Sudah menjadi tradisi di sekolah bahwa pakaian resmi di acara perpisahan adalah setelan ber-jas dengan dasi untuk pria dan kebaya untuk wanita.
Pagi-pagi sekali ibu sudah membangunkanku lalu menyeretku ke penata rias. Rambut panjangku ditata menjadi sanggul. Rasanya make-up di wajahku tebalnya dua senti. Tapi aku tidak mengeluh melihat antusiasme ibu. Rasanya menyenangkan melihat wajahnya berbinar bahagia.
Tapi ketika aku berdiri didepan aula sekolah, berusaha menemukan wajah yang sangat kurindukan, rasa senangku perlahan luntur.
Al tidak hadir.
Bagaimana mungkin Al meninggalkan sekolah begitu saja, mustahil hanya gara-gara aku memergokinya tidur bersama calon adik iparku. Lagi pula Al tidak tahu kalau Regita calon adik iparku, pasti ada alasan yang lebih serius dari pada itu. Tapi apa?
Aku berdiri dengan jemari saling meremas memperhatikan tiap orang yang lalu lalang di depan aula.
"Kenapa masih disini?" suara yang terdengar dingin itu membuatku tersentak.
Aku menoleh dan melihat Sheryl dalam kebaya biru cerah. Dia kelihatan manis. Aku menghembuskan nafas dengan kesal. Aku tidak ingin berdebat saat ini. "Aku masih ingin di luar."
"Kenapa?" nadanya penuh dengan hinaan. "Gugup? Takut? Bukankah kau begitu percaya diri ketika mengatakan bisa mengalahkanku?"
Aku memilih diam lalu memalingkan wajah. Aku benar-benar tidak ingin berdebat. Masalahku sudah cukup banyak tanpa harus ditambah membuat kehebohan di depan aula sekolah saat semua wali murid sedang berkumpul.
Tapi tampaknya Sheryl tidak sependapat. Dia pasti merasa di atas angin saat ini karena yakin bisa membuatku malu.
"Dengar, Dhea! Begitu aku menerima piagam penghargaan sebagai lulusan terbaik, kau harus naik panggung lalu mencium kakiku." Sheryl langsung pergi tanpa menunggu reaksiku.
Entah kenapa, ancamannya tidak lagi membuatku takut. Detik ini aku seperti mati rasa. Perasaan sedih, bahagia, kecewa, amarah yang melingkupiku selama beberapa bulan terakhir seperti menghantamku secara bersamaan. Ketidakhadiran Al membuat semua perasaan itu melingkupi dan mencekik diriku.
Diantara semua perasaan itu, setitik harapan masih tersimpan dalam diriku. Berharap Al datang. Asalkan dia datang, aku akan melupakan kejadian saat terakhir kali kami bertemu.
Seharusnya ini menjadi momen paling penting bagi kami berdua. Momen penentuan hasil kerja keras kami selama beberapa bulan terakhir.
Aku masih menunggu, hingga Rio datang menghampiriku. "Dhea, acara hampir dimulai. Kau harus masuk."
Aku hanya tersenyum sebagai balasan. Dia tampak bergerak-gerak gelisah sepertinya masih ada yang ingin dikatakannya tetapi dia tidak tahu bagaimana memulainya.
"Aku sudah dengar tentang Al." Akhirnya dia memulai. "Aku juga tidak mengerti mengapa dia pergi begitu saja tanpa alasan. Sangat tidak wajar karena dia menghilang tepat menjelang UN." Rio tampak semakin salah tingkah karena tidak mendapat respon. "Dhea, aku tahu sikapku berlebihan selama beberapa bulan terakhir ini. Seolah aku menghakimi dirimu. Itu sungguh tidak pantas..."
"Kau tidak salah." Aku memotong ucapan Rio. "Sikapku yang tidak pantas. Seharusnya aku tidak berkata seperti itu dan merendahkan Sheryl. Sebenarnya Al yang..." aku terdiam mengingat nama itu. Teringat betapa sakitnya merindukan pria itu. "...yang membuatku bertingkah seperti itu." bisikku melanjutkan.
Rio tersenyum mengerti. "Sudahlah, kita lupakan saja." Rio memasukkan tangannya kedalam saku celananya yang tersetrika rapi. Pendangannya menyapu sekeliling aula yang mulai sepi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lelaki Misterius (TAMAT)
Romance[CERITA MASIH LENGKAP SAMPAI END] Seluruh impian Dhea hancur begitu mengetahui perselingkuhan sang tunangan tepat dua bulan setelah acara pertunangan mereka. Tapi mengapa hati Dhea tidak terlalu terluka? Apakah itu karena pria menyebalkan dan sok ta...
