10 - Kembalinya masa lalu.

199 40 10
                                        

"Hari ini kamu terakhir izin gak masuk sekolah kan Kak?" tanya Delia menghilangkan keheningan. Sudah seminggu Ia dirawat dirumah sakit ini, keadaannya mulai membaik, hanya kakinya yang tidak baik-baik saja. Delia memainkan jemarinya, rasanya seperti melihat seseorang yang Ia tunggu. Atau hanya sebuah ilusi, otak akan merangsang sebuah khayalan apa yang benar-benar menekan kuat isi kepalanya sehingga bisa membuat Ia benar-benar halusinasi.

"Iya besok aku masuk sekolah, tapi besok pulangnya langsung kesini, aku jagain kamu lagi kok. Tenang Ibu negara, gak akan aku tinggal lama kok." ujar Renal sembari mengacak-acak rambut Delia manja. Delia tidak banyak merespon, isi kepalanya masih berantakan memikirkan apa yang tempo hari Ia lihat. Terlalu nyata untuk sebuah delusi.

"Hmm terserah." jawab Delia yang memutar bola matanya malas.

Perilaku Delia yang dingin itu bukannya membuat Renal malas ataupun kesal. Ia malah semakin gemas dengan gadis ini, karna hanya Delia yang tidak perduli akan pesona tampannya itu.

Apalagi jabatannya yang menjadi seorang Ketua Osis di SMA Pancasila.

Jangankan mengejarnya, bicara dengannya saja Delia hanya secukupnya.

'Lo beku, tapi sukses cairin hati gue.' batin Renal.

"Kamu mau jalan-jalan nggak Lia? Kita ke taman yuk. Mumpung masih jam 11, gak terlalu panas." ajak Renal.

"Jangan ke taman, aku pengen keliling rumah sakit aja Kak."

"Yaudah ayo," kata Renal yang langsung membopong Delia ke kursi roda.

Mereka mengelilingi rumah sakit, dari koridor, kantin, ruangan-ruangan mereka lihat dan lewati. Banyak pasang mata yang menatap kagum karna terlihat sangat serasi, ada yang menatap sebal, iri dan lain sebagainya.

Delia yang sadar akan tatapan itu sedikit risih, dan berdecak sebal karna baginya tidak ada kata serasi ataupun pasangan ideal.

Hanya dia yang Delia ingin, dia; pria yang meninggalkannya 2 tahun yang lalu.

Rasa terhadap pria itu masih sama, menggebu-gebu, rindu? Ah jangan tanyakan hal itu, karna tanpa perlu di jawab jika Ia bertemu pria itu Ia akan langsung mendekap tubuhnya kemudian menamparnya. Tamparan? Ah itu hanya karena, ada lirih kesedihan dan kebencian yang Ia rasakan atas sepeninggalannya keluar dari negera ini, selebihnya? Cinta. Bertahun-tahun mencoba berdamai dengan luka. Hancur dalam hitungan detik, seperkian menit ketika rindu tak kunjung padam, atau bahkan meredup.

Di ujung koridor sudah terdapat pria yang mematung, Ia lagi-lagi mengucek matanya berharap memang yang di lihatnya adalah wanita yang Ia cari selama ini. Dan kemarin, adalah waktu dimana Ia menatap namun tak percaya kemudian memilih pergi. Bukan ingin menyakiti lebih lama lagi, rasa tidak percayanya membuat Ia harus sadar. Bahwa semua masih samar-samar.

Bahkan saat ini saja pria ini masih mematung, mencoba menajamkan penglihatannya. Apakah ini bukan mimpi?
Ingin sekali pria ini menghampiri gadis itu dan mendekapnya, langkahnya terhenti ketika Ia harus menatap pria lain disamping gadis itu. Iris matanya berkaca-kaca, akhirnya pencariannya membuahkan hasil.

Pria itu-- Ia Denis, Denis Alfatah Ardila Prasetyo. Pria yang sedang mencari-cari kekasih yang Ia tinggal pergi dahulu, Delia Vickey Aurelia Firmansyah.

Denis melangkahkan kakinya seperti melayang tak bertumpu pada tanah, detak jantungnya berdetak cepat, tubuhnya seakan bergetar. Rindu ini benar-benar menyiksa batinnya.

"Delia." lirih Denis pelan tak terasa bulir-bulir air yang Ia tahan di pelupuk matanya menetes.

Denis memantapkan langkahnya mengikuti Delia dari belakang, Ia ingin tahu gadis itu dirawat dimana karna sudah jelas gadis itu memakai pakaian rumah sakit dan juga kursi roda.

Lovely DeliaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang