Denis masih sibuk dengan mesin mobilnya, Ia tidak ingin ada kesalahan di mesin mobil yang akan Ia gunakan saat balapan nanti. Mengelap mobilnya dengan amat sangat hati-hati, mengkilap dan sangat tampan. Sudah cocok menjadi pendampingnya. Harus kece! Denis menyalakan mesin mobil, lebih tepatnya memanaskan mobilnya dan meninggalkan masuk ke dalam rumahnya. Menaiki anak tangga satu persatu tak lama kemudian ada sebuah pesan masuk kedalam ponselnya. Sedikit mengernyitkan dahinya Denis membaca pesan yang masuk.
Bisma Septian A : Ping!!!
Bisma Septian A : Denis lo masih di mana sih? Yang lain udah pada kumpul.
Denis Alfatah Ardila P : Gue lagi chek mobil, bentar otw.
Bisma Septian A : Oke, tiati lo kalo bawa mobil Nis.
Seulas senyum menyungging di bibir Denis, sahabatnya memang lebih gila dari pada orang gila. "Kalian emang gila! Tapi kalian sahabat terbaik gue." Denis terenyuh, tumben baek! Biasanya bikin darah tinggi terus sahabatnya itu.
Denis mempersiapkan semua hal yang harus Ia bawa untuk balapan, seperti helm, ataupun baju balapan yang khusus demi keselamatan. Tak lupa cincin keberuntungan yang selalu Ia bawa kemana-mana harus sudah siap, jangan sampai ketinggalan. Merasa semuanya sudah lengkap Denis melajukan mobil sportnya Ia kali ini benar-benar penasaran siapa yang menantangnya untuk balapan. Hal yang nyaris sudah 4 tahun lalu lamanya tidak ada lagi yang menantangnya terang-terangan.
Apakah ia tidak tahu sedang berurusan dengan siapa? Apakah ia tidak sadar bahwa Denis Alfatah Ardila Prasetyo adalah joki handal? Oke-oke harus di garis bawahi ya, Denis itu joki balap liar BUKAN JOKI 3 In 1 biar gak kena tilang.
💔💔💔💔💔💔
"Kak?" Suara itu membuat Renal terbelakak sebab rasa kantuk yang Ia tahan sedari tadi, ia terkejut. Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB. Delia memang sudah sadar sepeninggalan Renal untuk pulang, keadaannya mulai sedikit membaik, dengan perban yang melilit di kepalanya. Delia masih berbaring dengan infusan yang menempel dipunggung tangannya juga selang oksigen yang masih terpasang manja di lubang hidungnya. Namun, sadar saja sudah membuat semua orang merasa tenang.
"I--iya apa Sayang? Mau minta sesuatu?" tanya Renal terkejut.
"Ih Sayang Mbah dukun! Kamu masih ngapain disini? Udah malem." tanya Delia lagi-lagi ketus dengan suaranya yang parau, sikapnya yang dingin padahal tubuhnya saja sudah lemas mulutnya masih saja kaku. Tidak ada kalimat lain yang mampu membuat Renal melambung.
"Si jutek, nggak mau pulang! Mau ngusirkan? Mau jagain Lia aja." Renal menggelikan, sungguh. Mengapa didepan kedua orangtua Delia Ia diam tanpa bicara sepatah katapun. Dihadapan Delia? Mengapa senang sekali meracau seperti burung! Penat rasanya, ingin tenang malah dibuat risih. Dan manjanya itu yang membuat Delia harus menggelengkan kepalanya.
"Ini orang sejak kapan manggil Delia, jadi Lia?" Batin Delia berbicara merasa sangat heran, mengapa pria ini semakin tidak jelas, padahal Ia tidak pernah memberikan harapan sama sekali. Jangankan harapan, sikap saja selalu dingin. Sangat kentara sekali bahwa Delia tidak menerima kehadiran Renal. Namun, apakah Renal tidak bisa membaca keadaan?
"Yaelah, dikira lilin dijagain. Udah sana pulang. Bisa sendiri kok," Delia masih berwajah datar, tidak ada mimik sama sekali.
'Atur deh atur, untung gue cinta. Kalo kagak udah gue kasih sianida lo Neng! Eh ralat jangan deh nanti gue sama siapa kalo lo gak ada.' batin Renal bergulat. Renal mungkin juga agak dibuat jengkel karena selalu mendapatkan perlakuan ketus Delia. Namun apalah daya, pantang mundur sebelum perang usai. Berlian emang susah di dapat, batu kali baru gampang. Semangat!
KAMU SEDANG MEMBACA
Lovely Delia
Teen Fiction[Proses REVISI] Apa menunggu selama 2 tahun ini, aku baik-baik saja? Bayangkan, betapa sulitnya meneguhkan hati untuk setia ketika sebuah lembaran baru menjanjikan kebahagiaan. -Delia- Aku mencari selama 2 tahun ini, tapi aku malah mendapat pengkhia...
