Tangan pucat itu terulur, bertemu dengan tangan kecoklatan milik sang raja. Senyuman mengembang di wajah Justine Clairia saat tangan sang raja mengganggamnya balik. Mereka berdua sedang berada di ruang kerja Prometheus, dimana sang raja kembali bekerja walau baru seminggu sejak sang ratu dimakamkan. Tentu saja ia tidak berada disana hanya sekedar menggoda sang raja. Ia memiliki rencana tersendiri.
"Rajaku," Kata Justine dengan suara manis. "Aku mengkhawatirkan tentang Emilia."
Mendengar nama putri kesayangannya, Prometheus menoleh dengan kening berkerut. "Ada apa dengan Emilia?"
Justine tersenyum. Jari-jarinya terkait dengan jari-jari milik sang raja. Ekspresinya kemudian berubah dan menunjukan kekhawatiran yang dibuat-buat, walau Prometheus tidak mengetahui hal itu.
"Ada kabar yang kudengar dimana-mana, Rajaku," Justine memulai ceritanya. Ia tahu perhatian Prometheus terpusat padanya dan pria tersebut mempercayainya. Ini akan berjalan dengan mudah.
👑
Ia tidak bisa mengatakan ia sudah kembali seperti normal, tapi setidaknya ia tidak merasa seburuk dua minggu lalu. Terutama karena pemuda itu kembali ke sisinya. Setelah kematian ibunya, Emily menyadari bahwa sang ayah semakin protektif terhadap dirinya. Agenda kunjungannya berkurang, dan pengawal yang mendampinginya bertambah. Emily sendiri memiliki hal lain yang harus dipikirkan selain kabur dari istana. Akhir-akhir ini ia sendiri hanya 'kabur' untuk bercakap-cakap santai dengan Richard, bukan melarikan diri dari pemuda itu.
Tapi hari ini, pemuda itu tidak dapat ditemukan dimanapun.
Emily sudah mencari di semua tempat di istana, dapur, daerah ksatria, kandang kuda, semua tempat! Tapi Richard tidak terlihat dimanapun.
Menyerah dengan pencariannya, Emily kembali ke kamarnya. Tidak seperti biasanya, Richard sama sekali menghilang dari sisinya. Biasanya pemuda itu akan selalu berada tidak jauh darinya, melaksanakan tugasnya sebagai royal dog yang baik. Tanpa Richard, gadis itu tidak berniat untuk melakukan apapun, bahkan dalam kabur atau berlatih pedang. Ia hanya diam di atas kasurnya sepanjang hari, memperhatikan hadiah dari sang ksatria yang selalu ia jaga dengan baik. Bahkan Maria sudah menyerah dalam memintanya beraktifitas hari itu. Memang aneh melihat seorang Emilia Gracie hanya duduk diam dan tidak melakukan apapun.
Langit sudah berubah menjadi gelap ketika sebuah ketukan terdengar di pintu Emily. Tidak ada maid di dalam kamarnya karena ia sudah meminta ditinggalkan sendirian, sehingga mau tidak mau Emily harus berdiri dan membuka pintunya sendiri.
Pemuda yang sepanjang hari ini ia cari berdiri disana. Namun dengan baju zirah lengkap dan tampak siap berpergian jauh. Emily menatap Richard dari atas sampai bawah dengan pandangan heran sebelum membuka mulutnya untuk bertanya, yang sayangnya didahului oleh Richard.
"Saya harus pergi selama beberapa saat, Yang Mulia," Katanya dengan suara pelan. Ada dua pengawal di sisi pintu Emily, dan walau Emily dan Richard mengenal mereka secara pribadi, mereka tidak bisa mendadak familiar di depan umum. Siapa yang tahu akan ada yang mendengar atau tidak? Lebih baik berhati-hati daripada menyesal.
"Kemana?"
Richard tampak ragu selama beberapa saat. Pemuda itu tampak cemas, sekaligus tegang. Emily harus menunggu selama beberapa detik, yang rasanya lama sekali, sebelum pemuda itu menjawabnya.
"Tugas dari Raja, Yang Mulia. Posisi saya akan digantikan oleh Demetrius selama saya pergi." Richard bergerak tidak nyaman selama sesaat, atau itu hanya perasaan Emily saja? Karena pemuda itu tampak setenang biasanya dalam sekejap. "Saya mohon diri dulu, dan saya akan kembali secepatnya."

KAMU SEDANG MEMBACA
Scrimmage
Fiction générale「A brutal fight covered by sweet words.」 Vleredora, sebuah kerajaan yang kuat, kaya dan dikagumi oleh banyak orang. Emilia adalah putri dari kerajaan tersebut, anak dari sang Raja dan Ratu, dan walaupun banyak orang yang menginginkan ia naik t...