12 - Tak'kan aku lepaskan.

131 30 10
                                        

Sang raja siang telah tiba di peredarannya, menyinari semua tatapan nyata. Menelusuri setiap tempat dengan hangat.

Gadis cantik ini menatap pemandangan yang sudah lama tak Ia lihat. Nyaris lupa caranya menatap? Menatap tenang sang pangeran tengah tertidur dengan lelapnya lebih tepatnya, Ia menarik jemari kekasihnya kemudian menggenggam erat. Menenggelamkan kepala di sebelah tangannya. Ia rasa, rindu memang semenyakitkan itu.

Tak lama, pemandangan indah itu mencoba mengerjapkan matanya perlahan-lahan. Meninggalkan bunga tidurnya yang indah. Seindah apapun mimpi, nyatanya kenyataan lebih indah untuk saat ini.

"Pagi Sayang," ujarnya dengan seulas senyum tulus, Ia semakin menggemaskan saat mencoba mengembalikan semua nyawanya yang belum seutuhnya terkumpul. Nyawa yang berkelana mencari kepingan-kepingan kenangan. Atau nyawa yang sedang asik berkeliaran mencari uang, harta pula. Tuyul itu namanya.

"Pagi kembali Sayang, aku pikir kamu pulang semalem." tanya Delia sedikit mengerutkan keningnya. Denis hanya mengembangkan seulas senyuman manis.

"Aku masih kangen sama kamu, mana bisa jauh-jauh dari kamu. Lagian waktu terpenting aku cuma ada di kamu kok Sayang. Aku ke toilet sebentar ya Sayang." Delia hanya terkekeh mendengar jawaban Denis. Gombal sekali dia, dasar laki-laki. Meninggalkan Delia sekejap, Denis mencium kening lalu melenggang kakinya ke toilet.

Delia hanya mengangguk dan tersenyum tenang, karna laki-laki itu ternyata masih sama, mencintai dia dengan segenap hati tak bisa dipungkiri lagi. Awalnya Delia hanya berpikir cinta mereka adalah cinta monyet. Delia cintanya, Denis monyetnya. Dan seketika Delia akan tertawa terbahak-bahak jika mengingat ucapannya kala itu.

Tokk... Tok.. Tok...

Disela-sela senyum yang merekah itu, pintu terketuk disusul dengan daun pintu yang terbuka lumayan lebar. Membawa tentengan yang penuh dikedua tangannya. Aurel tersenyum melihat Delia yang tengah senyum-senyum sendiri.

"Pagi Sayang, ini Mama bawa bubur ayamnya. Oh iya Denis ke mana?" tanya Aurel yang langsung berhambur ke Delia untuk mencium keningnya. Kebiasaan dari dulu.

"Ada di toilet Ma, mungkin dia mau mandi sebentar. Baru bangun soalnya." jawab Delia menjelaskan, Delia seketika mengernyit heran melihat mimik wajah Ibunya mendadak bingung.

"Nak, kamu gimana sama Renal?" tanya Mamanya ragu, bertanya demi keheranannya agar berangsur hilang.

"Gak tau mungkin lagi sekolah, udah ah gak usah bahas dia. Delia ada Denis Ma, jadi stop buat nyoba deketin aku sama laki-laki lain ok Ma?" jawab Delia dingin.

"Iya-iya Sayang. Yaudah dimakan dulu buburnya nih," seraya menyodorkan rantang berisi makanan itu.

"Nanti deh Ma, nunggu Denis. Mau makan bareng dia aja." mendengar jawaban Delia, Aurel hanya bisa mengangguk pelan tanda mengerti. Ia tidak mau anak semata wayangnya mengamuk.

💔💔💔💔💔

Berbeda dengan keadaan Renal pagi ini, wajahnya berlipat, lecak seperti pakaian yang belum disetrika. Rasa kosongnya kembali menyerang, yang kemarin terisi Delia kini Ia harus mencoba sadar bahwa sadarnya perlu agar Ia tidak kecewa. Berharap lebih pada langit yang amat tinggi membuatnya harus siap terjatuh berkali-kali. Dan sangat menyakitkan.


Rasanya malas sekali Ia bersekolah, karena mendengar Resya-- cinta pertamanya akan mulai bersekolah dan akan satu kelas lagi dengannya. Dan yah, hidupnya akan direcokan oleh seseorang yang seharusnya tetap menjadi masa-lalu. Tidak so mengatur menjadi masa depan.

Tap.. Tap.. Tap...

Tiba-tiba Renal merasakan tubuhnya di dekap seseorang dari belakang sontak membuat Ia mematung, ya gadis itu.

Lovely DeliaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang