dan Sasuke sedang berada di bar yang sering mereka kunjungi. Alasannya? Tentu saja karena Naruto tak tahan dengan Hinata yang sudah semakin menjauh darinya. Alhasil, ia pun mmengajak Sasuke pergi. Sebenarnya awalnya Sasuke tak mau. Tapi, Naruto sahabatnya. Walau Sasuke dikenal sebagai 'The Coldest Prince', tapi ia tak pernah mengabaikan sahabatnya itu. Dan karena 2 botol wine itu, Naruto berakhir seperti ini.

"Hinata.. Kenapa kau meninggalkanku... kenapa Hinataaaa?!?!" Naruto masih mengigau.

"Sudahlah Naruto. Ayo pulang. Aku masih ada pekerjaan dirumah. Bisa-bisa aku diomeli kaa-san lagi." Sasuke mulai tidak sabar.

"Hinata.."

"Hey, Naru-" Sasuke menghentikan gertakannya.

"Apa aku minta tolong sama Hyuga Hinata saja ya? Kebetulan aku sudah minta nomornya."

Akhirnya Sasuke menelpon Hinata dan memberitahukan alamatnya. Tapi, ia tidak menyebutkan nama tempatnya.

Drrttt.

From : Hyuga Hinata

Aku sedang dalam perjalanan, senpai.

"Akhirnya. Hey, Naruto. Hyuga Hinata akan datang."

"Hmm, Hinata -chan.." Naruto masih belum sadar.

"Hinata -chan?" Sepertinya Sasuke pernah mendengar kata itu dari mulut Naruto sebelumnya.

Drrttt.

From : Hyuga Hinata

Aku sudah berada di depan, senpai.

.
.

Di tempat Hinata..

"A- apa-apaan dengan tempat ini?" Kata Hinata setelah melihat tempat yang ia kunjungi saat ini.

"Kau sudah datang, Hyuga. Naruto ada didalam. Masuklah."

"Na- Naruto -senpai? Ke- kenapa?"

"Sudah ikut saja."

Akhirnya Hinata pun mengikuti Sasuke. Tak lama kemudian, ia bisa melihat Naruto terkulai lemas di meja bar dengan memegang botol wine yang belum habis.

"Sa- Sasuke -senpai, ada apa dengan Naruto -senpai? Dan hal mendesak apa yang-" Hinata lalu tercengang setelah melihat Naruto yang tidak sadarkan diri di meja bar.

"Kau lihat? Naruto sedang mabuk dan harus ada yang mengantarnya pulang. Aku juga sedang terburu-buru sekarang. Aku tak tau harus memberitahu siapa. Kalau aku menyuruhnya menginap, aku juga akan kena omelan ibunya. Makanya aku memberitahumu" jelas Sasuke.

"Tapi, aku tak tau dimana alamat Naruto -senpai."

Lalu Sasuke menyerahkan sebuah kertas yang berisikan alamat rumah Naruto.

"Rumahnya tak jauh dari sini. Tapi kau mungkin harus naik taksi agar lebih cepat sampai ke rumahnya. Maaf aku sedang terburu-buru." Lalu Sasuke pun meninggalkan Hinata yang masih menatap Naruto dengan perasaan cemas.

"Ada apa denganmu sebenarnya, Naruto -senpai ? Mau bagaimana lagi. Aku harus mengantarnya pulang lalu aku akan menemani Hanabi."

Lalu Hinata membawa Naruto yang masih tak sadarkan diri dan menunggu taksi.

.
.
.

"Ini alamat rumahnya."

Lalu Hinata membunyikan bel rumah itu.

"Ha'i." Suara seorang wanita terdengar dari dalam rumah. Lalu pintu rumah itu terbuka.

"Siapa- ahh" ibu2 itu terdiam sebentar.

"HINATA -CHAN!!!" tiba-tiba ibu-ibu itu memeluk Hinata spontan. Padahal Hinata sedang membawa Naruto.

"Ma- maaf ini ibunya Naruto -senpai kah?" Tanya Hinata yg hampir tidak bisa bernafas.

"Huuh Hinata -chan pasti sudah lupa ya. Yah mungkin sudah terlalu lama. Kamu tolong bawa Uzumaki kecil ini masuk dulu ya. Aku akan menyiapkan teh untukmu. Aku yakin pasti dia habis keluar sama Sasuke. Kamarnya ada di lantai atas." Lalu ibu-ibu itu masuk ke dalam rumah yang masih meninggalkan Hinata dalam keadaan (masih) bingung.

Akhirnya, Hinata sampai kedalam kamar Naruto. Lalu, Hinata membaringkan Naruto dikasurnya. Setelah ia berbalik, tiba2 matanya tertuju pada sebuah benda yang tergeletak dimeja belajar Naruto.

"Waah kawaii. Tapi, kenapa sepertinya aku pernah melihat-"

'...Huhuhu mahkota bungaku...'

'...Etto, namae wa?...'

'...Boku wa Uzumaki Naruto...'

'...Waah arigatou nee, Uzumaki -san...'

"Uzumaki -san?" Tanpa ba bi bu lagi Hinata langsung menuruni tangga untuk mencari bibi tadi, ibu Naruto, Uzumaki Kushina.

"Bibi.. bibi.."

"Ara ara, sepertinya kau sudah ingat, Hinata -chan."

"Iya, bibi Kushina. Tapi, kenapa kalian tidak memberitahuku kalau kalian pindah? Apakah orang tuaku tahu?"

"Apakah Naruto tidak memberitahumu? Aku tahu kalian satu sekolah, tapi benar juga. Naruto mungkin juga baru saja menyadari kalau orang yang disukainya dulu satu sekolah dengannya." Seketika itu pipi Hinata langsung memerah bak tomat.

"Hahaha kau lucu sekali, Hinata -chan. Aku sudah memberitahu orang tuamu. Mungkin mereka lupa. Ini silahkan teh nya."

"Umm, terimakasih, bibi. Ngomong2, dimana paman Minato? Aku belum melihatnya." ucap Hinata lalu menyeruput teh nya.

"Oh dia masih dikantor. Katanya dia akan lembur." Kata Kushina.

"Aku sangat terkejut karena tiba2 kau datang kesini. Aku langsung tahu itu kau karena matamu itu sangat mirip dengan ayah dan ibumu. Kudengar mereka sedang keluar kota, apakah mereka sudah kembali?" Lanjutnya.

"Mereka belum- astaga aku lupa aku meninggalkan Hanabi dirumah sendirian, bibi. Aku harus segera kembali." Ucapnya lalu berdiri.

"Hanabi -chan kah? Baiklah tolong sampaikan salamku padanya ya. Tapi mungkin dia belum mengenalku karena terakhir aku bertemu dengannya ia masih bayi." Kushina lalu mengantar Hinata ke pintu depan.

"Baiklah aku pulang dulu, bibi. Salam juga untuk paman Minato."

"Ah baiklah. Hati-hati ya."

.
.
.

"Uzumaki -san?" Gumam Hinata setelah ia menutup pintu rumahnya.

"Kau sudah pulang, onee -chan."

"Oh Hanabi. Apa kau sudah selesai belajar?"

"Belum. Tapi, kau kedatangan tamu."

'Siapa yang malam2 datang kesini?' Gumamnya.

"Baiklah. Dimana tamunya?"

"Dia ada diruang tamu. Kalau begitu, aku kekamar dulu ya." Lalu Hanabi meninggalkan Hinata.

Hinata lalu menuju ruang tamu. Dan ia begitu terkejut melihat tamunya siapa.

"Sakura?"

###

Be Mine, Hinata -chanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang