Chapter 13

7 0 0
                                    

Winwin langsung di larikan ke rumah sakit malam itu ketika ia tidak sadarkan diri. Ia langsung di periksa oleh dokter, karna mendapat informasi dari laki laki yang mengantar winwin bahwa kepala winwin terbentur, dokter langsung melakukan pemeriksaan lengkap termasuk CT scan kepala. Dan hasilnya ada pendarahan otak ringan di kepala winwin dan dokter langsung menyarankan untuk melakukan operasi, dokter pribadinya winwin, dokter jae jin yang kebetulan bekerja di rumah sakit itu dan mengetahui kondisi winwin, juga langsung mengajukan diri untuk menjadi wali winwin dan langsung menyetujui operasi tersebut. Operasi malam itu berjalan lancar.

Keesokan harinya winwin belum juga sadarkan diri, tapi kondisinya sudah membaik dari semalam, dokter jae jin terus mengecek keadaan winwin menanyakan dengan perawat bagaimana kondisinya sampai akhirnya winwin siuman, perlahan ia membuka matanya awalnya pandangannya buram tapi semakin lama semakin jelas dan ia melihat dokter jae jin di sampingnya
"Kau sudah sadar, nak ?" Tanya  jae jin lembut, winwin hanya mengangguk lemah, jae jin tersenyum lega
"Baiklah aku akan memanggil dokter yang memeriksa mu" lanjutnya lagi dan kemudian ingin berbalik, tapi
"Dok.." panggil winwin, jae jin menengok ke arahnya
"Tolong jangan beri tau orang tua ku" pinta winwin lemah
"Orang tua mu harus tau, nak" kata jae jin lembut
"Tolong dok" kata winwin lagi, jae jin menghela nafas
"Baiklah, kalau begitu aku akan memanggil dokter yang memeriksa mu dulu" kata jae jin lalu berbalik, tidak lama dokter yang memeriksa winwin datang di ikuti dengan jae jin di belakangnya dengan dua orang perawat

"Dia sudah membaik, aku rasa tidak akan ada cacat fisik yang di alaminya" kata dokter yang memeriksa winwin sambil tersenyum, jae jin kembali menghela nafas lega
"Tolong kalian cek keadaannya, aku akan melihat pasien lain" kata dokter itu lagi pada perawatnya lalu pergi.Setelah perawat itu selesai mereka meninggalkan winwin
"Jika ada apa apa kau bilang saja padaku, aku juga sudah menguruskan surat izin ke sekolah mu" kata jae jin ramah
"Terimakasih dok" kata winwin, jae jin hanya tersenyum sambil mengangguk
"Istirahat lah, jangan banyak bergerak dulu" kata jae jin
Hari berganti hari keadaan winwin semakin membaik, dokter jae jin juga selalu mengawasinya sekali sekali mengajak winwin mengobrol
"Dok, aku kehilangan buku ku" kata winwin ketika dokter jaejin memasuki ruangannya
"Tidak apa apa, kau bisa menggantinya dengan buku yang baru, sekarang yang terpenting adalah kondisi mu" jawab jae jin
"Dok,boleh aku minta tolong ?" Tanya winwin , dokter jae jin menoleh
"Kemarin aku belum sempat membaca buku yang dokter berikan, bis-"
"Ahh, iya kebetulan aku membawa buku itu, aku sudah menduga kau belum sempat membacanya.ini versi lain tapi sebenarnya sama saja.sebentar aku ambilkan" potong dokter jae jin, winwin hanya tersenyum lalu mengangguk

-Normal POV-
"Yuta, tolong nanti kalau selesai latihan langsung pulang, aku juga ingin latihan buat audisi minggu depan" kata eun ra ketika ingin menemani yuta latihan
"Hehe, iya eun ra, aku tidak akan seperti kemaren kok, kau tau ? Seniorku dengan baik hati menawar kan ku untuk melatih ku selesai latihan di sekolah" kata yuta girang, yuta melirik taeyong yang hendak protes
"Tenang tenang tuan kutub, aku latihan di luar sekolah jadi kau tidak perlu menghina ku lagi kalau aku latihan" sela yuta
"Hnn!!" Taeyong hanya ber "hnn" malas menanggapi kata kata yuta
"Hei kalian" sebuah suara memanggil mereka dari belakang, mereka menengok ternyata hyora dan jae hee
"Hai hyora hai jae hee" sapa yuta cerah, eun ra hanya tersenyum sedangkan taeyong langsung mematung melihat hyora, matanya mengikuti hyora tapi hyora seperti menghindar dari tatapan taeyong,
"Sakit" itu yang di rasakan taeyong sekarang, apalagi melihat sifat malu malu hyora di depan yuta, matanya serasa memanas, ia memejamkan mata, menarik nafas dan menghembuskannya keras keras "tenanglah sialan" katanya dalam hati, ia memalingkan pandangannya ke arah lain, kemana pun asal tidak melihat hyora tapi entah kenapa telinganya menjadi sangat tajam, terutama dengan suara hyora, "great!!" Batinnya, ia mengepalkan tangannya,rahangnya mengeras, tidak tahan ia berbalik tanpa memperdulikan eun ra dan yuta
"Hei taeyong mau kemana, hei tunggu kami,ck, dia kenapa sih ?" Kata yuta sedikit sebal lalu menyusul taeyong, jae hee heran melihat taeyong yang tiba tiba pergi sedangkan hyora hanya memandang sedih punggung taeyong yang menjauh
"Maafkan aku, taeyong-ah" batin hyora sedih
"Kami duluan ya" kata yuta sambil berjalan dan melambaikan tangan
"Ayo eun ra" kata yuta, sebenarnya tanpa taeyong sadari eun ra memperhatikan gerak gerik taeyong dari tadi
"Sekarang aku mengerti" kata eun ra pelan
"Ha ? Apa ? Mengerti apa ?" Tanya yuta bingung pada eun ra
"Ah, haha, tidak yuta, tidak apa apa, yuk" kata eun ra nyengir salah tingkah

Lapangan basket sudah ramai ketika mereka sampai, taeyong dan eun ra langsung menuju ke bangku penonton dan duduk di sana.
"Kamu kenapa sih ?" Tanya eun ra penuh selidik pada taeyong, taeyong hanya diam
"Taeyong" panggil eun ra lagi tapi taeyong masih diam
"Hei, taey-"
"Diamlah, kau berisik" bentak taeyong, eun ra terkejut lalu menghela nafas dan memalingkan muka ke lapangan tanpa sengaja ia melihat sebuah foto yang keluar dari tas taeyong,foto itu tidak terlihat sepenuhnya tapi eun ra mengenali orang di dalam foto itu,eun ra mengerut kan dahi,  "sekarang semuanya makin jelas" batinnya.
dia yakin dalam foto itu adalah hyora, foto itu sepertinya di ambil diam diam karna hyora tidak melihat ke arah kamera.foto itu diambil ketika hyora sedang menatap keluar jendela di kelas.
Memang rasanya berbanding terbalik jika hyora bersama taeyong. Taeyong bisa di bilang kasar,dingin,suka merendahkan orang, sedangkan hyora, gadis yang lemah lembut,ramah,penyabar dan eun ra berani bersumpah tidak pernah melihat gadis itu marah selama dia mengenalnya.

Latihan berjalan normal selama beberapa hari, permainan yuta semakin membaik bahkan dia ada peluang untuk di masukkan ke inti lagi, dan itu membuat yuta senang,tidak ada juga pertengkaran antara taeyong dan yuta yahh, sebenarnya kalau tidak ada eun ra sama saja,mungkin mereka akan adu tinju setiap hari,sama seperti hari itu mereka bertengkar lagi di koridor sekolah setelah pelajaran usai dan lagi lagi eun ra menengahi mereka berdua
"Aku ke toilet dulu,kepala ku serasa mau pecah melihat mukanya" kata yuta emosi
"Cih, aku bah-"
"Taeyong" bentak eun ra jengkel, yuta langsung berbalik pergi, setelah yuta menghilang di belokan,
"Belum puas ?" Tanya eun ra jengkel pada taeyong
"Apa ?" Balas taeyong hanya menyeringai tipis tanpa dosa
"Sebenarnya, apa tujuanmu melakukan itu heh ? Apa kau tidak lelah, terus terusan memulai pertengkaran ? Jujur saja, aku muak taeyong, aku benar benar lelah melihat kelakuan mu" kata eun ra jengkel, taeyong mendengus tertawa lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain
"Memangnya aku peduli" balas taeyong santai
"Oh, terus saja tidak peduli!"suara eun re gemetar menahan emosi, "aku tidak mengerti jalan pikiran mu taeyong! Apa hatimu benar benar di butakan karna cemburu mu, heh ? Kau cemburu dengan yuta karna cewek itu kan?"
Taeyong langsung mengalihkan mukanya pada eun ra, ekspresi wajahnya berubah dan matanya menyipit, melihat ekspresi taeyong,eun ra yakin dugaannya selama ini benar.
"Kenapa ? Kau kaget, heh? Jangan kira aku tidak tau taeyong" kata eun ra tajam
"Jika aku jadi hyora aku juga akan berpikir berpuluh kali untuk menerima hati mu"
"Kau tidak tau apa apa tentang hyo-..."
"aku tidak pernah mengenal cewek penyabar sepertinya dan aku tidak tau kau berteman dekat atau tidak dengannya" sela eun ra "yang pasti jika kau berteman dekat dengannya aku sangat sangat yakin kalian bisa berteman semata mata hanya karna kesabarannya, berteman dengan orang egois dan kekanakan seperti mu pasti sangat tidak menyenangkan!"kata eun ra
"Tutup mulutmu, eun ra!"bentak taeyong penuh ancaman
"Aku tidak akan tutup mulut sampai kau bersikap adil pada yuta, taeyong! Ingat itu!" Balas eun ra tidak kalah tajam
"Apanya yang tidak adil, eun ra?" Yuta tiba tiba datang dan mengerutkan kening
Eun ra langsung gelagapan tertangkap basah oleh yuta
"Tidak yuta, ahaha" eun ra tertawa garing, taeyong hanya mendenguskan nafas keras keras, Yuta menatap mereka heran dan kemudian memutuskan untuk tidak ambil pusing.
"Kalau begitu sebaiknya kita cepat ke lapangan nanti kau terlambat" kata eun ra tanpa memperdulikan taeyong

Taeyong duduk di kursi penonton dengan eun ra, eun ra hanya diam terlalu malas memulai percakapan lebih dulu dengan taeyong yang hanya menopang dagu kedua sikunya berada di lututnya dan matanya lurus ke depan. Sebenarnya kata kata eun ra tadi cukup menohoknya
"Apa benar selama ini hyora tidak nyaman berteman dengan ku? Karna ke egoisan dan kekanakan ku? Damn..!!" Batinnya
"Apa hatimu benar benar di butakan karna cemburumu, heh?" Lagi lagi kata kata eun ra terngiang di kepalanya, taeyong memejamkan matanya
"Apa aku harus membuka hati ku?" Batinnya bertanya, "bagaimana caranya?Melalui siapa?" Matanya kemudian melirik eun ra lalu kembali ke depan dan pandangannya jatuh ke yuta
"Melalui mereka?" Tanya batinnya lagi "aku benar benar belum siap"

Meski begitu kata kata eun ra benar benar mempengaruhinya. Hari hari selanjutnya, Ia menjadi lebih pendiam, tidak ada lagi hinaan hinaan yang dia lontarkan pada yuta, malah ia sempat memberi masukan pada yuta seperti tempo hari "permainanmu terlalu individual,coba lebih bekerja sama dengan tim mu"kata taeyong lalu berdehem dan pergi mendahului yuta dan eun ra.
Yuta dan eun ra awalnya terheran heran dengan perubahan taeyong.
yuta hendak mencelanya ketika taeyong memberinya masukan tapi eun ra menahannya "Terima saja, kita sambut perubahannya sebagai kabar baik" kata eun ra sambil tersenyum tulus

Musuh, Sahabat dan CintaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang