"Ayahmu mengancam akan membunuh ibuku dan melaporkan ayahku atas perbuatannya sebelas tahun silam, dengan tuduhan menghilangkan nyawa seseorang karena menyetir di bawah pengaruh alkohol."
"A-apa maksudmu ?"
"Hinata ! Ayahku adalah orang yang menyebabkan ibumu mati." Suara Naruto meninggi dan hal itu membuat beberapa pengunjung kedai menoleh ke arah kami.
"Bohong.. Pasti kau berbohong kan ?"
"Awalnya aku juga tak mempercayai ucapan Hiashi-san, tapi setelah dipikir lagi, semuanya saling berkaitan."
"Berkaitan ?"
"Ayahku tak betah tinggal di Jepang dan lebih memilih Bali sebagai tempat tinggalnya, dia juga sudah mengganti kewarganegaraannya. Sudah sebelas tahun dia tak kembali kesini. Ibuku pun ikut bersamanya. Dan jangan kau lupakan fakta bahwa aku tinggal disini bersama keluarga pamanku."
Aku tahu kalau Naruto tinggal disini tanpa kedua orangtuanya. Tapi selama ini Naruto bilang bahwa ayahnya memiliki prospek bisnis yang bagus di negara lain. Apakah Naruto juga baru mengetahui semua ini ?
"Pada saat kau dirawat di rumah sakit, malam itu ayahmu menghubungiku dan kami bertemu untuk bicara. Dan Hiashi-san memberitahu semuanya padaku. Tentang kecurigaannya saat melihat fotoku di kamarmu. Dia mengingat wajah ayahku dengan sangat jelas. Dan juga rambut pirang kami sangat identik."
Aku menunduk lesu.
Bulir airmata mulai berebut untuk jatuh membasahi pipiku.
"T-tapi apa yang sebenarnya dilakukan ayahmu malam itu ?" Suaraku bergetar.
"Dia sehabis pulang dari club, dan yah, dia memang mabuk berat. Dia menyetir dengan sangat tak terkendali dan saat mobil ayahmu melintas dari arah berlawanan, tabrakan pun tak dapat dihindari."
"Lalu, kenapa ayahmu tak langsung dipenjara pada saat itu ?"
"Karena dia memiliki pengacara handal yang berhasil memenangkannya di pengadilan."
"Itu sungguh tak adil.."
"Aku tahu." Naruto bangkit dari kursinya.
"Nah, Hinata. Aku sudah mengirim pesan pada Neji untuk menjemputmu dan mengantarmu pulang."
"Kau mau pergi ?"
"Yeah.. Sudah tak ada lagi yang perlu kita bicarakan bukan ?" Aku tak mengenali pria dihadapanku ini.
Aku hanya bisa menangis dan menangis. Ya, aku memang gadis bodoh yang cengeng.
"Oh ya, satu lagi. Jangan pernah mencariku lagi. Setelah pengumuman kelulusan, aku mungkin akan meninggalkan Jepang dan tinggal bersama orangtuaku di pulau Bali."
"Apakah sekarang aku bukan sesuatu yang penting lagi bagimu ?"
"Tentu saja kau adalah orang yang penting bagiku. Tapi, kebahagiaan kedua orangtuaku beribu kali lipat lebih penting darimu sekarang. Aku tak masalah jika harus kehilangan gadis manja sepertimu. Tapi, jika aku harus kehilangan kedua orangtuaku, lebih baik aku mati."
Mendengar Naruto bicara hal yang menyakitkan membuatku kehilangan arah.
Aku melangkah keluar kedai dengan perasaan yang campur aduk. Setelah sampai diluar, aku berlari tak tentu arah. Pokoknya aku hanya ingin berlari. Menjauh dari sana. Menjauh dari pria yang selama ini menemani hari-hariku. Aku ingin menangis tanpa ada seorang pun yang melihat dan mengasihaniku.
Aku tahu dia sengaja berkata seperti itu.
Aku tahu dia sengaja melakukannya agar aku tak menemuinya lagi.
Aku tahu dia hanya berpura-pura.
Tapi, itu tetap saja terasa sakit.
KAMU SEDANG MEMBACA
LOST HEAVEN
Fiksi PenggemarSuatu hari, Aku baru mengetahui kebenaran tentang ibuku yang sudah meninggal sebelas tahun yang lalu. Dia adalah seorang pelacur. Ya, aku Hinata Hyuuga adalah putri dari seorang pelacur. Di usiaku yang baru menginjak delapan belas tahun, aku sudah m...
