Dinda memasuki rumah dengan senyum paling merekah yang pernah ada. Sedangkan naya berjalan di belakangnya dengan senyum tipis. Lega rasanya bisa melihat kakak nya itu bisa tersenyum.
"Assalamu'alaikum." salam dinda kepada semua orang yang ada di rumah.
"Wa'alaikumsalam."
Eitss.. Itu cuman kakek nya dinda yang jawab. Yang lain acuh tak acuh. Tapi waktu naya yang sebut salam semuanya ngejawab.
Dinda hanya bisa tersenyum miris dan kembali tersenyum ketika melihat sosok bunda nya yang menyiapkan makan siang.Dinda berjalan dengan setengah berlari kecil menuju seseorang yang sangat dia sayang. Seseorang yang senyum nya selalu menjadi mimpi dinda dari dinda kecil.
Dinda terus berlari kecil dan sampai, dengan langsung memeluk tubuh bundanya dari belakang.
"Bundaa.. Assalamu'alaikum." ujar dinda dengan lembut.
"Wa'alaikumsalam."
Hanya itu. Tidak ada embel-embel lainnya.
"Kok tadi salam dinda gak di jawab bun? Padahal dinda bawa hadiah buat bunda." ujar dinda lagi.
"Dinda udah deh. Bunda lagi nyiapin makan. Nanti aja." jawab bunda nya sambil masih sibuk dengan kegiatannya.
Dinda hanya bisa diam. Perlahan melepas lingkaran tangannya dari tubuh bunda tersayangnya itu.
"Dinda cuman mau bilang, dinda jadi Queen di kelas dinda." ujar dinda lemah.
"Terus?" tanya bunda dinda anteng. Antengggg banget. Gak ada nada-nada bangga dan semacamnya.
"Keren kan bun?" tanya dinda dengan mata berbinar.
"Tadi pagi, naya telpon bunda. Dia bilang dia jadi Queen di sekolah. Bukan di kelas lagi tapi di sekolah." jawab bunda dinda.
Dinda diam. Satu tetes air mata turun begitu saja tanpa izin sebelumnya. Selalu seperti itu.
Dinda berbalik dan berencana ingin lekas ke kamar. Sampai tangan dinda di cekat oleh naya.
"Apalagi sih?! Gue cape mau tidur." ujar dinda dengan suara bergetar.
"Maaf kak." ujar naya dengan nada bersalah.
Dinda hanya bisa tertawa sinis dan mencekal balik tangan naya.
"Maaf aja gak bisa ngasih senyum nya bunda."
Setelah itu dinda berlari ke kamar nya. Menaiki tangga demi tangga dengan hati yang sangat hancur. Sempat terinjak rok nya sendiri membuat dinda terhuyung dan kepalanya sukses membentur tangga.
Sampai di kamar, dinda menangis sekuat yang dia bisa. Meluapkan apa yang seharusnya dia keluarkan. Sampai tangis dinda terhenti oleh getaran handphonenya.
Ananda Akram Ragenta menambahkan anda dalam kontak.
Alis dinda bertaut. Dapat darimana orang aneh itu kontak dinda. Merasa tidak penting, dinda membiarkan saja handphone nya dan kembali menangis. Tapi harus terhenti lagi karena getaran handphonenya.
Dinda muak sekali. Dengan ganas dinda mengambil handphonenya dan alis nya semakin berkerut melihat pesan yang masuk.
Akram Ragenta : hai queen nya ipa-3 😁
Merasa penasaran, dinda langsung menjawab pesan itu dengan pertanyaan.
Adinda Aqilah : dpt kontak dri mna?
Tidak sampai satu menit, pesan baru masuk dalam notifikasi perpesanan dinda.
Akram Ragenta : dari indri, katanya king and queen harus punya kontak masing-masing. Langka loh dapat kontak gue. Seneng gak?

KAMU SEDANG MEMBACA
Differently
Teen FictionPrinsip Adinda itu, 1. Adinda pasti dapat. 2. Adinda sudah dapat 3. Adinda selalu kehilangan yang dia dapat. Selalu seperti itu. Adinda jenuh dan akhirnya pasrah akan semuanya. Sampai seseorang datang dan merubah prinsip nomor 3 Adinda. Seseoran...