Let Me Ease Your Pain

1.9K 175 13
                                        

1 BULAN KEMUDIAN...

"Uchiha Sasuke, apa kau menerima Hyuuga Hinata, dalam keadaan senang atau susah, kaya atau miskin, sehat atau sakit dan berjanji mengasihinya, menyayanginya dan mencintainya seumur hidupmu ?"

"Aku bersedia."
Lelaki ber-iris onyx itu menjawab dengan intonasi yang sangat tepat dan akurat. Tak terdapat keraguan sedikitpun di dalam kalimatnya.

"Hyuuga Hinata, apa kau menerima Uchiha Sasuke, dalam keadaan senang atau susah, kaya atau miskin, sehat atau sakit dan berjanji mengasihinya, menyayanginya dan nencintainya seumur hidupmu ?"

Hening.

Aku menciptakan suatu keheningan yang mencabik-cabik persendian siapapun yang hadir dalam upacara pernikahanku pagi itu.

Mataku seakan menelanjangi satu persatu para tamu undangan dan saksi yang ada disana. Aku mencari rambut blonde itu, tapi dia tak ada diantara manusia yang duduk dan sekarang memandang ke arahku dengan tatapan tegang. Menanti kalimat yang akan segera meluncur dari mulutku.

"Nona Hinata.. Apa perlu saya ulangi ?" Suara Pendeta mengakhiri pencarianku.

"T-tidak perlu.."
Sekali lagi, mataku melihat ke arah pintu, berharap laki-laki bermata biru itu akan masuk dengan dramatis, menghentikan pernikahan ini dan membawaku pergi dari sana. Lalu kami akan berlari dengan bergandengan tangan dan menertawai hal gila yang kami lakukan.

Tapi, di detik-detik terakhir orang itu tak kunjung tiba.

Aku menundukkan kepala, sensasi panas yang menjalari dadaku mulai naik menuju kerongkongan serta kedua mataku. Ssbentar lagi, Hinata. Tahan air matamu sebentar lagi..

"A-aku bersedia.."

Seluruh tamu undangan mengembuskan napas lega, terutama Hiashi, Fugaku dan Mikoto. Bahkan aku bisa melihat Ayahku sudah berpelukan mesra dengan Fugaku.

"Para hadirin sekalian, saya persembahkan.. Tuan dan Nyonya Uchiha.."

Suara riuh tepuk tangan saling bersahutan dari ujung ruangan menuju altar tempat dimana aku berdiri

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Suara riuh tepuk tangan saling bersahutan dari ujung ruangan menuju altar tempat dimana aku berdiri.

"Silakan mencium istrimu, Sasuke-san."
Suara pendeta menghentikan euforia keceriaan mereka dan digantikan dengan tampang malu-malu tapi sangat mau melihatku segera menempelkan bibirku pada pria dihadapanku.

Aku menjadi salah tingkah dibuatnya. Baru dua bulan aku mengenal laki-laki ini. Berpegangan tangan saja baru satu kali, dia memang pernah mencium pipiku, tapi itu suatu kejahatan. Aku tak siap dengan serangan tiba-tiba seperti itu, ditambah lagi aku sedang sakit saat itu.

Aku menunduk malu. Bingung dengan situasi canggung ini. Tiba-tiba Sasuke mendekatkan kepalanya padaku dan...

CUP

Dia mencium pipiku.
Sorak sorai tamu undangan menggema diseluruh penjuru aula.

"Wooo ! Apa-apaan itu, cium dia di bibir !"

LOST HEAVENTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang