Nobody Knows My Sorrow

2.3K 185 19
                                        

HINATA's POV

Sudah dua hari aku mengurung diri di kamar. Adikku, Hanabi, selalu mengantarkan makanan ke kamarku. Hari ini adalah hari minggu, dan aku bersiap untuk pergi keluar rumah setelah Hanabi mengatakan lewat chat bahwa ayah sudah pergi sejak pagi buta.

Aku ingin pergi ke rumah Naruto, dia pasti mengkhawatirkanku karena tak ada satu pun chat-nya yang aku balas dan teleponnya pun tak ku jawab. Aku benar-benar kalut atas semua cerita ayah tentang masa lalu ibu, serta kelalaian ayah yang membuat ibu meninggal. Selama ini ayah mengatakan padaku bahwa ibu meninggal karena sakit. Aku percaya begitu saja karena saat itu usiaku masih tujuh tahun. Benar-benar tak dapat dipercaya karena aku selama ini mempercayai kebohongan ayah.

Aku membuka pintu kamar dan melangkahkan kaki keluar, tiba-tiba ada tangan yang memegang pergelangan tanganku dan menariknya.

"A-apa yang kau lakukan di rumahku ?" Jantungku hampir berhenti berdetak karena sangat terkejut. Laki-laki yang menarik tanganku dan menyeretnya menuruni anak tangga dengan terburu-buru adalah Uchiha Sasuke.

"Memangnya salah jika aku berada di rumah calon istriku ?" Jawabnya tanpa menoleh sedikitpun kepadaku.

"Tung-tunggu. Kau mau membawaku kemana ?" Aku menarik tanganku saat sampai di ambang pintu keluar. Otomatis langkahnya terhenti.

"Ke suatu tempat." Sasuke menyeringai. Menyeramkan.

"Apa yang membuatmu berpikir aku akan langsung menurutimu begitu saja ?" Aku bicara dengan takut.

Dengan gerakan tiba-tiba, pria itu membalikkan tubuhnya dan menghimpitku ke dinding. Dia memegangi kedua tanganku dan mendekatkan bibirnya ke telingaku.

"Turuti aku atau akan kuadukan pada ayahmu bahwa kau berpacaran dengan laki-laki blonde bermata biru idiot itu."

Apa dia sedang mengancamku ?

Ayah memang sangat menentangku berpacaran dengan pria manapun. Awalnya aku mengira bahwa ayah adalah seorang Bapak yang over protected pada anak perempuannya, ternyata laki-laki dihadapanku ini penyebabnya. Aku sudah disiapkan untuk dijual pada laki-laki ini. Menjijikkan. Ingin sekali ku ludahi wajah tampannya.

Sasuke menjauhkan tubuhnya dariku dan mulai menarik pergelangan tanganku lagi.
Setelah sampai di halaman depan, dia membuka pintu mobil dan memasukkanku ke dalamnya. Aku tak bisa berkutik karena takut dia akan mengadukan hubunganku dengan Naruto.

Di dalam mobil kami hanya saling diam. Aku benci situasi ini. Kenapa aku harus terperangkap bersama laki-laki angkuh, dingin dan tak berperasaan seperti dirinya. Aku ingin bersama Naruto. Tatapanku menerawang keluar jendela memperhatikan awan yang memabukkan. Tanpa kusadari aku pun tertidur. Karena tidurku selama dua hari ini sangat tak nyenyak.

"Apa tidurmu nyenyak ?" Suara bariton disampingku membuatku terkejut.

"Berapa lama aku tertidur ?"

"Dua jam !" Dia menunjuk arloji yang melekat di tangan kirinya.

"K-Kenapa tak membangunkanku ?" Aku mengedarkan pandangan keluar jendela, kami seperti sedang berada di tempat parkir.

"Cepat turun." Perintahnya.

Aku menurutinya dan turun dari mobil. Dia berjalan di depan dan aku mengekornya. Dia mengajakku ke mall ?

"Setidaknya katakan padaku kau ingin mengajakku kemana." Suaraku terdengar putus asa.

"Toko buku." Jawabnya singkat dan jelas.

Punggungnya yang lebar terlihat dengan sangat jelas dari posisiku saat ini yang berjalan tepat di belakangnya. Dilihat dari manapun, laki-laki dihadapanku ini memang sangat tampan dengan tinggi badan sekitar 180cm dan berat badan yang proposional. Aku bisa merasakan tatapan mata dari para gadis saat berjalan melewati kami. Belum lagi bisikan-bisikan yang terdengar dengan sangat jelas.

LOST HEAVENTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang