Lebih mudah mengikuti arus disaat kita kehilangan tujuan. Rasanya begitulah yang kulakukan saat ini. Berusaha tampak gembira menerima ajakan ayah untuk makan malam pribadi dengan keluarga Revaldo. Dan kali ini, Raymond pasti hadir, begitu pendapat ayah.
Aku tidak lagi peduli dengan kehadiran tunanganku disaat hatiku terpaut dengan pria lain. Rasa sakit ketika tahu tunanganku bersama wanita lain tidak seberapa dibanding rasa sakit ketika menemukan pria yang kucintai tidur dengan wanita yang sudah aku anggap sebagai saudara. Dan juga rasa sakit ketika tunanganku mengabaikanku selama berbulan-bulan dan lebih peduli terhadap pekerjaannya juga tidak seberapa dibanding kepergian Al yang tiba-tiba, bahkan tanpa ucapan selamat tinggal.
Tapi aku menahan itu semua demi orang tuaku. Melihat binar bahagia di wajah mereka ketika masuk ke ruang pertemuan salah satu restoran hotel bintang lima di Kota lalu disambut dengan gembira Mr. Bastian dan Ny. Sarah, mereka tampak seperti sahabat yang lama tidak berjumpa.
Mr. Bastian dan Ny. Sarah secara bergantian memelukkan dengan hangat.
"Dhea sayang, kamu tampak semakin cantik." Sarah memuji ketika masih memelukku. "Aku tidak sabar ingin kau segera menjadi manantuku."
Antusiasme Sarah menulariku, aku menatapnya sambil berkata, "Ya, Aku juga berharap bisa segera menjadi menantumu." Itu benar, gadis mana yang tidak berharap menjadi menantu wanita lemah lembut yang selalu menebar senyum ini. Tapi aku sungguh tidak ingin menjadi istri putra mereka.
Aku akan berusaha bersikap manis di acara ini, sambil mencari-cari kekurangan Raymond yang bisa kugunakan untuk keluar dari pertunangan ini.
Ketika semua orang sudah duduk di kursi yang mengelilingi meja bundar yang cukup besar, seseorang memeluk leherku dari samping.
"Oh, astaga. Aku sangat merindukanmu Dhea." Regita melepaskanku lalu memilih duduk tepat di sampingku. "Beberapa bulan ini aku cukup sibuk dan kak Ray melarangku mengganggumu karena kau sedang berusaha keras melalui UN." Ucapnya sambil cemberut.
Aku tidak bisa menahan senyum geli melihat bibir Regita mengerut seperti anak kecil. Ternyata aku tidak bisa memendam kemarahan pada gadis satu ini.
"Apa yang dikatakan kakakmu benar." Mr. Bastian menimpali. "Lihat Dhea sekarang. Tanpa gangguanmu dia mendapat penghargaan sebagai gadis paling cantik yang meraih nilai UN tertinggi di sekolahnya." Melihat wajahku yang merona akibat ucapannya membuat Mr. Bastian terkekeh geli. "Aku hanya mengutip ucapan Ray."
"Jadi Ray benar-benar hadir di acara perpisahan sekolahku?"
"Kau tidak bertemu dengannya?" aku menoleh ke arah Regita lalu menggeleng.
"Tadinya Ray duduk bersama kami, tapi tiba-tiba dia menghilang." Ayah tersenyum sambil menggelengkan kepala. "Tapi akhirnya dia mengirim pesan bahwa ada pekerjaan mendadak yang harus ditanganinya."
"Benarkah begitu kelakuan anak itu? Sungguh tidak tahu sopan santun." Geram Mr. Bastian.
Entah ini hanya perasaanku atau memang kenyataan, percakapan disekelilingku membuatku berpikir bahwa tunanganku mengamatiku secara diam-diam. Pikiran itu membuatku sedikit panik. Apakah Ray tahu kalau aku mencintai pria lain lalu dengan sengaja menyuruh Regita mendekati Al?
Belum hilang rasa panikku, sebuah suara berat yang maskulin—anehnya sangat familiar ditelingaku—menyahut. "Wah, wah, wah. Kalian semua sedang membicarakanku ya?"
Semua orang menoleh ke arah sumber suara, selain diriku.
Aku hanya duduk mematung di kursiku. Jantungku berdebar hingga terasa sakit. Otakku seolah sedang menyusun kepingan puzzle ke tempat yang benar. Lalu, Raymond duduk diseberangku, dan mata cokelat madu itu menjawab semua pertanyaanku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lelaki Misterius (TAMAT)
Romance[CERITA MASIH LENGKAP SAMPAI END] Seluruh impian Dhea hancur begitu mengetahui perselingkuhan sang tunangan tepat dua bulan setelah acara pertunangan mereka. Tapi mengapa hati Dhea tidak terlalu terluka? Apakah itu karena pria menyebalkan dan sok ta...
