Aku menyandarkan kepalaku ke bahu Rania. Sumpah, ya, ini rapat kapan selesainya, sih? Nggak tahu, apa, mata udah berat banget. Ini udah jam 7 malam tapi rapat nggak siap-siap.
Kami baru saja selesai melaksanakan sholat maghrib berjama'ah dengan panitia yang Muslim. Selepas maghrib kami belum juga diperbolehkan pulang. Entah apa yang dibicarakan sang ketua panitia, aku nggak terlalu mendengarkan.
Rania menguap di sebelahku. "Ngantuk gue, Dys."
"Ya, sama. Gue juga," eluhku.
"Ke toilet, yuk," ajak Rania.
Aku langsung mengangguk setuju. Sebenarnya kami nggak ke toilet. Kami cuma ingin mencari udara segar dari luar.
"Dys!" panggil seseorang dari belakang.
Aku menoleh. "Chen?" Dahiku mengernyit. Kesambet apa dia tiba-tiba memanggilku?
Ia berlari kecil mendatangiku. "Dys, ada yang mau gue omongin."
"Apaan?" tanyaku penasaran.
Chen ini adalah anak kelas XI IPA 2. Jujur aja, dulu aku sempat suka sama dia. Hampir satu sekolah tahu kalau aku suka sama dia waktu itu gara-gara Rania yang menjerit di kantin bilang kalau aku suka sama Chen. Kabar itu langsung menyebar ke telinga anak satu sekolahan. Tapi lama-lama aku berpindah hati ke Sehun.
"Gue bisa, nggak, les sama lo?"
"Hah? Maksud lo?"
Chen mengusap tengkuknya. "Iya. Gue denger elo pinter banget. Bisa, nggak, gue les sama lo?"
Rania menahan tawa di sampingku. Aku meliriknya tajam.
"Gue nggak pinter-pinter amat, kok, Chen. Mending elo cari yang lebih topcer otaknya dari gue."
"Yah, tapi nggak enak. Kan kalo sama elo udah kenal, jadi lebih nyaman belajarnya."
Aku menelan ludah. Aku jadi guru les untuk Chen? Kalau dia memintaku dulu pasti aku udah loncat kegirangan. Tapi sekarang keadaannya sudah beda.
"Nanti, deh, gue pikirin dulu, ya," ucapku.
"Oh, oke."
"Yaudah, kita pergi dulu, ya," kataku seraya menarik pergelangan tangan Rania.
Rania langsung melepaskan tawanya begitu kami tiba di depan ruang rapat. Aku menatapnya tajam. Siapa pula yang bilang ke Chen kalau aku pintar? Padahal sebenarnya biasa aja.
"Elo, kan, yang ngelakuin ini?" tuduhku.
"Bakat jadi peramal, Bu?" godanya di sela tawanya.
"Lo gila, Ran. Gue mana bisa jadi guru. Apalagi guru privat gitu."
"Pasti bisa. Kan muridnya Chen," katanya sambil menaikturunkan alisnya.
Aku mendesah. "Jadi, gue terima, nggak, tawarannya?"
"Terima, dong," jawabnya dengan nada memaksa.
Aku berdecak. "Tanya Sehun dulu, deh."
"Hehhh! Jangan bilang-bilang Sehun, dong."
"Kenapa?"
"Nggak asyik kalau dia tahu. Diem-diem aja biar seru, oke?" dikedipkannya sebelah matanya. Aku menghela napas.
"Lagian emangnya kalo lo bilang ke Sehun, dia peduli?" Rania menjulurkan lidahnya.
"Kampret!"
***
Aku meneliti wajah Sehun yang sedang serius membaca buku. Dalam hati aku berperang dengan diriku sendiri. Haruskah aku menanyakan tentang Chen padanya? Tapi Rania bilang nggak usah bilang ke Sehun. Tapi bagaimanapun, dia pacarku, kan?

KAMU SEDANG MEMBACA
The Closer I Get To You
ФанфикOh Sehun. Cowok yang bener-bener gak pedulian sama pacarnya sendiri. Cuek maksimal! Gak ada romantis-romantisnya lagi. Aku kesel sendiri ngadepin dia. Abis kalo aku ngomong, katanya dia dengerin sih, tapi masa gak ada respon? Dia itu super nyebelin...