Dinda POV
"Kenapa lu dek senyum-senyum sendiri? Otak lu gesrek apa ya?" ejek Kak Yog saat gue sudah duduk di meja makan.
"Apa si kak? Lu ganggu tau gak!" gue sebel banget sama nih anak satu. buat mood gue ancur aja.
"Sudah, makan nih sayang. Jangan dengerin Kakak kamu, Din." Ibu dateng membawa nasi goreng buat sarapan gue.
"Wah enak nih. Aku makan ya, Bu" gue makan setelah melihat Ibu menganggukan kepala.
Kenapa sekarang gue seneng banget ya? Apa karna gue mau di jemput sama Dimas? Terus kok gue suka senyum-senyum sendiri, kalau inget waktu dia perhatian sama gue. Apa gue suka sama dia? Gak mungkin! Masa gue suka sama dia?
Tring...
Gue tersadar dari lamunan gue, saat mendengar hp gue berbunyi. Langsung gue buka layar kunci hp gue. Ternyata ada sms dari Dimas.
DIMAS: Dinda nih gue udah ada di depan rumah lu
Apa? Dimas udah di depan rumah gue! Cepet banget! Gue aja belum selesai sarapan.
DINDA: tunggu nih gue mau kesana
"Sayang, kenapa makanannya gak di habiskan?" tanya Ibu saat gue berdiri.
"Dinda udah kenyang, Bu. Dinda berangkat dulu ya! Soalnya temen Dinda udah nunggu di depan" gue berjalan menghampiri Ibu.
"Temen apa temen?" ejek Kak Yog.
"Tau ah! Dasar kakak durhaka!" Emang kakak ada yang durhaka ya? Bodolah emang dia durhaka sama gue?
"Udah jangan ribut! Ya sudah. Sayang hati-hati ya!" Gue salim dan mencium pipinya Ibu.
"Kak Yog, Dinda berangkat ya!" gue gak lupa salim ke kakak gue yang nyebelin ini.
"Ya udah sana!"usir Kak Yog. Nih orang bener-bener ya!
"Ya udah ini gue juga mau pergi! Assalamu'alaikum!" gue berjalan ke arah pintu.
"Waalaikumsalam" jawab Ibu dan Kak Yog.
*skip*
"Sorry ya lama" kata gue saat sudah duduk di samping Dimas.
"Buat lu, gue rela nunggu sampe berapa tahun kok!" lho, kok jantung gue deg-degan ya?
"Gombal lu! Ayo, berangkat nanti telat lho!" gue mengalihkan muka gue ke arah jendela.
"Siap, Bidadari! Tapi, selt belt jangan lupa di pakai dulu dong! Apa mau aku pakaikan?" gue lupa kalau selt belt-nya belum terpasang.
"Gak perlu! Gue bisa sendiri!" gue tolak tawaran dia, dan langsung memasang selt belt.
"Oke, let's go!" gue mendengar mesin mobil yang berbunyi dan mobil pun berjalan menuju sekolah.
*skip*
"Jangan di buka dulu!" gue langsung menunda gerakan tangan gue yang ingin membuka pintu mobil.
"Kenapa Dim? Kan udah sampai" gue menengok ke arah Dimas. Tapi, Dimas gak ada di tempat.
"Silakan, princess!" gue langsung menengok ke asal suara dan gue melihat Dimas lagi membukakan pintu buat gue.
"Gue bisa sendiri kali!" gue turun dari mobilnya Dimas.
"Kan biar so sweet" nih anak mulai lagi! Tapi, kenapa gue jadi suka kalau digombalin sama dia ya? Aneh.
"Hey malah bengong!" gue tersadar saat Dimas menepuk bahu gue dengan lembut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Because Of Rain
Roman d'amourCerita tentang Dinda yang membenci hujan berjumpa dengan Dimas yang menyukai hujan. Apakah Dimas bisa mengubah Dinda untuk menyukai hujan?
