Bagian XII

1.3K 180 22
                                    

Tidak ada satu pun orang di dunia ini yang tidak pantas untuk bahagia.

Kecuali...

Dirinya sendiri.

----0000-----

Kim sedang duduk di balkon rumahnya saat seseorang datang dan menepuk pundaknya pelan. Dokter muda tampan yang saat itu tampak sedang larut dalam lamunannya tampak sedikit tersentak kaget. Kim menoleh dan mendapati sang kakak semata wayang, Aki Kurniawan-lah yang melakukannya.

Baru saja pemuda itu terkejut dengan kedatangan sang kakak yang tiba-tiba, dokter muda berwajah baby face itu kembali dikejutkan saat mendapati memar ungu kehitaman di sudut bibir dan juga di pipi sebelah kiri kakak perempuannya. Pemuda itu langsung bangkit dari duduknya dan berhadapan dengan wanita yang telah bersuami itu untuk memastikan keadaannya.

"Kak Aki? Ada apa?" pemuda itu terlihat khawatir. Terlebih sang kakak terlihat berusaha tegar dan menutupi sesuatu di depannya.

"Ah nggak apa-apa. Cuma mau mampir aja." wanita cantik itu menjawab santai, meskipun tahu bukan itu sebenarnya yang sang adik tanyakan.

"Bukan. Maksudku..." belum sempat Kim menyelesaikan kalimatnya, sang kakak sudah dengan sengaja menghindarinya dengan berjalan ke arah mini bar yang ada di ujung ruangan.

"Kamu masih simpen vodka-ku kan?" wanita itu tampak mencari di deretan botol, mengabaikan sang adik.

"Sudah kubuang." jawab Kim singkat. Ada rasa sesak yang menghimpit hatinya dengan keadaan sang kakak yang terlihat semakin buruk dari hari ke hari.

Kakaknya harus mengalami trauma dan depresi berat sejak masih berusia belia akibat tindak asusila yang dialaminya karena perbuatan ayah tiri mereka. Saat ini pun bahtera rumah tangga sang kakak sedang berada di titik paling berat akibat perselingkuhan yang dilakukan kakak iparnya.

Sejak mengetahui pengkhianatan sang suami, sang kakak semakin terpuruk. Entah sudah berapa kali wanita itu berusaha mengakhiri hidupnya sendiri. Sekarang, setelah jauh lebih tenang, sang kakak semata wayangnya itu justru menggauli alkohol sebagai tempatnya melipur segala lara.

Kim tahu kakak perempuannya hancur dan terluka. Seperti sesuatu dalam dirinya telah koyak, hancur dalam bentuk yang tak seorangpun mengerti dan memahami sakitnya.

"Udah kubilang tolong simpenin." wanita itu mulai meracau, tangannya sibuk mencari-cari sesuatu yang tidak ada. Saat itulah, Kim menyadari sesuatu. Tangan sang kakak gemetar hebat.

Kim langsung menghampiri dan memeluk tubuh kakak semata wayangnya. Dalam pelukannya, Kim bisa merasakan betapa rapuh dan ringkihnya wanita itu. Seolah sentuhan ringan saja mampu membuatnya remuk serta hancur.

"Kak Aki..."Kim membisikkan nama sang kakak pelan. Memeluknya sekuat tenaga, berharap apa yang dilakukannya dapat membuat kakaknya merasa nyaman. Setidaknya sang kakak tahu bahwa akan selalu ada dia yang akan mendukung kakaknya itu.

Dalam pelukan sang adik, tangis Aki pecah. Wanita itu sudah tak sanggup.lagi memasang topeng pura-pura tegar yang selalu dipasangnya di depan semua orang. Dalam dekapan sang adik, Aki akhirnya menyerah dan membuka seluruh pertahanannya selama ini.

"Aku mau mati aja, Kim. Aku. Udah. Nggak. Kuat." kata-kata yang sang kakak bisikkan padanya membuat hati Kim mencelos seketika. Kenapa kakaknya sampai berkata seperti itu?

"Kak Aki ngomong apa sih kak? Kakak nggak inget kakak masih punya aku?" pemuda itu sekuat tenaga menahan perasaan sakit yang menghujam hatinya saat mendengar perkataan kakak perempuan satu-satunya itu. Adik mana yang tidak terluka mendengar kakak semata wayangnya sudah kehilangan semangat hidupnya?

A Gift From GOD ( AL/YUKI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang