Chapt 3

580 104 10
                                        

AUTHOR POV

Suara bel toko kue itu terdengar lagi.

Seseorang memasuki pintu dengan senyum yang merekah saat matanya bertemu dengan sang pemilik toko tersebut.

"Kau bilang akan delivery. Kenapa kesini?" Hyungseob bertanya sambil memasukkan beberapa cupcakes yang sudah dihias di dalam rak.

"Aku baru ingat. Aku tak tahu berapa no nya. Jadi aku kemari"

"Kau kan bisa mencarinya di internet"

"Tak terpikirkan. Seperti biasa ya" Woojin berjalan menuju tempat duduk yang masih kosong sambil menunggu pesanannya.

Beberapa menit berlalu, pesanannya datang dibawakan oleh orang yang tentu saja pemilik tokonya.

Hyungseob ikut duduk di depan Woojin. Mereka mengobrol. Woojin bilang, ia punya waktu yang lebih banyak hari ini karena tak ada kasus yang harus ia urus.

Setelah cukup lama mereka mengobrol, Woojin bilang ia harus kembali ke kantornya untuk mengambil barangnya dan pulang. Saat beranjak berdiri, ia ingat tak punya no telepon Hyungseob. Ia memintanya dan Hyungseob memberitahu no nya.

Woojin mencoba untuk misscall ke no nya Hyungseob. Ia terkejut karena ternyata no Hyungseob sudah terdaftar di ponselnya dengan nama 'es krim'. Hyungseob pun terkejut juga saat melihat no yang menghubunginya sekarang sama dengan no yang kemarin malam menghubunginya dan menanyakan siapa dirinya.

"Oh? Kenapa no mu sudah terdaftar di ponselku? Es krim?" Tanya Woojin heran.

"Kau. Kau yang kemarin malam menelfonku dan menanyakan aku siapa?"

"Aku? Aku tak ingat" Masih dengan wajah bingungnya.

Hyungseob tak kalah heran. Mengapa ia banyak sekali tak ingatnya. Memangnya dia amnesia?. Ia tak ingin mempersulit keadaan. Jadi ia menyuruh Woojin untuk segera kembali ke kantornya.

"Ah ya. Aku lupa mengatakan ini" Kata Woojin sambil berjalan mendekat ke arah Hyungseob. Mendekatkan wajahnya ke telinga Hyungseob.

"Maukah kau berkencan denganku nanti malam?" Bisiknya.

Hyungseob melangkahkan kakinya ke belakang terkejut. "Aku?"

Woojin mengangguk semangat. "Tak ada penolakan. Aku akan jemput kau di depan apartemenmu jam 7 malam" Katanya sambil berlalu keluar dari toko itu.

"Cihh lalu mengapa ia bertanya jika tak ada penolakan" Hyungseob bicara sendiri lalu ia meminta pegawainya mengurus sisanya. Ia akan pulang lebih awal dan bersiap-siap.

Kencan dengan pria? Apa salahnya.

.

Hyungseob sudah menunggu di depan apartemennya karena 5 menit yang lalu Woojin sudah menghubunginya bahwa ia sudah dekat.

Tak lama lagi, Woojin datang dengan mobil berwarna putih miliknya. Ia tampil lebih kasual dari biasanya. Ada tampilan yang berbeda darinya.

Hyungseob mendekatinya "Kau mewarnai rambutmu?"

"Aah tadi aku mewarnainya sendiri hehe. Apa terlihat?"

Hyungseob mengangguk dan tersenyum. Woojin langsung mempersilahkannya masuk kedalam mobil.

Hyungseob tak banyak bicara. Ia melihat-lihat keluar. Woojin mulai mengajaknya bicara. Mereka mengobrol tentang kehidupan mereka masing-masing. Hyungseob yang bercerita mengapa ia mempunyai toko kue. Woojin yang bercerita bahwa mimpinya sebenarnya bukan menjadi seorang jaksa. Dan begitulah.

Di perempatan jalan yang akan mereka lalui, tiba-tiba saja sebuah mobil dari arah kiri mengebut dan untungnya Woojin langsung mengeremnya sebelum mereka akan terus berjalan. Tubuh mereka tersentak kedepan. Hyungseob pun terkejut juga tak sengaja teriak. Untunglah masih selamat.

Hati-Hati  [JINSEOB] Where stories live. Discover now