Sejak dua hari setelah terjadi konflik antar ayahku, aku hanya sibuk memimpin bawahanku dan berusaha membuat senjata baru,
Tanpa berbicara dengan ayah.
Lagian, aku tidak ada alasan untuk menemuinya saat ini. Dia tidak memanggilku untuk melaksanakan misinya lagi. Itu bagus, karena sudah lama aku tidak mengurusi tugas wajibku.
Kadang, disela waktu istirahatku, ingatan yang tak ku ingat sedari dulu datang tiba-tiba. Ingatan tentang diriku dan Karze, ingatan masa lalu yang kelam tentang dirinya, semuanya membuat kepalaku terasa pening.
"Uh, kolonel, sepertinya anda bekerja terlalu keras akhir-akhir ini. Lebih baik istirahat saja." Prajurit John menemuiku sedang terduduk dikelilingi sekumpulan mesin-mesin elektrik, membuat rancangan baru.
Sambil memperbaiki kaca matanya, John menghampiriku mendekat. Rasanya dia merasa khawatir karena aku tidak merespon jawabannya.
"Kolonel, dengarkan aku. Masalah yang dulu hanya akan menjadi penghambat jika terus dipikirkan. Lebih baik kau melupakannya dan pikirkan kondisi tubuhmu. Aku melihatmu sudah duduk di ruangan ini selama berjam-jam." ujarnya sambil menarik kursi kecil di hadapanku."Hhh... Aku tak tahu, hanya saja... Akhir-akhir ini aku merasa ingin melihat masa laluku." aku berhenti sejenak dan meletakkan obeng yang kupegang. "Ku rasa... Aku hilang ingatan,"
Matanya terbelengak, menatapku dengan tatapan bingung.
"Anda hanya kelelahan." lanjutnya begitu. Ia menghela nafasnya, berusaha mencari kata yang tepat intuk menghiburku, kurasa. "Kau tahu? Saat aku masih se-akademi dengan senior Karze, dia selalu mengoceh untuk tak mau bermain setelah pulang dari akademi."
Hei, dia menceritakan masa lalunya? Ini tidak biasa.
"Katanya dia ingin langsung pulang dan bermain dengan adiknya." ujarnya sambil tersenyum tipis.
"Ah, itu..." lagi-lagi bibirku terbuka kecil. Tawa mulai mengiringi ruangan yang sebelumnya sangat sepi. "Yah, aku ingat, jika dia sudah kembali, kami suka bermain di arena bertarung. Belajar menggunakan pedang dan alat latihan lainnya."
Mataku yang awalnya hanya segaris langsung melebar dan kesadaranku kembali penuh. Entah apa yang lucu, tapi aku hanya tersenyum saat melihatnya tertawa.
"Kau tahu, John? Kau benar-benar mirip dengan Karze." diriku akhirnya mengerti dengan situasi yang selama ini dia coba untuk menghiburku.
"Yah, aku anggap itu sebagai pujian," pipinya agak tersimpul memerah. "Senior Karze adalah kandidat yang paling terkenal. Sudah tampan, ahli pedang, cerdas pula."
Hei, akhirnya aku bisa juga memuji orang. Biasanya aku hanya mengatakan hal yang berbau sindiran.
Nuasanya kembali hening.
Kami saling bertatapan. Walau pun biasanya kami begini, tapi... Yang ini rasanya berbeda.
Mataku melebar seketika, langsung ku ubah sorotan pandanganku ke arah mesin yang sebelumnya ku tunda.
"Uh, apa kau baik-baik saja, Sarra?" dia malah bertanya saat aku berusaha untuk melupakannya.
Agh! Ada apa denganku?!
.
Satu hari lagi yang membosankan dimulai. Apa aku tidak memliliki tugas lain yang lebih mengasah? Bahkan sudah beberapa hari aku tidak menggunakan pedangku.
Terlebih lagi, proyek penelitian black hole yang ku ajukan tidak kunjung disahkan. Itu membuatku semakin jengkel.Lagi, aku menghabiskan sisa waktuku di ruang labolatorium putih yang tak pernah luput dari pandangan para ilmuwan. Hanya terduduk di kursi kerja sambil menatap kosong seisi meja yang terpenuhi oleh peralatan membosankan itu.

KAMU SEDANG MEMBACA
SCRYPTINUS's FLEET
Science FictionArmada Scryptinus, tempat tinggal untuk 500 jiwa yang berada di luar angkasa. Semuanya nampak normal, tidak ada masalah seperti yang biasanya terjadi di bumi. Namun, di balik semua itu, aku harus menjalani hidup yang berat. Hidup yang tidak seharus...