REWRITE - enam belas : A Memory

9.2K 818 47
                                        

You look beautiful when you smile.

You look beautiful when you smile.

You look beautiful when you smile.

You look beautiful when you smile.

You look beautiful when you smile.

Kata-kata itu terus terbayang di ingatan Sakura. Bosnya memujinya. Bos besar memujinya. Memuji senyumnya. Sakura merasa bahwa ia mengalami Aritmia. Salah satu penyakit jantung. Tapi ia merasa juga merasa mual, perut mulas, dan pikiran nya tidak tenang. Semua karena, Sakura tidak siap dengan pujian itu.

Ia mengalami insomnia, dan enam kata dari bosnya masih terus terbayang. Haruno Sakura telah kehilangan kewarasannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 2 pagi dan Sakura sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Walau harusnya ia merasa sangat lelah karena pulang dari Caffe Hinata hingga lupa waktu tadi, tapi matanya sama sekali tidak bisa menutup walau hanya dua menit.

Sakura, itu hanya enam kata biasa yang sering diucapkan seseorang untuk menghargai manusia lainnya. Jadi berhentilah bersikap seperti remaja baru puber yang terus terngiang dengan satu kalimat dari lawan jenis. Ia berusaha mengatakan itu dalam pikiran rasionalnya.

Sakura berteriak keras sambil berguling-guling diatas kasurnya.

Sampai dering ponselnya berbunyi.

Sakura mengambil ponselnya yang berada di dalam laci kecil di samping tempat tidurnya.

Deg!

Nomor itu.

...

Keesokan harinya, Sakura berjalan gontai menuju ruangan rapat di lantai 5. Tidurnya sama sekali tidak nyenyak. Ia hanya tidur sejam. 1/8 dari lama waktu yang dibutuhkan oleh tubuh untuk beristirahat malam. Sangat Menyebalkan.

Semalam saat ia melihat ID Caller yang tertera pada layar handphonenya, Sakura berhenti memikirkan enam kata yang Sasuke berikan untuknya. Kepalanya dipenuhi oleh panggilan yang masuk pada 3/4 malam itu. Satu nama dan rangkaian nomor di handphonenya membuat Sakura tanpa pikir panjang langsung mematikan daya handphonenya.

"Pagi."Sapa seseorang yang Sakura tidak peduli siapa dia. Sakura hanya tersenyum kecil membalasnya dan memasuki ruangan rapat.

...

"Miss Haruno."Tegur Sai untuk kesekian kalinya. Sakura kembali tersadar dari lamunannya. Semua yang menatap Sakura bingung, perempuan yang dua hari terakhir terlihat berapi-api selama rapat, sekarang duduk lesu dengan pandangan kosong.

"Saya minta maaf."Sakura membenarkan posisi duduknya dan meminum air putih yang berada di depannya.

"Sepertinya anda tidak memperhatikan rapat ini, Miss Haruno."Tegur Sasuke.

Sakura menutup matanya sebentar sebelum membuka matanya dan memberikan tatapan penuh penyesalan, "Maafkan saya Mr. Uchiha."

Sai menatap bingung Sakura, "Saya ulangi Miss Haruno. Sebelum kita memulai rapat, Saya perkenalkan head HRD yang baru pada anda. Suigetsu."Ucap Sai.

Sakura menatap pria yang berada di seberang Sai. Pria dengan wajah dan senyum orang mesum. Terasa tidak asing buat Sakura. Bukan pernah melihatnya sekali, Sakura merasa pernah melihat pria itu berkali-kali. Kenapa sekarang ia merasa dunia terasa sempit. 7 miliar populasi manusia dan Sakura terus menemui orang-orang yang sama dari fase kehidupan sebelumnya, maksudnya kehidupan lamanya.

"Suigetsu, Miss Haruno adalah Sekretaris Big boss."

Suigetsu tersenyum dan Sakura hanya diam memperhatikan pria itu. Terlalu familiar. Sampai otaknya menemukan satu jawaban. Tentu saja, tidak salah lagi. Konter perawat sering bergosip mengenai pria itu.

"Kamu bukannya sering datang ke KIH Kan? Tiap bulan dengan wanita berbeda untuk mengecek kandungan?"

Wajah Suigetsu pucat seketika.

"Tidak mungkin salah karena mereka terus membicarakanmu, maksudnya perawat disana."

Suigetsu tertawa gugup mendengarnya. Jawaban yang cukup bahwa dugaan Sakura benar. Sakura hanya bisa menghela napas pelan, takdirnya kembali berbenturan dengan laki-laki penjahat kelamin. Ia hanya berharap bahwa frekuensi mereka bertemu tidak terlalu sering. Mata Sakura bisa iritasi mengingatnya, apalagi ia memang alergi berat dengan penjahat kelamin.

...

Karin berlari menuju lift. Dia terlambat, sangat terlambat. Katakan terimakasih banyak buat tetangga yang sangat menyebalkan. Tetangga yang tiap malam sibuk mendesah dan siap menghancurkan tembok dan ranjang. Sial!

Seminggu terakhir hidupnya terasa tenang karena tetangga nya itu pergi. Hidup yang nyaman. Layaknya orang pekerja normal kantoran yang menikmati waktu istirahat mereka dari penatnya bekerja seharian. Karin akan merindukannya. Dia menghela nafas lega melihat hanya Juugo yang berada di lantai nya.

"Juugo. Dia kembali,"Karin meletakkan tasnya diatas meja.

"Welcome to the hell, again."Juugo menahan tawanya.

"Apa kau tidak bisa bilang padanya untuk berhenti membawa pulang perempuan."Karin mengeluarkan notebook nya dan membanting dengan suara keras.

"Kenapa? Cemburu?"

Karin menatap Juugo dengan tatapan membunuh.

"Mendengarnya saja menjijikan."Karin memeluk dirinya sendiri. Badannya merinding seketika.

A PlanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang