Part 7 - Ingin memilikimu

3.1K 273 5
                                        

Pagi ini gue udah perjalanan menuju sekolah dianter sama mimom gue, waktu gue nyisirin rambut hp gue berdering. Gue liat layar hp gue terpampang nama Nicla, lalu gue menganggkat telfon dari Nicla.

Niclabrown calling you..

"Halo Nic, tumben telfon pagi-pagi." sapa gue.

"Acel, lo bisa jemput gue nggak? Mami papi gue pergi tadi pagi tanpa ngabarin gue, udah mau telat juga lagi hiks hiks." jawab Nicla sesegukkan.

"Yaudah, lo tunggu depan rumah lo ya." kata gue lalu menutup telfon dari Nicla.

"Mimom, kasian Nicla gak ada yang nganterin, bisa jemput Nicla dulu ya mi? "tanya gue ke mimom yang fokus menyetir.

"Iya sayang." kata mimom.

Gue dan Nicla udah turun dari mobil lalu pamit sama mimom, setelah mencium kening gue mimom pamit untuk pergi dan gue mengiyakan. Gue dan Nicla berjalan masuk menuju ke kelas, banyak siswa yang udah mulai baris di barisan kelas masing-masing. Gue berlari ke arah kelas lalu mengajak Nicla untuk secepatnya baris di lapangan, saat gue berlari menuju barisan Rayhan menarik tangan gue.

"Apaan sih Ray, udah mau mulai nih upacara nya." kata gue sambil melambaikan tangan gue ke arah Nicla yang udah baris duluan.

"Jangan lupa selesai upacara lo ke uks ya! gue tungguin lo disana." ucap Rayhan kemudian meninggalkan gue.

"Ampun dah, kadang gak jelas emang lo. Tapi kenapa gue sayang sama lo? gilaa." gumam gue sambil menahan tawa.

"ACELLIN JANGAN LUPA!!?" teriak Rayhan yang akhirnya membuat teman-teman dan adek kelas gue melihat ke arah gue.

Seketika itu gue langsung berjalan cepat menuju barisan gue, berharap dewa penyelamat datang nolongin gue dari kejadian memalukan ini. Waktu berjalan, hingga matahari muncul demi perlahan menyinari wajah para siswa di sekolah gue. Setelah penutupan upacara barisan dibubarkan, para murid masuk ke kelas masing-masing. Gue pamit sama Nicla dan langsung menuju uks, waktu gue jalan lewat depan ruang osis gue ketemu sama Gintar.

"Mau kemana lo? Buru-buru amat sih." ucap Gintar yang berdiri dihadapan gue.

"Kemana hayoo, udah ah gue buru-buru gini malah ditanyain." jawab gue lalu berlari supaya Gintar tidak lagi nanya ini itu.

Keringat menetes dipelipis gue, nafas gue memburu sambil menengok kanan kiri untuk memastikan Gintar nggak ngikutin gue. Gintar Rayhan sahabatan mulai dari kecil, menurut cerita teman-temannya. Namun persahabatan itu sedikit renggang entah karena apa. Jadi gue gak mau Gintar tau kalo gue temen deket dan gue milikin perasaan lebih sama Rayhan. Saat gue berjalan mundur masuk ke uks, gue menabrak sesuatu lalu gue terjatuh.

"Assshhh." rintih gue sambil memegang pantat gue.

"Punya mata dipake dong, siapa suruh jalannya mundur." kata seseorang di atas gue, Rayhan.

Gue berdiri lalu mengibaskan rok gue dan membenarkan rambut gue yang sedikit berantakan akibat lari tadi.

"Suka suka gue kali, mau jalan mundur! jalan nyamping! jalan jongkok! Bukan urusan lo." ketus gue lalu pergi menuju meja admin di uks.

"Baca buku itu sampe abis, tiba-tiba gue gak mood." ucap Rayhan lalu berganti pergi ninggalin gue.

"What!? Gue disuruh, trus ditinggalin gitu aja." gumam gue syok karena gue susah payah lari dan hasilnya cuma gini.

Gue memandang buku yang ada di atas meja admin, sesaat hati gue merasa sakit. Merasa perjuangan gue buat kesini sia-sia, gue mengambil hp yang ada di saku baju lalu menelfon Nicla. Setelah gue izin dengan Nicla dan Pak David gue berjalan menuju tempat tidur lalu melepas sepatu dan berbaring. Seketika itu gue tertidur.

Secret Love √Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang