Chapter 8: Who is Oshoza?

21 3 0
                                    

Bukan awal yang indah untuk menjalani hariku yang biasanya. Kali ini, tepat jam 4, aku harus melihat instruksi manual untuk memindahkan armada ke tempat yang lebih aman, maksudku, menjauh dari meteor yang berada di depan. Setidaknya aku paham sedikit, tapi kalau untuk mengaturnya hingga keseluruhan, aku tidak menjamin. Lagian, armada ini kosong—kecuali dua orang pilot yang pingsan itu.

Sudahlah, ketimbang memikirkan bagaimana jadinya nanti, lebih baik jika aku mengurusi masalah satu per satu.

“Konsol bawah, lalu... RSC, OPR..., dan kendalikan,” jari-jemariku penuh keringat saat menyentuh setirnya, itu berbentuk tabung yang halus dan berada di kiri kanan.

Perlahan tapi pasti, aku memundurkan armada seberat 110.000 ton ini hanya dengan beberapa kali pijat tekanan udara. Saat posisinya sudah tepat di jalurnya, aku baru bisa menghirup udara dengan bebas.

“Hhh, selesai.” Mataku tertutup pelan, melepaskan semua keresahanku yang takut akan mengendalikan armada ini.

LOCK

Aku mengunci posisinya, agar tidak bergerak-gerak lagi. Ku pikir untuk masalah posisi, aku sudah selesai.
Nah, sekarang waktunya aku mengurus ‘mereka’ berdua.

Sejenak, aku pergi menuju mereka, memegang salah satu urat nadi yang terletak di antara lehernya.

Nadinya masih berdetak. Itu artinya mereka hanya ‘membeku’. Jadi aku menyuntikkan beberapa antibodi agar—setidaknya mereka akan tersadar, tapi tubuhnya tetap akan lumpuh untuk beberapa saat.

Tshh!

Dalam satu detik, jarum tajam itu menembus kulit mereka dan cairan hijau bening itu perlahan mengalir di antara darah mereka. Bukannya berbahaya, salah satu dari mereka terbangun dengan terkejut—bahkan aku saja terkejut.

“AGH! Huh?” nampaknya dia masih bingung, karena tubuhnya kaku dan tidak bisa bergerak. “Kolonel Sarra... KOLONEL SARRA! INI BAHAYA!”

Matanya benar-benar membulatkan ke arahku. Tentu aku berusaha untuk menyimak perkataannya. “Jika itu tentang meteor yang hampir kita tabrak tadi, tenang, itu bukan masalah lagi,” ujarku.

“Hah, kita hampir menabrak apa?” ku lihat dia malah memasang ekspresi yang bingung. “Kalau itu, aku baru tahu―tidak, bukan itu masalahnya, Kapten Oshoza... Dia datang kemari tadi!”

Sudah kuduga, ada yang tidak beres.
“Jadi mereka yang menculik semua orang,” pikirku begitu. “Mungkin mereka tidak melacakku, karena kamarku menggunakan anti radar magnet manusia. Bisa jadi,”

“Kolonel Sarra, apa yang akan kita lakukan?” ucapnya dengan nada yang rendah, seperti mulai menyerah.

Sekarang waktunya memikirkan rencana. Aku berdiri sejenak, menolak pinggangku dan berkeliling sebentar di ruang kendali pusat.

“Hhh, kalian berdua tetap disini. Sepertinya racun yang berada di tubuhmu itu akan netral dalam 10 menit lagi.” Kataku sambil melihat keluar. “Dan aku akan keluar dan mencari bantuan... Atau menyerang mereka sendiri.”

“I-itu terlalu beresiko! Kau tahu?! Bahkan seluruh prajurit kita tidak mampu menyerang mereka!”

“Mereka bisa menyerangnya, hanya saja pasti warga sipil menjadi sanderanya. Ku pikir aku akan membawa beberapa alat yang akan berguna dari sini.”

Kembali hening, aku senang karena akhinya ada waktu yang tepat untuk menguji kemampuanku yang sesungguhnya. Tapi, aku juga khawatir akan kondisi mereka.

Kini aku baru tahu betapa sulitnya membuat keputusan yang bijak, seperti Ayah.

“Dengar pak Pilot, uh, Redle. Kejadian seperti ini pernah tercantum di simulasi, kau ingat? Bedanya, orang yang selamat hanya ada 3, bukannya 20. Jadi, aku akan membuat sedikit perubahan,” dengan tenang, aku terduduk menuju ke arahnya―yang masih terbaring lemah di lantai. “Setelah tubuhmu dan temanmu itu sudah normal sepenuhnya, laporkan ini kepada pemerintah pusat. Sebisa mungkin, berikan beberapa fakta dan yakinkan sepenuhnya bahwa ini adalah ulah dari Kapten Oshoza.”

SCRYPTINUS's FLEETTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang