Part 3- Forget it

136K 8.4K 83
                                        

Tidak pernah Avi bayangkan sebelumnya jika apa yang selama ini ia jaga direnggut paksa oleh pria yang sama sekali tidak mencintainya. Direnggut secara sadis oleh pria yang menyangka bahwa dirinya adalah Lavi. Ini benar-benar gila.

Sekarang ini tubuhnya bergetar dengan hebat. David sudah sadar dan pria itu hanya menundukkan kepalanya ke bawah. Terlihat jelas bahwa pria itu merasa bersalah.

Avi terus menahan air matanya agar tidak keluar, tapi itu semua tidak bisa ia lakukan. Tangannya mencengkeram selimut yang menutupi tubuhnya dengan kuat. Ia berharap bahwa ini adalah mimpi buruk. Namun, faktanya ini adalah nyata. Di hadapannya sekarang ada David yang sudah mengenakan kembali pakaiannya.

David bangkit, dan berjalan ke sisi ranjang Avi. Avi tidak berani menoleh saat David berdiri dan mengulurkan tangannya. Avi membuang mukanya jauh ke lemari pakaian.

"Kamu harus mandi, Avi."

Mandi? Bahkan ia tidak memiliki tenaga untuk memikirkan hal itu. Ia merasa jijik terhadap dirinya.

Merasa tidak ada respon, David menunduk dan mengangkat tubuh Avi. Avi tidak menolak, karena ia masih merasakan sakit di bagian bawahnya. David meletakkan tubuh Avi yang masih terbalut selimut ke bathub.

"Mandilah, aku sudah menyiapkan handuk dan pakaian untukmu di sana," tunjuk David ke meja yang diletakkan tidak jauh dari bathub. Avi sama sekali tidak menoleh.

"Mandilah, dan aku akan mengantarmu pulang."

David berdiri tegak dan pergi meninggalkan Avi. Selepas kepergiannya, Avi mulai menangis dengan keras. Berkali-kali ia menendang tepi bathub dan menarik rambutnya frustrasi. Ia memang mencintai David, tapi ia masih tidak bisa menerima apa yang David lakukan kepadanya. Ia wanita baik-baik dan ia tidak pernah memiliki keinginan untuk menghilangkan gelarnya itu. Namun, Tuhan berkata lain dengan membuat mahkota yang selama ini ia jaga, direnggut oleh seseorang yang hanya mencintai kembarannya.

Butuh waktu lama bagi Avi membersihkan diri dan meredakan rasa sakitnya. Ia keluar dari sana dengan pakaian yang entah kapan David beli. Ia berjalan melewati David dan memunguti kembali pakaiannya. Tidak lupa ia mengambil handphone dan mengecek notifikasi. Ada beberapa panggilan dari Lavi, Aleta, Fabian, dan Adrian.

Avi mengembuskan napasnya dan mulai mengirimi mereka pesan bahwa ia akan segera pulang. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas. Apakah ia bisa diterima di rumah?

Avi berjalan ke pintu kamar dan berusaha membukanya, tapi pergelangan tangannya dicekal oleh David. Ia pun menoleh dan memandang David dengan tanda tanya.

"Aku akan mengan---"

"Tidak perlu. Aku bisa memesan taksi, meskipun itu mustahil."

"Tidak, Avi. Aku akan mengantarmu," kata David. Ia menarik tangan Avi dan menyeret tubuh mungil itu ke parkiran. Avi terpaksa masuk.

Di dalam perjalanan, mereka membisu. Tidak ada yang ingin memulai percakapan. Sampai-sampai mereka tiba di perkarangan rumah Avi.

"Maaf ...."

Bukan kata itu yang ingin Avi dengar. Apa kata maaf bisa merubah segalanya? Apa kata maaf bisa mengembalikan mahkotanya? Tidak akan.

"Aku benar-benar minta maaf, Avi."

Avi memejamkan matanya. Ia menyampirkan tasnya dan membuka pintu mobil David. Ia berjalan dengan cepat ke rumahnya, bahkan ia tidak mendengar panggilan David. Ia membuka pintu dengan kunci cadangan dan berlari dengan cepat ke lantai dua. Ia langsung membuka pintu kamarnya dan merebahkan diri di ranjangnya. Ia mulai menangis sejadi-jadinya. Beruntung kamarnya dilengkapi kedap suara, jadi tidak akan ada orang lain yang mendengarnya.

You Hurt MeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang