Chapter 8 - Masa Kecil Amanda

2.5K 172 59
                                        

Flashback

"Daddy...." ucap seorang perempuan manis dan cantik. Umurnya sekitar 7 tahun. Ia berlari dengan wajah yang berseri-seri kearah Seorang pria Tampan yang dipanggilnya Daddy.

Gadis itu memeluk Daddynya erat sangat erat, seperti pelukan itu untuk terakhir kalinya.

"Aduh Manda, kamu tidak liat Daddy baru saja pulang!" Ucap pria tersebut sambil melepas pelukan gadis yang bernama Manda itu.

"Manda hanya ingin memberi...," ucapan gadis cantik itu terpotong oleh pria yang adalah Daddynya sendiri.

"Daddy sangat lelah! Apa kamu tidak lihat!" Bentak Daddynya itu.

Gadis yang bernama Amanda itu hanya diam menahan tangisanya yang mulai pecah.

"Tapi Dad...,"

"Sudah Daddy ingin ke kamar!" Ucap Daddynya itu lalu pergi begitu saja.

Amanda hanya diam, ia hanya ingin Daddynya mengetahui nilai ulangan yang ia dapatkan di sekolahnya, angka 100 tertera di lembaran kertas putih yang berisi beberapa soal IPA itu. Hasil jerih payahnya. Amanda mendapatkan nilai sempurnanya kesekian kalinya. Yah! Selain cantik gadis ini sangat cerdas, namun sayangnya Daddy-nya tidak pernah mengetahuinya. Ia hanya sibuk dengan pekerjaan kantor dan kakak angkatnya itu.

Amanda melihat punggung Daddynya yang semakin jauh dari tempat di mana ia berdiri dan diam sekarang. Tiba-tiba langkahnya terhenti ketika seorang gadis cantik seumuran dengan Amanda berlari menuruni tangga dan menghampiri Daddynya itu.

"Daddy...." ucap gadis itu lalu memeluk Rakha. Daddynya.

"Yaampun hati-hati nanti kamu jatuh sayang," jawab Rakha sambil membalas pelukan gadis manis itu. Dan mengelus lembut kepala gadis itu.

Amanda yang melihat itu hanya bisa menahan tangisnya. Sangat sakit! Bagaimana bisa Daddynya bersikap seperti itu? Bahkan dia saja diomelin abis-abisan tadi karena melakukan hal yang baru saja dilakukan gadis seumuranya itu. Tapi kenapa tidak dengan gadis itu?

"Lihat Dad! Aku mendapat nilai 85!" Ucap gadis itu sambil memberikan selembar kertas ulangan.

"Hebat sekali Anak satu Daddy ini! Kamu memang cerdas sekali Felly! Putri kebanggaan Daddy!" Jawab rakha sambil mengelus penuh sayang kepala gadis yang bernama Felly ini.

Amanda melihat kembali kertas ulanganya, bahkan nilai ulanganya jauh lebih bagus dibandingkan nilai Felly kakak angkatnya. Ingin sekali rasanya Amanda menghampiri Daddynya dan memberitahu bahwa nilainya jauh lebih bagus dibandingkan kakak angkatnya itu. Namun Rakha lebih dahulu pergi kekamarnya dan mengurungkan niatnya dan memilih untuk besok saja ia memberitahunya.

Keesokan harinya.

"Dad? nanti Daddy yang anter aku ke sekolah kan?" Tanya Felly disela-sela makannya.

"Iya sayang, seperti biasanya. Daddy yg mengantar jemput putri cantik satu Daddy ini," jawab Rakha sambil tersenyum.

"Tapi aku cuma mau ada Daddy dan aku di mobil," ucap Felly.

"Loh ko gitu? Nanti Manda sama siapa sayang, ini sudah siang kalau Manda naik taxi tidak akan keburu." Jawab Ghita.

"Aku tidak mau tahu, pokoknya kalau Manda ikut aku tidak akan pergi sekolah," bantah Felly.

"Sudah Mom tidak papa, biar Manda naik taxi seperti biasanya," ucap Manda sambil terpaksa menampilkan senyumannya. Padahal hatinya sangat sakit, ia sangat ingin daddynya mengajaknya berangkat bersama, tapi apalah daya, itu hanya sebuah mimpi yang tidak akan pernah menjadi kenyataan.

