Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Hemm ayahku tidak mungkin melakukan hal sekotor itu, Oppa perkataanmu tadi benar-benar tidak masuk akal." ucap Suzy yang tidak percaya padaku
"Aku akan memberikanmu bukti yang sebenarnya, mulai dari sekarang jangan menyakiti Hyo Joo lagi berjanjilah padaku" pintaku penuh harap
"Oppa ini tidak adil...!!" tolaknya
"Mianhe Suzy, mianhe..." ucapku
Suzy begitu marah padaku dia pergi dengan perasaan kesal atas perkataanku tadi. Setelah kamu tahu semuanya mungkin kamu akan mengerti.
***
"Hyo Joo~ssi gweanchanayo?" tanyaku saat melihat Hyo Joo mengusap pipinya yang mulai memerah.
"Pipiku sakit" rintihnya
Aku segera berjalan menuju dapur membuka kulkas dan mengambil beberapa es batu untuk mengompres pipi Hyo Joo yang mulai memerah.
"Ini akan sedikit mengurangi sakitnya, mianhe" ucapku yang begitu merasa bersalah.
"Oppa aku harus bagaimana? Apa aku harus meninggalkanmu?"
"Andwae.. Kamu tidak boleh kemana-mana" jawabku
"Bahkan aku sendiri tidak tahu apa kamu mencintaiku atau tidak" jawabnya
" saranghae, Hyo Joo~ssi saranghae" kataku sembari ku pegang tangannya
"Apa kamu serius??" tanyanya
"Aku serius, percayalah.." jelasku
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kali ini aku ingin terus berjuang mempertahankan perasaan ini, perasaan yang semakin hari semakin tumbuh seiring berjalannya waktu. Aku terbiasa dengannya, mulai mengenal sikap dan sifatnya. Jujur aku mencintainya.
"Oppa kamu mulai membuatku malu lagi" ucap Hyo Joo sembari menutup mukanya dengan kedua tangannya
"Ahaha,, kamu lucu sekali. Aigoo jantungku berdetak semakin kencang" ucapku jujur
"Jin-jjayo?? Oppa kamu merasakan apa yang aku rasakan sekarang?" tanyanya
Aku menuntun tangan Hyo Joo untuk menyentuh dadaku