Jantung berdegup kencang
Gemetar tangan memegang stir
Memandang sekeliling, panik terasa
Manuel, sesekali menatap layar ponselnya. Tak ingin salah jalan menuju rumah seseorang.
Terik matahari belum terasa. Jam digital terpampang di arlojinya baru menunjukkan jam sepuluh pagi. Detik kian detik berjalan, seiring juga mobilnya dengan pelan memasuki sebuah jalan kecil.
Tiap rumah ia telusuri. Tidak ada ciri rumah yang ia cari. Gadis ini tidak berbohong bukan?
"Nic, ini alamatnya."
"Jalan Mahkota 3, nomor 12. Warna rumahnya kuning."
"Oke."
"Jangan lupa ya Nic. Sampai ketemu besok,"
"See you tommorrow."
Manuel memberhentikan mobilnya di depan sebuah rumah. Lagi ia perhatikan layar ponselnya. Rasanya benar. Rasa debar jantungnya kali ini tertuju untuk menemui gadis ini.
Tak mau berlama-lama menunggu -apalagi jalan sempit, jika ada mobil lain melintas bakal repot banget- ia mengusap layar ponselnya kebawah.
"Line, gue udah di depan rumah lo,"
Ia kembali memandang rumah itu. Ponselnya ia tinggalkan di atas dashboard mobil, terbiarkan untuk terjemur sinar matahari. Ia biarkan pula ponselnya sampai layarnya mati sendiri.
Ponselnya berdering. Yakin, pasti dirinya yang membalas.
"Oh.. bentar ya Nic. Hehe,"
Pandangannya tak lepas dari rumah itu. Tidak perlu menunggu waktu terlalu lama, seorang gadis keluar. Berpakaian rapi, memakai sebuah gaun mini berwarna biru. Penampakannya cukup sibuk dan sedikit terburu-buru.
Gadis itu lalu mengunci rumah, melangkah dengan tangan amat repotnya memegangi dua tas. Sebuah tas kecil, seperti kotak pensil, dan sebuah tas kecil yang biasa dipakai cewek untuk berpergian.
Ia di depan rumah, yang sudah ditemui Manuel. Ia juga melihat rupa mobil Agya yang kecil, masih menyala mesinnya.
"Yang mana yak, bodoh banget gue gak nanya mobilnya yang mana," gumamnya terdengar kecil dari balik mobil.
Manuel - serontak membuka salah satu kaca mobilnya. "Disini Line. Sorry gue gak kasih tahu," ucapnya tertawa kecil.
Adeline, gadis sahabat SMAnnya meliriknya sejenak. Ini Manuel toh?
"Ohh.." tawanya. "Gue kira lo nunggu di depan jalan gede sana," Ia lalu membuka pintu, dan masuk bergabung dengan Manuel.
"Kesana kan jauh Line." Lirik Manuel kebelakang. "Lagian lo kan kasih tau juga mana rumahnya. Sekalian aja,"
Gadis itu menarik nafas. Lega setelah berburu-buru ria. Sejenak, setelahnya ia menarik sabuk pengaman.
Tidak perlu berlama juga, Manuel menjalankan mobilnya. Perlahan. Perlahan pula ia mencuri pandang gadis disebelahnya. Wajahnya tak jauh berbeda saat masih SMA. Tetap memikat hatinya. Bahkan terkesan lebih baik.
"Gue bangun kesiangan tadi," awali Adeline. "Jam setengah sepuluh gue baru bangun,"
"Lo gak masang alarm ya?" Balas Manuel. Ia berusaha tetap santai disebelah gadis ini.
Adeline mengangkat pundaknya. "Ya begitulah. Gue kalo Sabtu gak masang alarm." Ia lalu memandang Manuel sekilas sambil tersenyum kecil. "Dan gue lupa ada janji lo jam sepuluh pagi."
"Untung kagak batal,"
Senyumnya melebar. "Iya sih. Tadi gue lihat jam , kaget, langsung mandi."
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Cinta Tapi Malu
RomanceMencintai sahabat SMA tetapi malu diungkapkannya sampai ia berkuliah. Pengalaman yang dialami pemuda kuliah bernama Manuel. Nama Adeline selalu terbayang saat ia duduk di jenjang bangku SMA. Tetapi dirinya yang malu, memaksanya memendam kata hatiny...
