***
Pada akhirnya, kita mengalah pada takdir
Membiarkannya sebagaimana mestinya bergulir
Tatapanmu yang lembut, juga isyarat matamu
Menyadarkanku bahwa aku harusnya tahu
Tuhan telah memberi kita cukup waktu
***
Daun-daun berguguran menerpa helaian rambut pria berjas yang sedang berdiri mematung. Dalam benaknya, Ia bahkan tidak pernah mengira bahwa kedua dongsaengnya akan berakhir begini tragis. Apakah seharusnya mereka tidak perlu bertemu sejak awal? tapi jika ini bagian dari takdir, maka segala sesuatunya telah tergaris pasti.
Suho menoleh kesamping, ternyata, seorang pria lain sedang melakukan hal yang sama, terus memandangi gundukan tanah basah di hadapannya, kedua matanya bahkan tampak sembab karena air mata. Gundukan itu hanya satu, namun ada dua orang terbaring disana, mungkin mereka sudah merasa damai meninggalkan dunia. Baekhyun mengusap air matanya yang terjatuh tanpa bisa Ia cegah, seiring dengan sekelebat masa lalu yang diingatnya jelas
Flashback on
Baekhyun baru saja kembali ke villa setelah mengambil sebagian barangnya di markas lama. Villa itu tampak begitu sepi dan lengang, Suho belum pulang dari perjalanan rahasianya, sementara Jessica mungkin sedang melakukan hal yang akhir-akhir ini dilakukannya, duduk diam di sofa atau latihan menembak. Sayangnya, Ia tidak menemukan Jessica di tempat latihan juga di sofa di ruang tengah, lalu saat menuju dapur, langkahnya terhenti ketika matanya menemukan secarik kertas di atas meja makan. Dibacanya kata demi kata, mencermati isinya hingga ia merosot jatuh terduduk.
'Selamat tinggal, jaga diri kalian baik-baik, dan hiduplah dengan bahagia'
Tulisan itu begitu singkat, namun berhasil membuat Baekhyun takut luar biasa. Ia tahu itu tulisan tangan Jessica, sehingga Ia dengan cepat menghubungi Jessica yang entah sedang berada dimana, tapi telepon-nya tak kunjung diangkat. Ia terus menelepon beberapa kali hingga seseorang mengangkat telepon. Orang itu bukan Jessica, tapi seorang yang mengaku polisi, mengabarkan nasib nunanya yang tewas bunuh diri, setelah membunuh seorang tahanan pria di rumah sakit yang Ia yakin dengan pasti bahwa pria itu hyungnya, Kris.
Dengan seluruh tubuh yang gemetaran, ia menghubungi Suho, satu-satunya orang yang ada di pikirannya saat ini, untuk mengabarkan berita duka itu. Tanpa menunggu lama, Suho mengangkat teleponnya
"ada apa, Baekhyun-a?"
"hyung.."
"keraskan suaramu, aku tidak dengar, atau kau tunggu aku saja di villa. Aku sedang mengurus pembebasan Kris, ada titik terang Baekhyun-a" Suho baru saja memberikan kabar gembira, tapi justru membuat Baekhyun menangis tersedu
"hei, kenapa kau menangis? Ini berita baik, bukan?" Suho masih belum mengerti, hingga ia menepikan mobil yang sedang dikendarainya, lalu terdiam agar Baekhyun bisa menceritakan padanya apa yang terjadi
"hyung, mereka-- mereka sudah-- tewas, hyung" ucapnya terbata-bata, tidak sanggup mengatakan hal yang menyakitkan itu
"apa maksudmu? Siapa mereka itu, hah? Katakan yang jelas" Suho berteriak di seberang telepon, ia tidak sabar menunggu kata selanjutnya. Perasaannya menjadi tak karuan, ia teramat gelisah tapi tetap menajamkan telinganya, bersiap menerima berita paling buruk
"Kris hyung dan Jessica nuna—mereka-- bunuh diri"
Suho langsung putar kemudi, ia melajukan mobilnya ke rumah sakit, tidak peduli ia akan dikenali polisi, karena ia harus memastikan sendiri berita itu. Ia bahkan tidak terpikir untuk pulang ke villa menjemput Baekhyun. Sepanjang perjalanan, air matanya tak henti-hentinya menetes, Ia terus saja bergumam, menyebut nama dongsaeng yang selalu disayanginya "Kris"
KAMU SEDANG MEMBACA
Till Death Do Us Part
Fanfiction"Sica-ya, jika aku sekarat dan tak mungkin bertahan hidup, aku ingin kau yang mengakhiri hidupku, janji?"Kris melingkarkan tangannya diperut Jessica lebih erat, membuat gadis yang berdiri memunggunginya itu tidak berbalik menatapnya. Kata-kata itu s...
