"Pagi, Se-" ucapanku terpotong saat aku melihat ada seseorang bersama Sehun tepat di depanku, "hun."
"Pagi, Belle."
"Hai, Gladys. Kita ketemu lagi disini," sapa Daniva sumringah.
"Ah, eh, iya, Dan. Kamu udah mulai sekolah disini, ya, hari ini?" tanyaku pura-pura ramah.
Daniva mengangguk. "Iya. Seneng deh bisa satu sekolahan sama kalian."
"Iya." Aku cengengesan nggak jelas.
"Oh iya, tadi elo masuk kelas mana?" tanya Sehun pada Daniva.
"11 IPA 6."
"Oh. Belle, aku nganter Daniva dulu, ya," kata Sehun padaku.
"Gladys ikut, yuk," ajak Daniva.
Belum sempat bibirku tergerak untuk mengatakan kalau aku mau, Sehun udah keburu bilang, "Gak usah lah, kamu disini aja. Ngapain ikut."
Rasanya aku pengen jedotin kepala Sehun ke tembok.
"Yaudah, kita duluan, ya, Dys." Daniva menatapku seolah merasa bersalah. Elo memang salah, Dan, batinku.
Mereka berjalan meninggalkanku sendirian di depan pintu kelas. Aku menghela napas menatap kepergian mereka.
*
"Hun, kantin yuk," ajakku saat cacing-cacing di perutku mulai berteriak kelaparan.
"Hm?" Sehun mengangkat kepalanya. Ia dari tadi aku perhatikan hanya membaca buku. Buku yang dibacanya pun entah buku apa. Aku nggak mengerti dan nggak ingin tahu karena aku nggak suka baca. "Aku udah janji sama Daniva mau nemenin dia keliling sekolah."
"Hah?" pekikku kaget sekaligus kesal. Kenapa gadis itu lagi? "Yaudah, aku ikut."
"Ngapain? Katanya mau ke kantin. Kamu pasti laper, kan?" cegah Sehun dengan wajah datarnya.
"Aku nggak mau ke kantin kalau nggak sama kamu," ucapku yakin.
Sehun mendengus. "Jangan egois."
Aku mengerucutkan bibirku. Kenapa sih Sehun selalu mengataiku egois? Aku kan cuma ingin selalu berada di dekatnya. Apa salahnya?
Aku beranjak dari tempat duduk Sehun menuju bangkuku. Disana Rania sudah menungguku dengan senyumannya yang berarti "tuh, kan, dicuekin lagi". Ia merangkulku dan memberi semangat.
"Sabar, ya, Adys sayang," katanya. Aku mencoba tersenyum. Lalu aku berteriak pada Baekhyun, sahabatku yang lucu dan suka membuat keributan dimanapun ia berada. Ia selalu bicara tentang apa saja dan untungnya apa yang dikatakannya selalu hal-hal lucu, membuat orang-orang senang berada di dekatnya.
"Baekhyun!!!"
"Apaan?" sahutnya dari depan pintu. Ia tadi memang berencana keluar kelas. Makanya aku memanggilnya, siapa tahu dia mau ke kantin.
"Mau kemana lo?"
"Lapangan bola," jawabnya.
"Ngapain? Mau jadi cheerleader?" ledekku.
"Sialan," umpatnya dengan muka tak senang. "Nonton tanding bola lah," lanjutnya.
"Hah?" Aku mendatangi Baekhyun. "Tanding?"
Baekhyun mengangguk. "Iya. Kelas kita ngelawan kelas 12 IPS 1."
"Kok gue gak tau? Gue mau nonton juga ah. Yuk, Baek," seruku heboh sambil mengamit tangan Baekhyun. Aku keluar kelas setelah menjulurkan lidah pada Sehun yang mendengar pembicaraan kami karena ia duduk tepat di barisan paling depan dekat pintu.
Ternyata di lapangan sudah ramai penonton. Jelas saja ramai. Siswa-siswa kelas 12 IPS 1 terkenal dengan ketampanan mereka, juga dengan kemampuan mereka bermain sepakbola. Aku menyelinap di antara lautan perempuan centil disana untuk melihat pertandingan itu lebih jelas.
Walaupun aku perempuan, tapi aku selalu suka menonton pertandingan sepakbola, apalagi secara langsung seperti ini. Yah, ini tak jauh dari kebiasaan mendiang ayahku yang suka mengajakku nonton bola bareng. Sejak ayahku meninggal 2 tahun lalu, aku jarang menonton pertandingan sepakbola, bahkan hampir tidak pernah kalau aku tidak bersekolah di sekolah yang dihuni banyak pemain bola yang sering mengharumkan nama sekolah.
Aku memperhatikan setiap detail permainan bola itu. Kuakui siswa-siswa kelas 12 bermain sangat lincah dan berstrategi. Padahal ini hanya pertandingan biasa, hanya seru-seruan saat jam istirahat. Hmm, sayangnya nggak ada Sehun. Sehun nggak terlalu suka olahraga. Ia lebih suka mendengar lagu atau membaca buku. Coba aja Sehun ada disini bermain sepakbola, pasti keren banget.
"Dys," Baekhyun mencuil pundakku. Aku menoleh ke belakang. "Gue mau ke kantin ah, bosen disini. Mau ikut kagak?"
"Emm, nggak deh, Baek," jawabku. Entah kenapa rasa laparku hilang setelah menonton pertandingan sepakbola. Tak bisa kupungkiri aku sangat merindukan ayahku.
Baekhyun lalu pergi menghilang dari kerumunan. Aku kembali fokus pada pertandingan itu. Ada satu orang yang dari tadi aku perhatikan. Dia adalah Luhan, kakak kelasku dari 12 IPS 1. Bukan tanpa alasan aku memperhatikannya. Permainannya mirip sekali dengan permainan ayahku dulu. Selain menonton bola bareng, ayahku juga sering berlatih bola bersamaku. Ayahku bukan pemain sepakbola, tapi itu adalah impiannya sejak kecil yang tak pernah terwujud karena orangtua ayah tidak menyukai pekerjaan itu.
Aku terkesiap saat Luhan melihat ke arahku dan ia terlihat seperti...tersenyum? Ah, entahlah. Mungkin hanya perasaanku saja. Kami kan nggak saling kenal. Lagian Luhan sangat populer di sekolah. Kenapa pula ia tersenyum padaku?

KAMU SEDANG MEMBACA
The Closer I Get To You
FanficOh Sehun. Cowok yang bener-bener gak pedulian sama pacarnya sendiri. Cuek maksimal! Gak ada romantis-romantisnya lagi. Aku kesel sendiri ngadepin dia. Abis kalo aku ngomong, katanya dia dengerin sih, tapi masa gak ada respon? Dia itu super nyebelin...