Avi berjalan dengan cepat menuju ruang operasi. Saat turun dari pesawat, ia langsung meminta pada David untuk menuju ke rumah sakit. Dan sekarang di sinilah dirinya berada. Ia harus secepat mungkin melihat kondisi Dara.
"Bagaimana kondisinya?" tanyanya panik saat melihat Adrian yang sudah siap dengan pakaian operasinya. "Bagaimana dengan Dara?"
"Dia baik-baik aja. Kamu siap?" tanya Adrian datar.
"Daniel mana?"
"Aku memintanya untuk menunggu. Aku sudah tahu hubungannya dengan Dara dan dia sangat terpukul."
Avi yang mendengar hal itu hanya bisa mengembuskan napasnya pelan. Ia sudah menduganya sejak awal, bahwa Daniel yang akan menderita karena Dara. Ia menoleh ke sisi kanan dan di sana berdiri Daniel yang masih mengenakan pakaian operasinya.
"Aku ke Daniel dulu," pamit Avi. Ia berjalan ke arah Daniel dan mencoba untuk tersenyum ke arahnya. "Kamu nggak apa-apa?"
Daniel balas tersenyum dan mengangguk. Namun, Avi tahu jika itu hanya fake smile. "Aku serahkaan Dara ke kamu."
Avi tersenyum dan menggengam jari Daniel. "Aku dokter dan aku akan menyelamatkan pasienku. Kamu percaya sama aku, kan?"
Daniel mengangguk dan Avi merasa lega.
"Pergilah. Aku akan menunggu di atas," ucap Daniel.
Avi mengangguk dan segera ke ruangan untuk mengganti pakaian operasinya. Setelah semua persiapannya selesai, Avi kembali ke ruang operasi dan di sana sudah ada Adrian yang baru saja selesai melakukan tugasnya.
"Siap?" tanya Adrian.
Avi mengangguk dan saat itu juga ia mulai melakukan apa yang harus seorang dokter lakukan. Ia akan mengoperasi Dara dengan teliti dan ia berjanji akan menyelamatkannya.
***
"Huft ...."
Avi terus meminum air mineralnya ketika operasi Dara berjalan lancar. Tadi ia sempat memiliki sedikit kesalahan karena kepalanya yang pusing, tapi berkat Adrian, ia bisa melaluinya dengan baik.
"Capek?"
Avi mendongak dan muncul Adrian yang langsung duduk di sampingnya. "Nggak sih."
"Gimana bulan madunya?" tanya Adrian seraya menyeruput minumannya. "Senang?"
Avi mengangguk dan tersenyum, tapi kemudian senyuman itu pudar. "Aku nggak mau liburan lagi."
"Loh, kenapa?"
"Aku takut kalau pasienku butuhin aku kayak Dara. Aku nggak mau kehilangan pasien lagi," ujar Avi.
Adrian terdiam. Ia memandang wajah Avi dengan intens. Kedua matanya tak pernah sekalipun luput dari wajah cantik Avi. Seberapa besar pun tekadnya untuk melepaskan Avi, ia tidak akan bisa melepaskannya. Faktanya, mencintai itu lebih mudah daripada melupakan. Dan melupakan seorang Navila Keegen membutuhkan waktu yang sangat lama. Bisakah ia?
"Ayo kita pulang."
Adrian dan Avi menoleh ke sumber suara dan mereka menemukan sosok David yang berdiri dengan mata tajam ke arah Adrian.
"Aku masih mau kontrol kondisi Dara, kam---"
Belum sempat Avi melanjutkan ucapannya, David sudah menarik tangannya menjauh dari sana. Avi mengernyitkan keningnya dan bingung. Kemudian rasa sakit hatinya mengalahkan segalanya. Ia mengempaskan tangannya sampai terlepas dari cekalan David. David yang bingung mulai menatap Avi dengan wajah tanda tanyanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
You Hurt Me
RomanceMenyakitkan ketika kau menikah dengan kekasih kembaranmu dan ternyata mereka bermain di belakang ketika kau sendiri sedang hamil. || Copyright ©2016 by Kyuri.
