Aku menarik napas dalam-dalam.
"Hun, keluar bentar, deh. Aku mau ngenalin kamu sama seseorang," kataku.
"Siapa?" Sehun mengernyit. Ia keluar dari mobilnya lalu celingak-celinguk. Aku menariknya ke mobil Luhan. "Siapa, sih?"
Aku mengetuk kaca mobil Luhan. Tak lama kemudian, Luhan keluar dari mobilnya dengan lipatan di dahinya.
"Hun, kenalin, ini Luhan," ucapku pada Sehun. Sehun menatapku heran. Mungkin heran kenapa aku bisa kenal dengan anak populer ini dan aku memanggilnya dengan nama aja.
"Tau," desis Sehun pelan.
"Han, ini Sehun, pacarku," kataku lalu tersipu malu.
Luhan dan Sehun bersalaman. Sementara Sehun menatapnya datar, Luhan malah menyeringai dengan ramah. Aku menyikut lengan Sehun pelan. Barulah bibirnya tersungging ke atas sedikit.
"Han, kayaknya aku pulang sama Sehun aja, deh. Nggak apa-apa, kan?" ucapku hati-hati. Aku memutuskan untuk pulang bareng Sehun. Siapa tahu ini kesempatan sekali seumur hidup? Eh, amit-amit, deh, kalau cuma sekali.
Luhan terlihat santai menanggapiku. "It's okay. Hati-hati, ya. Hun, jagain Adys."
Sehun mengangguk. Luhan menepuk lengan Sehun lalu berpamitan.
"Maaf, ya, Han. Lain kali kita main bareng, oke?"
"Sip. Aku balik duluan, ya. Bye!" "Bye!"
Mataku mengikuti mobil Luhan yang bergerak keluar sekolah. Sehun berdeham pelan. Aku tersenyum menatapnya. Hari ini Sehun jadi cowok idaman banget, deh. Dia memang nggak banyak omong, tapi dia ngelakuin banyak hal. Nggak banyak-banyak amat, sih, tapi itu kemajuan yang bagus, kan?
"Apa?" tanya Sehun karena aku masih menatapnya.
Aku menggeleng. "Bukan apa-apa."
Sehun berjalan ke mobilnya tanpa berkata apa-apa. Aku mengikutinya dan duduk di sebelah kursi pengemudi. Sehun tampak serius memperhatikan jalan.
"Kamu mau tau sesuatu, nggak?" tanyaku memecah keheningan.
"Apa?" tanya Sehun masih melihat ke depan.
Aku menarik napas, siap untuk menceritakan semuanya. "Ternyata, Luhan itu mantan tetanggaku. Dulu, aku sama Luhan deket banget kayak kakak-adek. Tapi dia pindah nggak tahu kemana. Dan takdir mempertemukan kami kembali! Aku seneng banget, Hun," seruku semangat.
Sehun mendesis. "Nggak usah lebay."
"Orang seneng dikatain lebay," gerutuku. "Payah, deh, cerita sama kamu." Aku melipat tanganku di depan dada.
Meskipun Sehun nggak pernah ngasih komentar yang bagus, tapi aku selalu cerita sama dia kalau ada apa-apa. Aku nggak bisa menahan mulutku buat nggak cerita ke dia. Aku nggak terlalu peduli dia beneran dengar atau nggak. Yang penting, aku selalu jujur sama dia dan nggak ada yang aku tutupin.
"Aku nggak bisa diajak cerita. Nggak kayak Luhan. Ya, kan?" Sehun melirikku.
"Tuh, tau. Mendingan aku cerita ke Luhan."
"Tapi, kan objek yang lagi diceritain itu si Luhan," kata Sehun.
"Oh, iya." Aku nyengir.
***
"Sehun~" seruku riang sambil mendaratkan tubuhku ke bangku di sebelah Sehun.
Aku membawa bekal spesial untuk Sehun. Isinya cuma dua sandwich, sih, tapi itu spesial karena aku bikinnya dengan kedua tangan aku tanpa bantuan orang lain. Aku bukan gadis yang pintar memasak, tapi demi Sehun aku belajar cara membuat sandwich. Aku memilih sandwich karena langkah-langkahnya nggak ribet dan bahan-bahannya juga mudah didapat.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Closer I Get To You
FanfictionOh Sehun. Cowok yang bener-bener gak pedulian sama pacarnya sendiri. Cuek maksimal! Gak ada romantis-romantisnya lagi. Aku kesel sendiri ngadepin dia. Abis kalo aku ngomong, katanya dia dengerin sih, tapi masa gak ada respon? Dia itu super nyebelin...