luka

386 17 10
                                    

Rinai air hujan mulai terjatuh ditahan. baunya cukup menyengat, bau tahan yang basah karna hujan.

halt kampus terasa sepi. sudah beberapa bis terlewat begitu saja. ia masih menatap sebuah undangan digenggaman tangannya, undangan merah muda yang begitu indah.

Tik

sebuah airmata menetes dipipinya. 

Srak

Gamisnya terkena cipratan air dari kubangan. sudah setengah jam lebih iya mematung dihalt. tak tahu mengapa seakan dunia terhenti.

mimpi atau kenyataan iya sendiri tak tahu.

ingin rasanya iya menghilang dari dunia ini sekarang.

memikirkan orang yang iya cintai harus berakhir dengan orang lain bagaikan disayat tipis-tipis oleh belati.

begitu tidak adilnya hidup ini.

iya mendongkak keatas.

"Ya Allah ikhlas itu kok berat." perlahan iya mengusap kedua matanya.

berjalan gontai dan masuk ke bis yang baru saja lewat.

melamun dibis, melihat deretan bangunan-bangunan, dari rumah hingga ruko melitas begitu saja.

masih iya ingat saat senyuman kak Faiz yang memberikan undangan itu.

"Ukhty, ana mau menikah, mohon do'anya." katanya ceria.

Mila hanya mematung. Windi sahabatnya yang merespon.

"Selamat kak Faiz, nanti kita pasti datang. orang mana kak calonnya?"

"Orang Yogyakarta, kuliah di Kairo, sekarang sudah lulus."

Windi terkejut. 

"Em..jadi.." dia tak melanjutkan ucapannya.

"Iya, dia kakak kelas ana, beda dua tahun." kak Faiz tak pernah melepaskan senyumnya. kebahagiaan telah menumpuk dihatinya.

Windi terseyum cangung.

Setelah memberi undangan Faiz berpamitan, masih banyak undangan yang harus iya sebarkan kepada teman-temannya.

saat itu Windi tak pernah tahu bertapa hancurnya hati sahabatnya itu.

"wah..gak nyangka. kak Faiz hebat banget dapetin yang lebih tua, udah gitu lulusan Kairo." komentar Windi yang tak menyadari kini wajah Mila begitu beku.

Mila tersenyum miris. kalau dirinya, tentu level kak Faiz belum mampu teraih. 

***

Cinta itu seperti kapal, kadang berlayar indah dan berujung kepelabuhan, kadang hanya terapung-terapung dilautan, kadang kandas oleh batu karang, kadang juga tenggelam oleh badai.

kini kapalnya Mila kandas oleh karang dan tenggelam ditengah badai.

Teh Fatma membelai pucuk kepala Mila, calon kakak iparnya itu, yang satu bulan lagi akan menikah dengan kakaknya Fadil. satu-satunya orang yang tahu perasaan Mila kepada Faiz, satu-satunya orang yang berencana mentaarufkan mereka, kini kandas sudah.

Bila bukan jodoh Allah akan selalu punya cara untuk memisahkan, dan bila jodoh Allah tak akan kehabisan cara untuk menyatukannya.

"Sabar sayang." katanya pelan. yang tak tahu harus berkata apalagi. bila iya diposisi Mila, pasti akan sakit sekali rasanya.

"Bukan jodohmu." lanjutnya.

Mila mengangguk.

"Iya Teh, Mila juga mencoba ikhlas. lagi pula Mila sendiri yang telah menanam perasaan ini, bukan salah siapa-siapa, aku yang menanam aku juga yang akan menjabutnya hingga keakar." ucap Mila sendu, suaranya parau.

Jangan Pacari Wanita Berjilbab (Revisi)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang