Kita itu diciptakan untuk menjalani suatu Alur cerita dengan judul Kehidupan. Jadi sudah wajar jika dalam kehidupan kita terjadi banyak masalah dan cobaan. Kita hanya di jalankan untuk membuat film ini berwarna.
Meskipun rasanya pahit,sedih,kesal,bahagia,bahkan tersakiti sekalipun, kita harus tetap menjalaninya.
____________________________________
"Ra, gua rasa lo gak akan berhasil sama Rifky." Sekarang aku dan Nura berada ditempat yang ada dimimpi ku dan berayun bersama.
"Ya gapapa." Ia sedang berayun dan tangannya seperti ingin menggapai angin.
"Terus lo gimana?" Aku sedih dengan ini, aku tau kami berada di alam yang berbeda, bukan di dunia.
"Gua? Ya gak gimana-gimana."
"Serius Ra." Aku takut, terlalu takut kehilangan sahabat terbaikku.
"Gua serius Rif, gua udah tau kok. Dia punya gebetan kan? Ya gapapa lah, itu hak nya dia. Gua tuh cuman orang baru yang Dateng ke dalam hidup dia." Ucapnya tersenyum manis ke arahku.
"Tapi-"
"Gua gak mau ngebikin dia jadi boneka gua yang harus ada selalu sama gua, gua gak suka kayak gitu. Kesannya gua ngeharusin dia ada sama gua selalu, gak boleh sama cewe yang dia pilih. Dia punya hak, dia bebas atas pilihannya. Dan kalo pilihannya bukan gua, gua bisa apa?"
"Nura."
"Lo harus terima Rey, karna gua yakin dia orang yang baik."
"Maksud lo?"
"Rey sebenernya suka sama lo Rif."
"Gak mungkin lah." Apa katanya? Rey?
"Dia dingin selama ini karna itu. dia pacaran sama Yarren gara-gara dia denger lo Deket sama Haekal, dia gak mau ngehianatin Haekal. Tapi setelah dia tau Haekal yang bikin lo sedih, dia langsung mutusin Yarren."
Rey? Suka Padaku?
"Tapi-" Lagi ia memotong omongan ku.
"Terima dia. Gua gak ada perasaan apapun sama dia."
"Tapi lo bisa kan tetep bertahan?" Aku meraih kedua tangannya.
Ia tersenyum.
"Kalo lo gak bisa sama Rifki ataupun Rey, lo bisa kan sama ka Rasyid?"
Ia melepaskan genggaman tanganku.
"Rasyid udah ga ada."
"Maksud lo?"
"Rasyid ke Inggris bukan buat sekolah, tapi buat donorin jantung dia ke saudaranya."
"Ra? Lo bohongkan?"
"Sebenernya gua ikut nganterin Rasyid ke bandara, dan dia ceritain semuanya. Bahkan dia bilang kalo dia sayang banget sama gua, tapi dia gak bisa bertahan, karna dia juga punya penyakit leukimia. Karna itu sebelum penyakitnya semakin parah, dia milih buat donorin jantungnya ke Ka Raisa, kakaknya dia."
Apa ini tandanya ia menyerah?
"Tapi pasti ada orang lain Ra, lo gak kasian sama keluarga lo?" Aku masih membujuknya.
"Justru karna gua sayang mereka, gua mau ngasih hati gua buat Ka Reyna."
"Maksud lo?"
"Ka Reyna kecanduan sama obat, dia udah bisa sembuh. Tapi hatinya malah bermasalah, karna dia kecanduan sama obat pereda nyeri."
"Ka Reyna? Lo kenapa ga bilang?"
"Gua gak mungkin bilang,saat sahabat gua lagi sedih." Ucapnya tersenyum
Apa saat aku putus? Saat ia menghibur ku ia menutupi masalahnya? Saat aku bercerita padanya, ia memendam kisah yang rumit di dalam hatinya? Apa aku sahabat yang baik?
"Jangan nyalahin diri lo Rif, ini udah takdir." Aku menangis memeluknya.
"Maafin gua Ra, gua gak bisa jadi sahabat yang baik, gua gak bisa jadi orang yang setia dengerin cerita lo kayak lo dengerin cerita gua." Ia membalas pelukanku dan menepuk punggungku pelan.
"Gua gak nyalahin lo, gua percaya takdir."
Aku masih menangis di pelukannya.
"Takdir akan membawa kita tujuan kita diciptakan dan dibesarkan."
Aku sahabat terburuk yang pernah ada.
"Sahabat gak pernah buruk, tapi sahabat hanya melakukan kesalahan yang terlihat buruk."
"Nura."
"Lo harus bangkit dan ngadepin apa yang takdir tunjukkin buat lo. Gua gak ada bukan berarti gua gak ngeliat perbuatan lo. Mungkin lo gak akan ngeliat gua lagi, tapi gua akan selalu ngeliat lo bahkan selalu setia ada di depan lo meskipun gak keliatan."
"Lo bakalan pergi Ra?" Tidak ku lepaskan pelukan ini, malah semakin erat aku memeluknya.
"Maafin gua Rif, gua gak bisa nemenin lo lagi, gua gak bisa jadi sahabat yang baik, gua gak bisa jadi waketos lo yang bener."
"Seharusnya gua yang minta maaf Ra."
"Mungkin ini terakhir kalinya kita ketemu. Gua cuman mau bilang, gua bangga dan bahagia bisa jadi sahabat lo walau cuman sementara."
"Dan tolong urus rencana pendonoran hati gua buat Ka Reyna, bilang sama bonyok gua, gua sayang mereka selalu dan selamanya, dan makasih juga udah nyediain tempat yang spesial di keluarga mereka."
"Mereka pasti bangga ngangkat seorang anak kaya lo."
"Jadi lo udah tau?"
"Ya, gua nanya sama bunda lo."
"Tolong nanti lo ke apartemen gua, cari di lemari baju gua, ada beberapa hadiah buat kalian." Ucapnya yang berangsur-angsur memudar.
"Makasih Ra, makasih udah jadi sahabat terbaik gua."
"Makasih Rifka, karna lo udah ngebantu ngewarnain sisa-sisa hidup gua." Lalu ia menghilang.
Selamat jalan sahabat terbaikku, maafkan aku yang tak bisa menjadi yang terbaik bagimu.
Selamat jalan Diandra Uransya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Teori Hati
Teen FictionKisah Rifka seorang gadis cantik yang ceria dan terkenal di sekolahnya karna menjabat sebagai Ketua OSIS dengan prestasinya yang membanggakan serta Haekal Kapten tim Futsal yang populer dikalangan siswi Sekolahnya,dan tercatat sebagai murid dengan k...
