Sasuke berusaha memikirkan alasan yang tepat mengapa ia jengah saat ini. Apa karena Teman lamanya rela menunda keberangkatan demi Sekretarisnya atau karena Sekretarisnya yang berhasil membuat temannya menunda keberangkatan.
Mereka bertiga duduk bersama di sofa dan Sasuke merasa dirinya adalah orang asing. Keberadaan Sasuke bagai angin jika bisa dideskripsikan dengan kalimat kasar. Sedangkan dua orang sisanya terlihat sedang reuni membahas kisah lama mereka.
"Ada apa ini, Sakura? Kau sudah tidak bekerja di KIH?"Tanya Morio seakan-akan ia sangat mengenal Sakura.
Sakura merasa tidak nyaman, ia sesungguhnya malas untuk menanggapi orang-orang yang mengingatkan dirinya akan kebodohannya dimasa lalu. Serius, itu sangat tidak menyenangkan bertemu dengan mantan kekasihmu, berbicara seperti layaknya teman padahal di masa lalu kalian sudah terlalu saling mengenal satu sama lain.
Motto hidup Sakura : Kalau sudah menjadi mantan TIDAK BERHAK untuk ikut campur apalagi mengurusi dan menanyakan hal-hal berbau pribadi. Apalagi kalau berpisah secara tidak baik-baik.
"Aku sekarang sekretaris disini."Jawab Sakura dingin.
"Aku pikir kamu dokter? Kenapa jadi sekretaris disini."
"Aku yang menentukan, apa yang kulakukan."
"Aku hanya bertanya, apa tidak boleh?"
Suara Morio terdengar parau, ia seperti merasa kecewa dengan jawaban Sakura.
Sasuke hanya bisa memperhatikan keduanya. Meskipun ia ingin ikut dalam pembicaraan, namun ia tahu diri. Sasuke hanyalah bos Sakura dan teman Morio. Hubungan dia dengan keduanya hanya sebatas formalitas dan bukan melibatkan emosi pribadi.
"Sambil makan siang?"Sasuke bersikap sopan dengan menawarkan makanan. Lebih dari itu, ia adalah tuan rumah disini. Tetapi sepertinya kedua orang di hadapannya enggan untuk menanggapinya dan mengabaikan ucapannya. Dahi Sasuke menyerit.
"Kenapa? Maksudku kau adalah seorang dokter Sakura, kenapa kau menjadi sekretaris?"Pertanyaan yang dilontarkan Morio pada Sakura membuat perempuan itu memutar matanya bosan. Terlalu banyak ingin tahu untuk ukuran orang dari masa lalu yang kini statusnya tidak lebih dari orang asing.
Sasuke akhirnya memilih untuk tetap diam sampai salah satu dari mereka, setidaknya menyadari keberadaannya disini. Atmosfer ketegangan bertambah disini. Ia benar-benar tidak ingin ikut campur.
"Kau adalah orang ke 2017 mengatakan hal itu."
"Sakura, kalau begitu kenapa tidak menjadi sekretaris ku saja?"
Sepertinya Sasuke harus membuang pikirannya untuk tidak ikut campur. Ia benar-benar harus ikut dalam pembicaraan ini, wajah Sakura benar-benar sudah tidak bersahabat, Ia tidak mau menjadi saksi atas perbuatan apa yang terjadi dalam beberapa menit kedepan jika ia tidak menahannya.
Morio sudah melewati batasan yang dapat diterima oleh Sakura.
"Hei, bro, sudah mau jam 1, tidak ingin segera ke bandara?"Tanya Sasuke mengingatkan.
Sakura berdiri dari tempat duduknya. "Kau lebih baik pergi."Ia tidak tahan melihat wajah Morio. Tangannya gatal sekali ingin melayangkan pukulan.
Saat Sakura hendak berjalan pergi, Morio menahan lengan Sakura. Sasuke mendengus keras. Drama apa ini Korea, India, Thailand, Jepang, Indonesia? Haruskah ia menyaksikan di depan matanya?
"Aku serius Saku. Kamu bisa ikut denganku, kita ke Seoul."Ucap Morio.
...
Sakura tentu saja segera menghubungi Ino.
Haruno S.
Tebak kabar buruk?
Aku bertemu Morio.
InoY.
Kau serius? Kupikir dia sudah musnah dari bumi?
KAMU SEDANG MEMBACA
A Plan
FanfictionLONG STORY [DISCONTINUE + EXPLAINATION PLOT] Haruno Sakura memilih resign dari pekerjaan nya sebagai dokter anak di sebuah rumah sakit swasta terkenal. Dia ingin mencari angin baru dengan bekerja di perusahaan Entertainment bagian kesehatan. Namun d...
