Her Medication (9) - Keputusan

515 83 76
                                        

Berhasil bangun dari kegelapan adalah keberuntungan. Selama apapun, secepat apapun. Bukan tidak pernah Taehyung memilih kegelapan. Semua rutinitas ditemani aspirin, bau alkohol, meja operasi yang dingin, gunting dan skapel yang berdenting ketika bertemu, dengung monitor ICU. Semua lebih menyeramkan dibandingan kegelapan. Namun setiap kali cahaya masuk ke dalam netra setelah gelap yang berkepanjangan, otaknya sekejap dipenuhi juataan aktivitas yang ingin ia lakukan, diiringi dengan sensasi tak sabaran untuk menjalani hari. Ketika itu juga Taehyung yakin bahwa ia masih ingin hidup.

Cahaya yang perlahan dicerna oleh matanya lebih redup daripada semua cahaya kamar rumah sakit yang pernah ia singgahi. Ah, Taehyung membatin, ia masih di villa. Mereka belum terbang kembali ke Seoul ataupun membawanya ke rumah sakit terdekat. Terpenting, Kim Taehyung masih hidup.

Seseorang berbicara di ruangan itu, Taehyung dengar, namun hanya bagaikan bisikan-bisikan halus lantaran semua fungsi tubuhnya belum sepenuhnya kembali. Hal wajar jika ia baru saja bangun dari pingsan, apalagi koma. Tak lama kemudian Taehyung bisa merasakan permukaan stetoskop yang dingin menyentuh kulitnya. Wajah seorang laki-laki berjubah putih yang tidak dikenal tampak begitu datar ketika memeriksanya. Taehyung lebih suka wajah ayahnya. Lebih kaya ekspresi. Lebih ganteng juga.

"Ia semakin stabil. Melihat rekam medis Taehyungssi, ada baiknya ia segera diperiksa oleh tim dokter yang sudah biasa menanganinya. Saya sarankan kalian kembali ke Seoul secepatnya."

Kalimat itu tentu saja membuat Taehyung kecewa. Ia bahkan belum sempat berkuda, atau pun foto-foto di air terjun di bagian utara villa. Namun bukan kalimat itu yang sepenuhnya membuat perasaan Taehyung terluka.

"Berapa lama lo udah ga minum obat?" Itu suara Kim Namjoon, tidak meninggi. Datar saja. Tapi Taehyung bisa merasakan amarah laki-laki itu menumpuk.

Dokter tadi telah pergi, ditemani Jisoo. Sedangkan Taehyung berhasil membawa tangan untuk menyentuh dahinya, menyisir rambutnya yang semerawut ke belakang. "Lupa," ucapnya.

"Lupa? Lo bukan anak kecil lagi, Kim Taehyung. Lo udah minum itu dari dulu, setiap hari!"

Taehyung mendesis. Ia tahu kesalahannya. Ia tidak sekedar lupa. "Lo ga pernah ngerasain kan minum obat tiap hari?"

"Kim Taehyung!"

Seisi ruangan kembali hening. Taehyung menyesal atas perbuatannya. Ia bagaikan seorang remaja labil yang ingin pamer kedewasaan dengan merokok dan minum alkohol sebelum legal. Itu analogi yang lumayan meskipun tentu saja kedua hal itu risikonya bukanlah jantungmu tiba-tiba tersumbat dengan darah menggumpal di salurannya. Hari ketiga setelah ia tidak meminum antikoagulannya, Taehyung kesulitan bernapas. Darahnya tidak boleh kental atau itu bisa menganggu aktivitas katup jantung buatannya. Pada akhirnya ia sesak napas, kekurangan oksigen, dan akhirnya hilang kesadaran. Semuanya sesuai percobaan yang pernah ia lakukan empat atau lima tahun yang lalu. Memberikan kenyataan pahit bagi Taehyung bahwa ia tidak membaik sama sekali. Mungkin tambah parah.

Pintu kembali dibuka. Jisoo menyentuh lengan Namjoon, mengusapnya pelan untuk menenangkan laki-laki itu. "Kita pulang besok pagi," titah Namjoon, mengubah rencana awal mereka untuk pulang sore hari. Kemudian laki-laki itu keluar.

Jisoo menghela napas, lantas berjalan menuju sudut kamar. Di atas sofa Sujeong terduduk tegang. Masih jelas di wajahnya bahwa ia terkejut, panik, sedih, bercampur satu sampai perempuan itu sulit melihat ke arah kekasihnya yang masih menutup sebagian wajah dengan lengan.

"Sujeong, nanti kira-kira sejam lagi Taehyungnya disuapin makan ya. Kamu juga makan. Nanti aku bawain ke sini." Jisoo pun turut membelai lembut punggung Sujeong, mendorong perempuan itu untuk berbicara dengan Taehyung.

IG Stories (end)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang