Dinda POV.
Hari ini gue bangun pagi banget, karna gue mau bikin sarapan buat Raffa sebagai permintaan maaf dari gue, walaupun gue masaknya di bantuin Bi Atun. tapi ini kerja keras gue, karna ini pertama kalinya gue masak.
"Ye ye, akhirnya selesai juga deh, Bi Atun tolong masakannya taruh di atas meja ya, aku mau siap-siap dulu" ucap gue gembira, dan melangkah meninggalkan dapur saat Bi Atun menganggukkan kepalanya.
Setelah siap-siap gue langsung ke bawah untuk sarapan dan meminta maaf ke Raffa, gue duduk di kursi meja makan menunggu Raffa datang.
"Pagi Raffa" sapa gue tersenyum saat melihat Raffa berdiri di pintu masuk dapur.
"Raf, ayo kita sarapan nih gue dah masakin khusus buat lu" gue menghampiri Raffa yang diam di sana tanpa melihat ke arah gue sama sekali.
"Jangan setuh gue, jauhin tangan lu dari gue!" ucap Raffa, membuat gue menarik tangan gue yang tak jadi memegang tangan nya.
"Oke, tapi kita sarapan bareng yuk, liat gue masakin buat lu" gue melihat Raffa sedih, karna dia gak melirik ke gue sama sekali.
"Gue sarapan di kantin sekolah aja" Raffa membalikan badan nya dan berjalan meninggalkan gue.
"Kenapa gak sarapan di sini aja Raf?" gue mengikuti Raffa, dan Raffa masih terus berjalan tanpa perduliin gue.
"Gue bilang jangan setuh gue!" teriak Raffa dan menghempaskan tangan gue dengan keras membuat mata gue mulai berair.
"Lu kenapa kaya gini Raf?" tanya gue dan air mara turun dengan perlahan membasahi pipi gue.
"Lu tanya gue kenapa?" Raffa membalikan badan nya menghadap gue "Gue kaya gini karna lu Din, Lu yang bikin gue kaya gini, udah sekarang gue muak liat muka lu yang bikin gue jatuh cinta!" lanjut Raffa dan pergi meninggalkan gue sendiri.
"Maafin gue Raf, gue gak bermaksud buat lu jadi kaya gini.." ucap gue lemah dan tangisan gue semakin kencang.
Gue mendengar suara kaki yang berjalan ke arah gue dengan terburu-buru membuat gue menaikan kepala gue agar melihat siapa yang datang.
"Sayang, kamu kenapa?" Dimas langsung memeluk gue saat sudah ada di dekat gue.
"Raffa tadi dia...."
"Shhh... Udah jangan di pikirin lagi, sekarang kamu tenang aja ya" Dimas menghapus air mata gue dan mencium kening gue, membuat gue merasa lebih baik.
"Ya udah sekarang kita berangkat yuk!" Dimas memegang tangan gue dengan halus.
"Kenapa?" tanya Dimas saat tau gue gak bergerak mengikuti dia jalan.
"Aku belum sarapan, aku capek udah bangun pagi banget buat masak masa gak di makan" gue melihat wajah Dimas yang bingung.
"Ya udah kita sarapan bareng deh, walaupun aku udah sarapan dirumah tapi masih ada tempat buat nyimpen masakan kamu di perut aku" ucapan Dimas membuat gue tersenyum.
"Gitu dong kan cantik nya keliatan, jangan nangis terus" Dimas menaruh ke dua tangan nya di pipi gue dan mengelusnya dengan lembut.
"Janji ya sama aku kalau ini yang terakhir buat kamu nangis, lagian kalau kamu nangis nanti aku sedih masa kita pacaran tapi kamu gak bahagia?" ucap Dimas menatap mata gue mengkuncinya dalam-dalam.
"Aku janji buat gak nangis lagi, dan ini yang terakhir, karna aku bahagia pacaran sama kamu" Dimas memeluk gue sebentar.
"Ya udah kita sarapan sekarang, terus berangkat sekolah" gue hanya mengangguk dan kita berjalan ke dapur untuk sarapan bareng.
KAMU SEDANG MEMBACA
Because Of Rain
RomanceCerita tentang Dinda yang membenci hujan berjumpa dengan Dimas yang menyukai hujan. Apakah Dimas bisa mengubah Dinda untuk menyukai hujan?