"Rakha kamu bagaimanasi, ini sudah jam 8 Manda bakal telat kalau harus naik taxi, lagi juga untuk kali ini saja. Manda juga putri mu ingat! Bukan hanya Felly saja!"

"Aku tidak bisa membiarkan Felly tidak berangkat sekolah! Lebih baik Manda telat dari pada harus Felly yang bolos!"

"Astaga! Manda putri kandungmu juga! Seharusnya kamu tidak pilih kasih kepada putriku Rakha," ucap Ghita mulai menangis,

"Mom... jangan nangis... Manda tidak apa-apa ko naik taxi, mommy jangan nangis, Manda gak mau Mommy nangis," ucap manda sambil menggenggam tangan Ghita erat, dalam lubuk hatinya ia sangat ketakutan melihat Daddy dan Mommynya bertengkar gara-gara dirinya.

"Aku tidak pilih kasih! Tapi ini masalah hati! Kalau aku lebih menyyayangi Felly kenapa?!"

"Tapi Manda putri kandungmu juga!"

"Tapi aku tidak menginginkanya!"

PLAK!

"Daddy...," teriak Felly.

Ghita menampar Rakha, "kamu benar-benar keterlaluan Rakha! Kamu lebih memilih anak Jalang itu ketimbang putriku ini!"

PLAK!

"Mommy...," teriak Manda.

Rakha menampar Ghita, "jangan sekali-kali kamu mengatakan ucapan itu ke Tiara! Atau tidak segan-segan aku mengusir kalian berdua dari sini!" Bentak Rakha lalu pergi bersama Felly meninggalkan Ghita dan Manda.

Ghita terus menangis...

"Mom... mommy tidak papa? Mana yang sakit mom, biar Manda obati,"

"Tidak usah sayang, lebih baik kamu berangkat sekolah, ini sudah telat."

"Aku tidak akan pergi sekolah kalau Mommy masih menangis seperti ini," ucap manda sambil mengelap air mata yang jatuh membasahi pipi Ghita.

"Tidak, Mommy tidak menangis lagi!" Jawab Ghita sambil menghilangkan bekas air mata dimatanya, "sekarang kamu berangkat sekolah, mommy sudah memesan taxinya,"

"Yasudah Manda berangkat sekolah ya Mom, bye mom,"

"By sayang, hati-hati,"

Bayangan-bayangan kejadian tadi terus saja mengiang dikepala Manda.

Tapi ini masalah hati! Kalau aku lebih menyyayangi Felly kenapa?!

Tapi aku tidak menginginkanya!

"Daddy tidak menginginkan Manda"

"Daddy jahat!"

"Daddy udah buat Mommy manda nangis!"

"Manda benci Daddy dan Felly!"

***

Semenjak kejadian itu, Manda berubah menjadi perempuan yang nakal, bocah yang susah diatur, jahil, dan malas.

Hari ini manda membuat ulah lagi dengan tertidur disaat guru MTK sedang mengajar.

"AMANDA! GURU NGOMONG ITU DIDENGARKAN!"

"Ngantuk bu!"

"Astaga, kamu ya kecil- kecil nakalnya kebangetan! Gimana besar kamu!"

"Tambah nakalnya lah, gimana si ibu!"

"KAMU TUH MASIH KECIL, PEREMPUAN PULA! KO NAKAL BANGET SI!" Guru yang mengajar sudah mulai emosi menghadapi kelakuan Manda yang menjadi-jadi.

"Manda gak nakal bu, ibunya aja yang kelebayaan, tidur doang masa diomelin!"

"Besok bawa orang tua kamu kesini!"

"Mommy saya sibuk!"

"Daddy kamu."

"Udah ngga ada. "

"Maaf ibu tidak bermaksud, yasudah siapa saja yang ada dirumah kamu, suruh datang kesekolah."

"Hm. "

Hari-hari pun seiring berganti, Manda semakin menjadi-jadi, ia semakin menjadi bocah yang nakal, setiap hari tidak ada hari tanpa Manda membuat ulah, dan setiap minggu pula tidak ada minggu tanpa bibi inah yang datang karena surat panggilan sekolah. Dan terus saja seperti itu.

Flasback end

***

Makasi untuk vote and coment kalian yup ❤
See you 👋

Bad GirlTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang