Medina sudah bersiap akan berangkat ke Wittenborg Unvercity untuk mencari tahu tentang Chef Remon. Ia memakai rok span panjang berwarna hitam, atasan kaos berwarna hijau tosca dan outer jaket jeans yang menutupi pinggu, tak lupa ia kenakan hijab berwarna senada dengan kaosnya. Ia mengambil tas slempang dari dalam kopernya, tas itu terbuat dari kulit buaya yang berwarna hitam. Medina memsukkan dompetnya ke dalam tas. Medina melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi. Matahari bersinar tidak terlalu terik. Kemudian Medina pun keluar dari kamar untuk menemui Moeder Aleen. Baru saja Medina membuka pintu, ia dikagetkan oleh Karel yang sudah berdiri di depannya, entah sejak kapan pria itu berdiri di balik pintu kamar Medina.
"Mam menyuruh aku untuk menemani mu ke Wittenborg Univercity, mam kurang enak badan." Ujar Karel terus terang.
"Apa aku tidak merepotkanmu?"
"Tidak. Ayo kita pergi dengan mobilku saja."
"Apakah tidak ada angkutan umum untuk ke sana?"
"Kau mau ku antar tidak?"
"Baiklah." Ujar Medina yang kemudian mengikuti Karel dari belakang.
Medina hanya tak ingin hanya berdua saja dengan Karel di dalam mobil, Medin tak terbiasa dengan hal itu. Lagi pula perempuan dan laki-laki yang bukan mukhrim tidak boleh berdua-duaan. Jika mereka pergi menggunakan kendaraan umum pasti banyak orang di sekitar mereka. Tapi Medina kembali berpikir, Ah memangnya dia dan Karel mau apa. Karel hanya berniat baik mengantarnya untuk mencari informasi tentang keberadaan Chef Remon.
"Sampai kapan kau akan terus berdiri di situ, gadis aneh."
"Hah, apa katamu?"
"Ya, kau memang aneh. Sudah, cepatlah masuk."
Medina pun masuk ke dalam mobil Karel. Karel segera menginjak pedal gas. Ia mengemudi dengan perlahan. Jalanan di Apeldoorn cukup sepi, agak berbeda dengan Jogja yang sekarang hampir padat, namun tak sepadat Jakarta. Semua orang berkendara dengan santai, banyak juga warga Apeldoorn yang memilih bersepeda atau jalan kaki. Tersedia jalur sepeda dan pejalan kaki, untuk kendaraan umum juga memiliki jalur sendir, begitu juga mobil pribadi. Semua berjalan sesuai jalurnya masing-masing. Tidak seperti di Indonesia, masih saja ada pengendara mobil pribadi yang menggunakan jalur busway..
Medina menikmati jalanan Apeldoorn yang begitu teduh, sepanjang jalan ditumbuhi pohon meranggas yang memiliki daun lebar, memiliki tulang daun seperti jari dan berwarna hijau saat musim panas. Dan pada musim gugur nanti daunnya akan menguning dan rontok.
Karel fokus pada kemudinya, sesekali pria itu melerik Medina yang sedang asyik melihat sekelilingnya. Karel juga memperhatikan wajah polos gadis itu saat tertunduk menekuri ujung sepatunya.
Medina yang merasa sedari tadi dirinya diperhatikan oleh pria disampinya itu mulai tak nyaman. Jantungnya berdegup lebih kencang dari sebelumnya. Kemudian ia melihat keluar jendela mobil, jalanan sangat sepi. Bagaimana kalau Karel tiba-tiba berniat melakukan sesuatu padanya. Gadis itu ngeri membayangkannya hingga dahinya mengertnyit dan matanya terpejam.
"Kau kenapa? Kau takut aku berbuat buruk padamu? Dasar wanita, selalu saja berpikiran buruk." Ujar Karel yang ternyata memperhatikan tingkah konyol Medina.
"Siapa yang berpikir seperti itu. Jangan asal menuduhku." Kelak Medina.
Beberapa saatkemudian Karel menghentikan mobilnya.
"Kenapa berhenti?" tanya Medina.
"Lihatlah!" ujar Karel menujuk sebuah gedung yang bertuliskan Wittenborg Univercity.
KAMU SEDANG MEMBACA
SYAHADAT CINTA DI APELDOORN (Sudah Terbit)
SpiritualTelah diterbitkan oleh Penerbit Rumedia Medina Mueeza Husain, seorang pengusaha kuliner yang memiliki cita-cita untuk melanjutkan kuliah di Wittenborg University, Apeldoorn, Belanda. Sebuah sekolah perhotelan terbaik di Belanda. Suatu ketika, ia men...
