Pria dengan balutan jaket cokelat itu duduk bersandar di tiang depan rumah mewahnya. Tangan kirinya menggenggam sebuah foto, sedangkan yang lainnya memegang sepuntung rokok. Pria itu menghisap rokoknya dan menghembuskan asapnya. Tangannya dengan perlahan meremas foto itu hingga wujudnya berubah menjadi remuk. Perlahan Ia bangkit kemudian berjalan menuju pintu mahoni megah berwarna putih bergaya elegan.
Langkah demi langkah ia susuri hingga akhirnya terlihat sebuah pintu di ujung lorong. Keadaan lorong itu gelap, hanya terdapat satu penerangan di depan pintu. Namun, dengan yakin ia tetap melangkahkan kakinya menuju pintu itu.
Hingga akhirnya pria itu mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Kunci yang telah lama ia timbun kini ia pergunakan lagi. Dengan cepat ia memasukkannya kedalam lubang kunci pintu itu. Sekejap, wajah dalam masa lalu itu muncul. Semuanya membekas, namun tak dapat ia rasakan saat itu.
Dengan perlahan ia membuka ķenok pintu tua itu, didorongnya pintu itu sedikit demi sedikit, hingga akhirnya kakinya melangkah masuk. Dalam hitungan detik aroma dari dalam ruangan itu menyeruak masuk kedalam indra penciumannya. Tak sedap, namun ia menyukainya -tidak- ia sangat menyukainya. Senyum di wajahnya terbit, perlahan tangannya terulur menyentuh benda itu, benda kesayangannya.
◈E◈
"Eve," suara itu membuatnya tersentak. Tangannya yang awalnya menopang dagu indahnya seketika jatuh tergelincir begitu saja diatas meja.
"Bengong aja lo daritadi." Timpal Rene. Eve hanya menggaruk kepalanya yang -tentunya- tidak gatal.
Fokus Rene berganti. Ia melihat kak Adit berjalan mendekati meja kantin tempat Eve dan Dia duduk. Rene menundukkan kepalanya menahan senyum, dahi Eve mengerut -bingung- dengan cepat kepalanya memutar kebelakang menuju arah pandang Rene, seketika jantungnya berdetak tak karuan, pupil matanya melebar, ia kaget tentunya,
"Hey," tegur Adit membuat Eve terbelalak. Secepat angin ia memalingkan mukanya yang telah merah padam layaknya kepiting rebus.
Tanpa komando, Adit segera duduk disamping Eve yang masih memalingkan mukanya,
"Bang, siomay sama es jeruknya satu," teriaknya dari tempat ia duduk sekarang,
"Siap dek!" Jawab pak Tono -Tukang Siomay- menirukan suara layaknya seorang prajurit.
Karena Rene tahu Eve masih dalam posisi kecanggungan, atau bisa disebut salting, grogi apalah apalah itu, ia berfikir jika berbasa-basi dengan kak Adit tidak ada salahnya, bukan?
"Gimana kondisi kak Sam?" Dan ya, tentunya ia menanyakan hal itu karena ia tahu semua infonya dari Eve.
Namun senyum Adit perlahan memudar, "Masih belum sadar sampe sekarang," tuturnya dengan nada sendu kemudian menghembuskan nafasnya perlahan.
"Tapi gue berharap yang terbaik sih," ucapnya lagi. Rene hanya tersenyum iba, kemudian melirik ke arah Eve,
"Eve lo diem aja," ujar Rene membuyarkan pikiran Eve untuk kesekian kalinya.
"Eh, oh iya Rene jenguk kak Sam yuk," ucapnya spontan, alis Rene terangkat,
"Ayuk bareng gue aja deh pulang sekolah hari ini, mau ga?" Timpal Adit. Bodoh, rutuk Eve dalam hati.
"Nih dek pesenannya," terimakasih pak Tono yang telah menghilangkan suasana kecanggungan ini.
Rene yang memperhatikan ekspresi Eve hanya menggelengkan kepalanya sembari tersenyum bodoh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Escape From You
أدب المراهقينEvranda Bintang Aprilia adalah seorang gadis SMA yang pintarnya melampaui teman-teman yang lain. Pribadinya yang hangat membuat semua orang menjadi suka padanya. Tak terkecuali seorang stalker yang sangat-sangat menggilainya. Siapa sangka bila stalk...
