REWRITE - Tujuh belas : Fools

10.1K 887 91
                                        

Ada yang aneh. Lagi, Sasuke memperhatikan sekretaris nya itu. Sakura tampak sangat aneh hari ini. Wajahnya lelah, dan tatapannya sering kosong. Sai beberapa kali menegurnya namun perempuan itu akan kembali seperti mumi hidup dalam rapat mereka.

"Kita lanjutkan setelah makan siang."Ucapan Sasuke pelak mengundang tanya hampir semua orang di ruangan rapat. Neji bahkan sedang melakukan presentasi rancangan biaya, bagian terpenting untuk saat ini. Dengan ekspresi bingung mereka tetap keluar meninggalkan ruang rapat. Bertanya-tanya apa yang terjadi, Sasuke tidak biasanya menunda rapat.

"Apa ada masalah?"Tanya Neji menghampiri Sasuke. Sasuke menggeleng pelan.

"Naruto belum bisa hadir. Aku butuh semua orang berada disini. Apalagi dia adalah penanggung jawab acara."

Sasuke tidak mungkin mengatakan Sakura adalah alasannya. Namun ia sepertinya harus berterima kasih pada absennya Naruto hari ini karena ia dapat menggunakannya sebagai alibi pada Neji.

Dahi Neji berkerut, ia tahu ini bukan hanya masalah absensi Naruto. Ia bahkan tahu Sasuke menempatkan Naruto sebagai penanggung jawab karena rencana mereka membuat Sakura terlibat dalam panitia inti. Tapi ia tidak ingin berdebat, lagipula tidak ada urusan dengan dirinya, Neji hanya berusaha menjalankan tugasnya dengan baik saja, "Baiklah."Ia menepuk bahu Sasuke dan berjalan keluar bersama Shikamaru.

Sai yang masih sibuk membereskan kertas dan barang-barang nya menatap Sakura yang tidak bergerak dari tempatnya, sesekali Sakura memainkan ballpoint di atas meja menimbulkan suara kecil. Apa Sakura tidak menyadari semua orang sudah pergi?

Sai baru saja ingin menegur Sakura lagi, tapi Sasuke sudah lebih dulu menepuk bahunya.

"Tidak usah kau bereskan. Sebentar kita akan rapat lagi. Bisa kau tinggalkan kami? Aku ingin bicara dengan Sakura."

...

Sakura masih tidak bisa mengalihkan pikirannya dari telepon semalam. Ia tidak bisa tenang. Kenapa dia menelepon lagi. Sakura sama sekali tidak mengharapkan hal ini terjadi.

Sakura tersentak kaget saat sebuah tangan mengambil ballpoint yang sedari tadi dia mainkan. Saat itu ia sadar ruangan rapat sudah kosong. Astaga! Ia benar-benar tidak memperhatikan rapat tadi. Sakura tersenyum malu melihat bosnya lah yang menepuknya.

"Maaf."Ucap Sakura lagi. Sasuke menyeritkan keningnya. Ia bahkan belum mengatakan sepatah kata apapun. Wajah Sakura juga terlihat sangat letih. Bahkan dibawah kedua matanya terlihat memerah, walau sedikit samar tertutup dengan make up yang di kenakan nya.

Sakura berdiri dengan cepat. Menghindari tatapan Sasuke. Ia sedang tidak ingin membicarakan hal apapun saat ini. Ia hanya butuh pikirannya untuk mencari jawaban.

"Saya tidak akan mengulangi nya."Sakura keluar dari ruangan rapat meninggalkan Sasuke sendiri dengan raut wajah penuh tanya.

...

"Kau melupakan tasmu."Sasuke meletakkan tas Sakura di atas meja kerja Sakura. Lalu ia berjalan dengan santai ke mejanya sendiri mengambil kunci mobil.

Sakura merutuki kebodohannya. Sepertinya level beban pikirannya sudah termasuk tinggi, ia bahkan melupakan tasnya di ruang rapat. Sakura merasa malu, apa semua orang juga menyadarinya? Ia merasa malu, apa kata orang-orang, Bos besar membawakan tas sekretarisnya? Sakura menutup matanya dengan lelah.

Saat Sakura membuka mata, Sasuke sedang berdiri santai di depannya dengan kedua tangan di masukkan pada masing-masing saku celananya. Bosnya terlihat sangat santai dengan lengan kemeja abu-abu nya yang di gulung hingga siku, tidak ada dasi dan jas.

A PlanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang