Daniva

3.6K 183 5
                                    

Sekolahku lagi mau ngadain pentas seni dan aku salah satu panitia acara itu. Pentas seni ini nggak dibuka untuk umum. Cuma buat persembahan untuk kakak-kakak kelas 12 yang bentar lagi tamat. Walaupun ini bukan acara besar, sekolah kami suka gila-gilaan kalo bikin acara, jadinya jadi acara besar juga, deh.

Kami lagi sibuk-sibuknya mempersiapkan acara yang bakal diadain satu minggu lagi itu. Persiapannya sudah 80 persen. Tapi tetep aja para panitia harus kerja keras. Kayak sekarang ini.

"Ran, Rania." Aku memanggil sahabatku yang sedang mengguntingi kertas krep.

"Apaan?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari kertas yang ia gunting. Aku tahu dia paling gak suka diganggu saat dia lagi serius ngerjain sesuatu. Tapi dia pernah bilang, kapanpun aku butuh dia, aku boleh manggil dia.

"Cabut, yuk! Otak gue udah panas," bisikku.

Rania berbalik padaku. "Ayuk!" Aku juga tahu dia gampang stres. Saat ini, tenaga kami bener-bener terkuras dan dia pasti lagi stres berat. Aku bisa menebaknya karena dari tadi dia gak berbicara. Dan benar, kan, buktinya matanya langsung hijau pas aku ajakin cabut.

"Entar dulu. Si Rifqi mana?" Aku celingukan mencari keberadaan sang ketua panitia yang cerewetnya minta ampun. Sekarang udah jam 5 dan kita masih dikurung di ruangan ini, membuat dekorasi untuk pentas seni.

"Dia lagi gak ada kok. Buruan, yuk," kata Rania setelah ikut celingukan.

"Eh, ada si Siti tukang ngadu. Gimana, dong?"

"Ribet banget, yak, mau keluar aja. Udah, ah, yuk."

Rania bangkit dan aku mengikutinya berjalan menuju Fadhil, si wakil ketua.

"Dhil, kita berdua permisi pulang, yah. Si Gladys, nih, dari tadi ngeluh perutnya sakit mulu. Biasalah, masalah perempuan," katanya pada Fadhil.

"Ah, iya nih, Dhil. Sakit banget." Aku memegang perutku, pura-pura menahan sakit.

"Masa, sih? Gak percaya gue," kata Fadhil.

"Iyalah, elo cowok, bego."

"Hadeh, dasar cewek. Yaudah, sana, gue izinin."

Aku hampir memekik kesenangan tapi Rania buru-buru memelototiku.

"Oke. Thanks, Dhil," ucap Rania.

Aku dan Rania pergi ke sebuah restoran fast food kesukaan kami untuk mengisi perut kami yang butuh pemasukan. Letaknya gak begitu jauh dari sekolah. Tapi tetap harus naik mobil Rania juga, sih.

Aku memesan chicken fillet dan segera menghabisinya saat itu juga. Saat aku hendak menyeruput black soda-ku, mataku rasanya mau copot.

"Ran!!!! Itu siapa, Ran????" kataku panik sambil menunjuk dua orang di pojok sana.

Rania menjilati saos di bibirnya lalu berkata, "Siapa? Mana?" Ia mengikuti arah telunjukku. "WHAT?!"

"Itu siapaaaaaa?" tanyaku histeris.

"Mana gue tahu, Dys. Ngapain dia sama cowok lo?"

"Kalo gue tahu ngapain gue kaget, goblok. Samperin, yuk."

Aku bangkit dan menghampiri meja Sehun dan cewek gak dikenal itu. Cewek itu cantik. Gayanya juga keren. Tapi aku udah netapin bahwa dia adalah salah satu cewek yang harus dihindarin dari Sehun. Gimana kalo nanti Sehun suka sama dia? Atau jangan-jangan Sehun memang udah suka sama dia? No!!!

"Sehun, kamu kok di sini? Ini siapa?"

Sehun terlihat santai melihat kedatanganku yang tiba-tiba. "Oh, hai, Belle. Kamu juga kok di sini?"

"Ini siapa?" tanyaku tanpa menjawab pertanyaan Sehun yang aku yakin cuma basa-basi.

"Ini temen masa kecil aku namanya Daniva. Daniva, kenalin ini pacar gue namanya Gladys."

Daniva berdiri dan menyalurkan tangan kanannya. Ia tersenyum manis. "Hai, Gladys."

Aku memaksakan senyuman dan menyambut tangan Daniva. "Hai, Daniva."

*

"Hun, serius banget?"

Aku menggoda Sehun yang sedang membaca buku. Dia mengangguk. Aku menelusuri setiap lekuk wajah Sehun. Dia serius banget sampe nggak ngeladenin aku yang dari tadi duduk di sampingnya.

Sehun melirikku. Ah, akhirnya berhasil. "Ada apa?"

"Kamu sama Daniva temenan sejak kapan?"

"Sejak SD kelas 3. Dulu tetanggaan, tapi dia pindah ke luar negeri," jawabnya, masih menatap lurus ke buku.

"Hah? Lama banget," gumamku. "Dia tahu banyak tentang kamu, dong?"

"Kenapa?" Sehun menatapku.

"Nanya doang, sih." Aku memainkan ujung lengan seragam Sehun.

"Oh, iya, Belle. Daniva bakal sekolah di sini, loh," ujar Sehun.

"Hah?!" Mataku melebar.

"Lebay, deh." Sehun kembali menatap bukunya.

"Gak bisa gitu. Dia bakal sekolah di sini berarti kalian bakalan sering bareng."

"Hmmmm," Sehun bergumam tak jelas.

"Ihhh, Sehun. Kamu gak akan ninggalin aku, kan?"

"Emmmm..." Sehun sok mikir.

"Sehun!!!" teriakku sambil menariki lengan seragamnya.

"Ah, iyaiya. Aku gak bakal ninggalin kamu kok," katanya pada akhirnya.

"Kamu jangan deket-deket Daniva, ya?"

"Gak janji, deh." Sehun mengangkat bahu.

"Sehun!!!!" Aku menariki lengan seragam Sehun lagi.

"Ih, berisik!"

Sehun tiba-tiba mengecup pipi kananku. Semua terjadi begitu cepat. Aku mematung di tempat. Aku gak percaya Sehun baru aja menciumku. Ini pertama kalinya Sehun menciumku. Sehun menciumku. Pacarku yang cuek menciumku setelah beberapa bulan berpacaran.

"Sehun, kamu kok...." ucapku tanpa menggerakkan satu bagian dari tubuhku.

Sehun kembali menatap bukunya. "Biar kamu diem. Berisik banget. Aku jadi gak konsen."

"Oh."

Cuma itu yang bisa aku katakan.

Sehun, kamu gak tau gimana senengnya aku hari ini. Kejadian yang cuma sepersekian detik itu mampu ngilangin ketakutan aku akan kehilangan kamu. Ternyata kita memang pacaran, ya. Aku dan kamu.

The Closer I Get To YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang