Aku sedang badmood.
Yang pertama, untuk tugas kelompok sejarah yang tidak mementingkan sisi kemanusiaan. Ralat, bukan tugasnya yang jadi masalah, namun teman-teman sekelompokku lah yang tampaknya sudah tak punya rasa kemanusiaan. Pasalnya, tugas ini berbunyi 'diskusikanlah bersama teman sekelompokmu mengenai persebaran manusia purba di Nusantara' dan disaat kuajak mereka berdiskusi, mereka dengan entengnya menjawab 'cari di Google aja' lantas mengalihkan fokus pada ponsel masing-masing.
Bukannya aku sok suci atau apa, tapi kalau nanti ketika presentasi kami terbengong-bengong karena hanya asal salin saja, bagaimana? Lagian ngapain sih, capek-capek menyalin Google kalau nggak mengerti materinya? Bukannya lebih bagus jika kami diskusi sungguhan hingga paham, supaya tidak perlu belajar terlalu berat bila ada ulangan? Ah, aku pusing dengan pemahaman mereka.
Yang kedua, untuk kabar jadiannya Adhi dan Tantri. Jangan salah sangka dulu, Aku bukannya cemburu. Aku hanya merasa tidak dianggap sebagai temannya. Ia tidak melibatkanku dalam proses itu sama sekali. Tidak menceritakan padaku, tidak meminta pendapatku, tidak mengabariku. Kan sebagai teman, aku jadi tersinggung. Bahkan hingga saat ini, kabar jadiannya mereka hanya kudengar dari Aisha tadi pagi dan gosip-gosip seperti yang dihadapanku ini.
"Eh, baru dua hari masuk, Tantri kok udah jadian aja ya sama Adhi?"
"Mereka kan sekelas juga waktu MPLS. Katanya sih, dari situ udah dekat." Itu suara Tiwi dan Cyntia yang saat ini menjadi teman sekelompokku. Bersama Zetta, mereka sudah resmi menjadi biang gosip kelas ini.
"Tapi kemaren, gue sempat lihat si Adhi ke sekretariat terus ke kantin bareng Davina, loh!" Cynria menaikkan satu alisnya, lantas mereka menatapku. "Kok bisa sih, Dav?"
Wajahku sudah terlipat sepuluh ketika mereka bertanya demikian. Membuatku melemparkan dua lembar kertas yang sudah kupenuhi tulisan tanganku ke tengah-tengah meja diskusi kami. "Nggak tahu, tuh! Coba lo tanya aja sama Pitechantropus erectus, mungkin dia tahu."
Martin yang juga teman sekelompokku mengalihkan fokusnya dari ponsel dan terbahak spontan. "Lagian lo berdua tuh, udah nggak bantuin, malah nanyain topik yang bikin si Davina cemburu." Aku menatap Martin dengan sorot tertajamku tepat di maniknya. Dua puluh detik, kuputuskan bangkit dan kembali ke bangkuku. Aku nggak cemburu!
Lalu bel istirahat berbunyi dan tugas itupun dikumpulkan.
"Davina, makan bareng di kantin, yuk! Gue traktir." Itu suara Adhi. Ia berkata demikian sambil memamerkan senyum pepsodent-nya. "Nggak ah. Gue lagi kesel."
"Sama gue, ya? Gara-gara gue nggak ngasih tahu lo secara langsung kalo gue jadian?" Oh Tuhan, kenapa cowok satu ini sangat peka. "Baguslah, lo sadar." Diluar kendali, intonasiku lebih kasar dari yang kuekspektasikan.
"Makanya ayo makan bareng, Davina. Biar gue jelasin semuanya. Sekalian pajak jadian juga, hehehe." Aku mendengus, tapi menurut saja ketika dia menarik lenganku ke luar kelas. Sebelum akhirnya aku menyadari sesuatu dan menyentak genggamannya di lenganku hingga terlepas.
"Kenapa?" Tanyanya kalem.
"Tantri nggak bakal marah?" Entah kenapa, aku lebih memilih mengucapkan 'marah' ketimbang 'cemburu'. Adhi menggeleng singkat, "dia juga sedang traktir temannya. Masa' gue nggak boleh traktir teman gue?" Aku mengedikkan bahu, gontai. Baiklah kalau begitu.
Setelah memesan makanan kami masing-masing dan menemukan tempat duduk, aku langsung membuka percakapan diantara kami. "Jadi, apa yang perlu lo jelaskan ke gue?"
"Kemarin Tantri nontonin gue latihan taekwondo sampe selesai. Terus begitu latihannya kelar, dia nembak gue. Gitu." Ekspresi Adhi datar, tanpa rona bahagia atau apalah khas orang baru jadian.
KAMU SEDANG MEMBACA
[Bukan] Semenjana
Novela JuvenilAku ini anak biasa, hidup di keluarga yang biasa, dan memiliki pergaulan yang biasa. Ya, semua yang ada di hidupku rasanya semenjana. Terlalu biasa saja. Lalu semua terasa berbeda, ketika aku masuk SMA. Tidak ada lagi hari-hari yang terlalui denga...
![[Bukan] Semenjana](https://img.wattpad.com/cover/116694237-64-k515461.jpg)