9.

284 14 0
                                    

Masuk NC ya? Mudah2an tidak terjadi apa-apa dengan kalian.. :D

Chapter 9

"Kumohon lepas!" Dia tidak menjawabnya, yang dia lakukan harus menuntaskan semua ini.

"Jikook.. Ku mohon."

"Argghhh.." Aku hanya bisa medesah karena perlakuannya, jujur memaksa tapi dia menyentuh dengan lembut setiap bagian tubuhku.

"Tolong jangan memaksaku untuk merobek bajumu Mary."

Author POV-

Mary ketakutan, tapi Jikook bergairah, Dengan gerakan impulsif, dibaliknya tubuh Mary yang lemah, bibir Jikook mencium bibir Mary, tubuhnya makin menekan Mary yang terkurung di bawahnya, Memutar kiri kanan kepalanya untuk bisa melumat setiap inci bibir Mary. Entah mengapa bibir Mary benar-benar membuatnya gila. Gerakan agresif bibir Jikook membuat Mary benar- benar kewalahan, pada akhirnya ciuman Jikook perlahan turun ke leher Mary dan tangan Jikook mengelus lembut paha mertuanya. Bibir Jikook terus mencium leher Mary. Ia hanya menjilat dan menghirup aroma tubuh mertuanya yang ia sukai, berusaha tidak meninggalkan jejak apapun disana yang akan membuat Naera curiga nantinya.

"Jikook-ah ku mohon.." Mary berusaha tetap meronta kebingungan, antara menerimanya atau dia harus menolaknya?

"Jikook-ah tunggu sebentar..." Jikook tidak membiarkan Mary kesempatan untuk banyak bicara, ia kembali membawa Mary kedalam ciuman intens mereka, walau penuh dengan perlawanan dari Mary, tapi dia tahu jika Mary merasakan hal panas dan bergairah, lidahnya menjelajah masuk menikmati rasa manisnya mulut Mary, Jikook mengerang dalam ciumannya. Mertuanya itu terasa begitu nikmat, begitu manis dan menggairahkan, tangannya naik perlahan dan penyatuan jari diantara mereka saling bertautan, Jikook mengeratkan petautan jari tangan mereka, erat sekali. Sekali sejenak Mary merasakan matanya gelap, semua ini begitu aneh dan mengejutkannya.

ciuman ini begitu intens dan tak terduga. Tak terasa Jikook menarik Mary ke sofa dan menghempaskan tubuhnya begitu saja, Mary masih terkejut karena tiba- tiba ciuman-ciuman itu berubah semakin menuntut tanpa jeda, seperti tidak dapat menahan sedetikpun tidak berciuman lawannya. Ketika Jikook mengangkat kepalanya, menatap intens sang mertua.

"A-aku tau kau juga menginkannya" Suara parau terdengar, lalu kembali melumat bibir Mary lagi dengan membabi buta, suara bass Jikook

Menyadarkan Mary bahwa ini salah. Dia suami anaknya.

Apa daya ketika wanita diperlakukan cukup intens, tidak ada perlawanan karena dia tahu tubuhnya pun menginginkannya, terbaring dengan pakian yang tidak lengkap dan rambut yang sudah acak-acakan. Jikook menghentikan gerakannya, lalu menatap lekat Mary.

"Apa aku menyikitimu? Kau begitu berbeda" bisiknya parau membuat Mary terpaku, suaranya seakan tertelan di tenggorokan, bagaimana dia harus menjawabnya? Bukan ini teori yang di pernah katakan?

Tetapi Jikook tidak memerlukan jawaban wanita membeku itu, yang dia inginkan hanya melanjutkan apa yang dia mulai. Jikook menggerakkan tangannya lagi menyentuh payudara Mary, Jikook membuka dan menyingkirkan bra Mary yang menghalanginya. Bibir hangat Jikook memenuhi puncang payudara Mary, lidahnya bermain dengan intens tanpa terburu-buru, membuat Mary melepaskan desahannya. Bingung dengan gejolak yang di rasakan tubuhnya.

"Nghh Jikook-ah tungguh ini salah.. Ahhh"

"Salah? Apanya hm?" Ia sudah tidak tahan lagi, ia mendongak menatap Mary.

"Berhentihlahh agrhh.. Kumohon Jikook..." Rintih Mary pelan.

"Sayang, ini akan terasa manis jika kau menikmatinya. Kau hanya perlu mendesah untukku. Sekarang kita mulai ya?" Suara parau Jikook.

Dia memperdalam ciumannya Entah berapa lama mereka berciuman, Jikook benar-benar hanyut dalam kenikmatan dan dia menyadari kalau dia mungkin tidak akan bisa menghentikan perlakuannya ini. Entah kapan, mereka sudah telanjang bersama di atas sofa, Tubuh Jikook yang tegap dan keras, menutupi sepenuhnya tubuh Mary yang mungil di bawahnya. Mary merasakan kejantanan Jikook yang tidak terhalang apapun menyentuh pusat dirinya. Pelan, tapi membuatnya terkesiap. Mary menatap lekat pria di atasnya.

"Ahhh, bagaimana...Kau penyukainya. Kau pasti akan sangat menyukainya." Erang Jikook pelan, lalu mulai mendorong, menekan dan menyentuh Mary,

"Kau mulai terbiasa? Hah?" Tanya Jikook sensual,

"Kau sudah basah dan panas, siap untuk diriku? Arghhhh.. Ouhhh.." Perlahan Jikook menerobos keliang kenikmatan Mary.

Degup jantung yang berpacu membuat Mary, "ahhh Jikook-ahh..." Ini adalah sensasi panas bagi Mary, merasakan kejantanan seorang laki-laki yang mencoba memasukinya, menyatu menyatukan mereka. Terasa panas dan membuat seluruh pikirannya di kuasai nafsunya.

"Ahhh Jikook.. Argghhh.. Aku... Ahh.."

"Kau mau mengeluarkannya? Kita belum mencoba semua gayanya Mary... Ahhhh.." Jikook berusaha menetralkan suaranya.

"Jikook... Ahhh faster.. Jikook ku mohon percepat..!! Arrgh.."

"Aku..hh sudah yakk..-ahhh yakin kau menyukainya."

"Janga banyak bicara, lakukan Jikook, ku mohon...."  Wajah dan tubuh Mary memanas mendorongnya untuk menuju puncak kepuasan yang dia inginkan.

"Dengan senang hati Mary.. Argghhh kau masih sama seperti perawan. Apa Naera anak kandungmu?"

"Ahhh.. Ku mohon jangan di perlambat.."

"Haha.. Baik nyonya..."

"Ahhh Jikook aku akan keluar.."

"Ouhhh.. Aku juga sayang.. Ahhh.. Ahh" Jikook memperdalam dan pempercepat permainannya di atas Mary,

"Ahhh... Ahh.. Ahh.." Mareke mencapai puncak kenikmatan mereka masing. Saling menatap dalam diam.

"Sepertinya aku jatuh kepada pesona mamaku sendiri,"

"Aku tidak tahu ini benar atau salah, yang aku tahu aku menikmatinya.." Kata Mary menyusuri punggung Jikook dengan tangannya.

Jikook membawa Mary beranjak dari posisi mereka, menggendong ala bridal, membawanya ke kamar. "Sebaiknya kau istirahat disini."





TBC

Ini kurang hot?

Jangan paksakan aku karena.. You know lah, aku nulisnya gemeteran setengah gak pake mati.. :')

Jangan lupa comment dan votenya.. Di bagian mana saja :x
Ok, maaf wikooknya kepancing..

Love in Compulsion [slow update]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang