Kesedihan Sehun

2.3K 169 4
                                    

Aku melangkah lunglai memasuki kelas. Ini udah hari ketujuh Sehun gak ada kabar. Aku berusaha mencari kabar tapi selalu gagal. Sekarang aku hanya bisa bersabar dan menunggu.

Aku memperhatikan kakiku melangkah menuju tempat dudukku. Inilah cara berjalan terbaruku. Menunduk tanpa memperhatikan jalan. Aku duduk lalu menidurkan kepalaku ke atas meja.

"Lesu banget?" kata Rania sambil mematut wajahnya di cermin.

Aku memejamkan mataku. "Berisik." Rania pun diam melanjutkan kegiatannya.

Selang beberapa menit, Rania mendadak heboh menepuk-nepuk bahuku. "Dys!!! Bangun, Dys!" serunya.

Mau tak mau aku membuka mataku. "Kalau nggak penting, mending elo simpen buat diri sendiri aja, ya," ucapku malas.

"Ih, ini memang gak penting buat gue, tau. Tapi ini super penting buat lo," balasnya.

Spontan kutegakkan badanku. Kalau Rania udah bilang itu super penting, artinya memang bener-bener penting. Mataku melebar begitu melihat punggung laki-laki itu bergerak keluar kelas. Aku hapal betul bentuk punggung itu.

"Itu..."

"Sehun," Rania melanjutkan ucapanku.

"Sejak kapan dia disitu?" gumamku.

"Gue juga nggak tahu. Tiba-tiba nongol. Tiba-tiba pergi."

Aku mengabaikan ucapan Rania karena memang aku nggak butuh jawaban darinya. Aku butuh penjelasan dari Sehun. Aku berjalan keluar kelas mengikuti Sehun. Tapi baru sampai di pintu, Devan, teman sekelas kami menghadangku.

"Dys, emang bener bokap Sehun meninggal?" katanya.

"Hah?" Mataku membulat. Mulutku melebar. Rasanya rahangku mau copot. "Kata siapa?"

"Tadi gue denger dia ngobrol sama wali kelas. Dia dimarahin gara-gara gak ngasih surat izin ke sekolah," jelasnya.

"Demi apa? Ya ampun. Makasih, ya, Van."

Aku segera berlari meninggalkan Devan. Aku menuju kantor guru, ruang BP, kantin, perpustakaan, hampir semua ruangan yang ada di sekolah, tapi tak kutemukan Sehun disana. Aku hampir frustasi. Memang, sih, aku bisa bicara dengan Sehun nanti saat di kelas. Tapi aku mau melihat keadaan Sehun pagi ini. Apakah dia baik-baik saja?

Entah dapat ide darimana, tiba-tiba saja terlintas dalam pikiranku. Kenapa aku nggak mencari ke taman belakang sekolah?

Aku berlari lagi menuju taman belakang. Napasku terengah-engah. Aku menghentikan langkahku saat melihat punggung itu di balik pohon. Aku mengusap keringat di dahiku dan mengontrol napasku kembali. Anggap aja ini olahraga. Masih pagi kok.

Aku berjalan pelan mendekati Sehun yang sedang bersandar pada pohon. Ternyata ia memejamkan matanya. Kayaknya Sehun bener-bener ada di masa yang berat. Pantas aja dia gak ngasih kabar seminggu ini.

"Sehun," panggilku pelan.

Sehun membuka matanya dan terlihat sedikit terkejut. Ia lalu berdiri tegak di hadapanku.

"Kenapa bersandar ke pohon? Kamu masih punya aku, Hun, untuk bersandar," ucapku.

"Belle.."

Entah kenapa suaranya terdengar lirih di telingaku. Aku pun berhenti berbicara dan menatapnya serius.

"Maaf, ya, aku gak ngabarin kamu seminggu ini."

Aku tersenyum. "Gak masalah, Hun. Kamu ada masalah? Aku selalu siap dengerin cerita kamu."

Sehun menatap entah kemana. Tatapannya kosong. Hatiku perih melihatnya. "Papaku..meninggal."

Aku melihat raut wajah Sehun. Ia terlihat seperti sedang menahan tangis. Nggak terasa pipiku udah basah karena airmata. Mungkin karena aku hanya diam tanpa memberi komentar, Sehun melihatku.

The Closer I Get To YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang