This Ain't Right

2.2K 148 11
                                    

Saat ini sedang jam pelajaran kelima yang diisi pelajaran menggambar. Pak Guntur membantu beberapa murid yang kesulitan dan lainnya hanya membuat keributan yang dianggap biasa saja oleh Pak Guntur. Beginilah suasana saat pelajaran kesenian. Hanya beberapa saja yang tertarik dan mau menyelesaikan tugas. Sebagian besar meremehkan mata pelajaran ini dan menggunakan sistem last minute dimana mereka akan mengerjakan tugas di menit-menit terakhir.

Aku menatap buku gambarku yang masih polos tak bergaris. Bukannya aku malas atau nggak bisa gambar, aku cuma kasihan kalau harus menyoret kertasnya. Aku menoleh ke Rania, ia juga sibuk menggambar dengan pensilnya yang kira-kira sudah tinggal 8 cm lagi lalu menghapus hasilnya, memulai lagi lalu menghapus lagi, begitu terus secara berulang.

Aku memindahkan pandanganku ke barisan paling depan dekat pintu dimana punggung Sehun menghadapku dengan tegapnya. Tanpa sadar, aku berdecih jijik. Entah kenapa, aku tak suka melihat Sehun sekarang. Menatap wajahnya aja aku malas. Yah, walaupun ia memberiku bunga beberapa hari yang lalu, tapi bunga itu malah bagaikan racun yang membunuh rasa sayangku padanya.

Aku nggak tahu apa aku memang nggak sayang lagi atau aku cuma butuh waktu untuk memperbaiki hubungan kami. Aku punya prinsip: selama masih bisa diperbaiki, kenapa mesti dibuang? Dan aku masih memegang teguh prinsip itu sampai Sehun tidak meminta maaf atas kesalahannya.

"Ihh, ngeselin banget sih jangka!!! Masa gak bisa bikin lingkaran sempurna, sih?" gerutu Rania sebal yang berhasil membuatku kembali ke alam sadarku.

"Masa sih gak bisa?" tanyaku sambil meraih jangkaku yang dipinjam olehnya. Aku memeriksa jangkaku dan beberapa detik kemudian menemukan masalahnya. Ternyata jangka itu masih longgar dan belum diketatkan sehingga saat digunakan ukurannya berubah-ubah.

Aku menyerahkan jangka itu pada Rania. "Gini doang."

"Yeay! Makasih, Adys," ucap Rania lalu lanjut menggambar.

Aku masih duduk sambil bertopang dagu. Bosen banget sih. Tiba-tiba ponselku bergetar seolah mengerti keadaanku yang sedang bosan.

Chen

Hi Glad. Wanna skip the class with me? Otakku panas nih

Aku mengerjapkan mataku. Dia nggak lagi salah kirim, kan? Jemariku mulai mengetik balasan untuknya.

Ini serius?

Aku mengetukkan jariku ke meja sembari menunggu balasan dari Chen. Dia datang di waktu yang pas banget. Aku emang lagi gak mood belajar. Cocok deh dia ngajak aku cabut. Sekali-kali nggak apa-apa, kan?

Lo ambil IP sekarang. Gue tunggu di mobil. See you

Mataku membesar. Seketika aku menjadi gugup. Sejarahnya aku nggak pernah izin pulang saat jam pelajaran. Kalau sakit, palingan juga numpang tidur di UKS. Aku memutar otakku.

"Ran," panggilku mengganggu konsentrasi Rania. "Gue IP, ya?" aku meminta izinnya terlebih dahulu.

Tangannya yang tadinya sibuk menggambar langsung berhenti dan ia menatapku dengan bola mata hampir keluar. "Kenapa? Elo sakit?" tanyanya cemas sambil meraba keningku. Cepat-cepat aku menepis tangannya.

"Ih, bukan, tau. Gue bosen belajar," jawabku ringan lalu menyengir kuda.

"Gue ikut kalo gitu," cetusnya.

"Eh, jangan!" cegahku cepat. "Eh, maksud gue, ketauan banget dong bohongnya kalo dua orang sebangku IP." Aku memang nggak mau memberi tahu Rania karena pasti ia akan menghujaniku dengan seribu nasihat yang udah pernah dikatakannya.

Rania memicingkan matanya lalu mulai menelusuri seluruh tubuhku dengan tatapannya. "Mencurigakan," katanya.

"Apaan, sih. Gue pengen tidur di rumah dengan damai, tau?"

The Closer I Get To YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang