11 - Penjelasan, dan penerimaan.

159 30 7
                                        

Sepulangnya Zahra dengan Aldy, Delia sesegera mungkin menelepon kedua orangtuanya. Meminta keduanya menjelaskan maksud dari memisahkannya dengan Denis. Dengan tidak memberitahukan mengapa kedua orangtuanya diminta untuk segera datang menemuinya dirumah sakit.

Berbeda dengan Delia yang sibuk menelepon orangtuanya, Denis malah sibuk senyum-senyum sendiri mengingat kenangannya bersama Delia, saat pertama kali bertemu. Baginya semua hal yang terjadi antara dirinya dengan Delia adalah dimana waktu yang amat sangat terbaik. Baginya, Delia bukanlah sebuah kenangan. Ia tidak akan pernah lenyap dan bukan sebuah kenangan. Selamanya akan menjadi pilihan terbaik sedari awal Ia menaruh hati.

Saat Delia murid baru di SMP Tunas Mekar dan Denis kelas 2 SMA Tunas Mekar. Ya sekolah itu adalah sekolah bermulai dari TK-SD-SMP-SMA.

Mereka saling menatap manik mata sangat dalam tanpa di sadari masing-masing, detak jantung mereka berdetak hebat. Bergemurah, seperti gelegar petir yang menyambar.

Mungkin jika Delia tidak mencari Zahra ke atas gedung sekolah Ia tidak akan bertemu dengan Denis disini. Ia tidak akan pernah merasakan detak-detak cinta dihatinya. Dan mungkin jika tidak ada Denis, Delia akan jatuh ke bawah lantai dasar dan tidak bernyawa lagi. Ia hutang nyawa pada Denis. Mungkin, awalnya memang seperti itu.

Seketika ia mengerjapkan bola matanya dan melepaskan dekapan itu.

"Eu-- hmm makasih udah bantuin aku, hampir jatoh mungkin aku bakal mati." ujar Delia gugup, ya lagi-lagi setiap pria yang mendengar suara Delia yang lembut akan langsung jatuh hati padanya.

Apa lagi senyumnya itu, jika tidak kuat mungkin Denis akan seperti tokoh kartun yang akan mimisan karena tidak kuat melihat seorang Delia yang menggemaskan dan sangat cantik. Gadis ini memiliki binar mata yang indah, dengan alis hitam yang membentuk indah.

Denis pun mencoba kembali ke dunia nyata, "Ah iya sama-sama lain kali hati-hati ya, jangan ceroboh." jawab Denis tak kalah gugup. Ia rasa degup jantungnya sudah tidak karuan. Apakah terdengar sampai keluar?

"Hmm.." Denis menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tiba-tiba Ia mengulurkan tangannya. Dengan sebuah harapan jabatannya akan terbalas indah. Denis mencoba tersenyum ramah, menyapa seakan semua awal yang akan baik.

"Aku Denis Alfatah, nama kamu siapa?" ujar Denis mengenalkan diri namun tidak menggunakan nama lengkapnya. Denis pun gugup, takut tidak digubris oleh Delia.

"Aku Delia Vickey Aurelia Firmansyah." perkiraan Denis salah, gadis itu malah membalas jabatan tangannya.

Setelah kejadian tempo hari itu, Denis dan Delia sering bersama. Dari mulai ke kantin, ke perpustakaan, antar jemput Delia pulang sekolah meskipun Denis pulang lebih cepat dari Delia, main di rumah Delia, kuliner, nonton berdua kemanapun. Denis selalu mengajak Delia bersama.

Dan saat malam tahun baru Denis mengajak Delia keluar untuk melihat kembang api di pusat kota. Berkumpul dengan ratusan orang yang menunggu pergantian tahun seperti hal tersebut adalah sebuah keharusan dari tahun ke tahun. Penuh, padat, hingar bingar terompet dan percakapan lebih dari satu dua suara meramaikan keadaan sekitar mereka berdua.

"Delia, " panggil Denis, Delia yang sibuk memperhatikan kembang api pun menoleh dan terkejut pasal wajah Denis ternyata hanya beberapa centi dengan matanya, lagi-lagi mereka berpandangan. Delia bingung mengapa berdekatan dengan Denis Ia selalu merasakan degup jantungnya begitu cepat?

"Aku suka sama kamu, selama 3 bulan ini kita sering jalan berdua dan gak pernah jauh. Dan aku udah yakinin kalo ini bukan ketertarikan sesaat, tapi ini emang aku jatuh cinta sama kamu. Kamu mau jadi pacar pertama aku dan cinta pertama aku?" lirih Denis dengan tatapan yang begitu membuat Delia cenat-cenut.

Lovely DeliaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang