Lelah, rasanya ingin kubalas malam ini.
Sejuk hawa malam sedikit menggigit kulit. Terang cahya lampu pergedungan, terlihat dihadapannya. Penghuninya telah terlelap dalam tuaian mimpi indah.
Ia lalu menaiki tangga. Sweater biru ada di pundaknya. Tatapannya tertuju pada setiap anak tangga yang dinaiki. Menahan rasa kantuk berat, dihari yang amat menyibukkan.
Sesekali, nafasnya ia tarik panjang. Lift diwaktu kala menjelang larut malam, tak mau dioperasikan lagi. Entah gedung ini tidak ingin membayar listrik mahal, hanya untuk kenyamanan penghuninya.
Sampai di lantai yang dituju. Senang, rasa penat dari menaiki puluhan anak tangga terbebaskan. Pria itu melangkah pelan menuju sebuah ruang apartemen, sedikit memojok dari lorong.
Tangannya merogoh anak kunci di kantong celana. Diantara berlembar-lembar uang dan struk pembelanjaan. Sedapatnya, ia langsung memutar anak kunci itu di pintu, dan membukanya. Kembali menguncinya setelah ia masuk ke dalamnya.
Terang lampu ia nyalakan. Alas kaki ia lepas, sedikit malas untuk merapikannya. Hanya ia tata disamping pintu. Langkahnya ia percepat dan langsung membanting tubuhnya di kasur.
Akhirnya...
Nafasnya tertarik kencang. Matanya terpejam sejenak. Tubuhnya ia renggangkan, dari rasa pegal yang mengikat.
Ponselnya berbunyi singkat. Siapa lagi yang ingin mengganggu kenikmatan hakiki ini?
Ia meraih ponsel, disisi kantong kanannya. Tidak cepat ia membuka kata sandi, dan notifikasi ponselnya.
"Noel,"
Gadis yang menciumnya tadi. Rasanya memang benar, gadis ini mencintai dirinya. Tapi enggan pula ingin mencintainya.
"Iya Vil."
"Tidur udah malem. Lo udah banyak nguap tadi,"
"Mati,"
"Mati?"
"Ini bukan arwahnya kan?"
"Males tidur,"
"Ooh"
Ia, bernama Manuel, langsung bangkit dari kasur. Melepas rasa nyamannya di alas yang berupa kapas isinya. Sepertinya lebih nyaman lagi jika ia selesai membersihkan diri.
♧
Wajahnya ia usap menggunakan handuk kecil. Berpakaian santai, sejuk dengan suasana AC, dan bercahaya lampu kecil. Lebih nyaman lagi bukan?
Manuel meraih ponselnya. Ia sempat biarkan berdering beberapa kali. Dan ia tahu, yang mengontak dia itu hanya Viletta doang.
"Noel,"
"Yah lo udah tidur yah,"
"Kalo gitu Goodnight deh,"
Ingin rasanya tidak membalas ucapannya, tapi pikirnya, tidak membalaspun ia tahu, dirinya telah membaca.
"Blom tidur sih, hehe,"
"Sbb abis mandi Vil,"
Secepat kilat menggelegar di siang hari, gadis itu membalasnya. Putus asa, ditinggal tidur gebetan kesayangannya, tadinya...
"Kok mandi malem-malem sih," balasnya diselingi stiker. Tak diduga sebelumnya.
"Ya memang kenapa? Kan gak lucu bau Vil,"
Ketikannya langsung dibaca. "Ah elah, apartemen lo ada siapa emangnya?"
"Ya kan gak enak aja gak mandi Vil."
"Iya deh ckckckck,"
Manuel menarik selimutnya. Membiarkan ponselnya tetap ia pegang, disisi tangan kirinya.
"Udah ah, lo ngantuk juga kan?" Sambungnya.
"Iya Vil."
"Okelah. Gue off juga ya Noel,"
"Oke. Selamat tidur," tutup Manuel. Ia langsung mematikan layar ponselnya.
Ponselnya ia letakkan di meja sebelah kasurnya. Sekilas sempat berbunyi. Pria itu lalu menyalakannya, dan hanya melihat pesan singkat yang tergantung di panel terkunci ponselnya.
Viletta mengirim stiker.
"Tidak perlu tahu isinya apa. Pasti selamat tidur."
Ponselnya ia letakkan Selimut yang telah menghangatkan sebagian tubuhnya, ia naikkan lebih tinggi lagi. Matanya ia pejamkan perlahan. Kali ini ia ingin benar-benar agar matanya tertutup hingga esok pagi.
♧
Ah gila rasanya, suara telepon tengah malam!
Bukan mimpi!
Manuel, langsung meraba-raba meja disamping kasurnya. Apapun ia raba, tapi ia tidak banting. Terlalu sayang jika gelas, lampu tidur dan ponselnya semua ia banting ke lantai.
Ponselnya bergetar. Amat kencang. Bukan alarm yang ia pasang.
Nomor yang tidak dikenal. Tidak pernah ia tahu sebelumnya.
"Haloo.."
"Halo Nic. Ganggu ya..?"
Manuel menjauhkan ponselnya dari telinga. Siapa perempuan berani menelpon tengah malam? Atau.. hiih
"Nggak. Ini ngomong-ngomong siapa ya?"
"Ini Adeline Nic. Haha," ucap sosok itu sambil tertawa dalam telepon.
Manuel bangkit dari kasurnya. "Oh elo. Lah gue kiran siapa gitu nelpon malem-malem, cewek, kan serem,"
"Ooh.. pasti tempat tinggal lo serem. Sorry ya bikin lo merinding. Hehe..."
"Gak masalahlah. Yang penting orangnya real ini, bukan sosok palsu," Manuel berdiri dari kasurnya, melangkah membuka pintu apartemennya. "Oh ya, ada apa Line nelpon gue malem-malem gini?"
"Gue mau nanya aja. Sabtu bisa kan?"
Pria itu lalu berdiri di balkon apartemennya, sambil bersender pada pegangan. "Iya Line. Gue bisa. Cuma gak bisa sampe malem aja,"
"Ya gak papa. Daripada gue sendirian gitu.. Yaudah deh. Jadi fix ya..."
"Iya Line. Tapi lo mau dimana? Gue sih ikutin aja,"
"TA Nic. Gue jarang kesitu,"
Manuel lalu duduk di kursi teras balkonnya. "Oh yaudah. Mau jam berapa? Ketemuan disana atau gue jemput lo?"
"Jemput? Yakin lo?"
"Iya, gue bawa mobil ntar jemput lo. Daripada lo keluar duit lagi. Sekalian aja. Kalo di mall tar nyari lagi,"
"Oo oke deh. Jam 10 aja kerumah gue berarti. Nanti gue kirim alamatnya ya, ke PC Line lo."
"Oke Line.
Oh ya, lo belom tidur gitu, udah larut gini,"
"Blom. Biasa gue kadang-kadang larut tidurnya. Dan gue nelpon lo karena gue inget aja ada janji, keburu gue lupa kalo besok-besoknya,"
"Ooo.. " angguk Manuel. Sebenarnya tidak berarti anggukannya.
"Udah dulu ya Nic. Pulsa gue habis ntar,"
Manuel berdiri lagi. "Oke deh. Jangan lupa alamatnya. Tar gue nyasar aja,"
"Iya Manuel. Oke, selamat malam"
"Selamat Malam.... nona cantik."
Sepatah kata bisikan yang tidak terdengar gadis itu. Ah senangnya bisa mendengar suara gadis itu, lagi, setelah sekian lama tidak mendengarnya. Lembut, karismatik.
Manuel mengunci pintu balkonnya yang terbuat dari kaca. Kembali ia berbaring pada kasur empuknya, melanjutkan tidurnya.
Pemuda itu tidur dengan senyum bahagia dalam tidurnya..
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Cinta Tapi Malu
Storie d'amoreMencintai sahabat SMA tetapi malu diungkapkannya sampai ia berkuliah. Pengalaman yang dialami pemuda kuliah bernama Manuel. Nama Adeline selalu terbayang saat ia duduk di jenjang bangku SMA. Tetapi dirinya yang malu, memaksanya memendam kata hatiny...
