Chapter Seventeen (Story Of Evans)

36 21 4
                                        

Setidaknya seminggu belakangan ini Evans mengalami insomnia, pukul 02:30 am di saat orang lain telah tertidur pulasnya dan mimpi-mimpi indah sudah masuk pada bagian yang dramatis. Matanya masih saja tidak mau menunjukan sayupnya, dia membuka catatan kecilnya, teringat masa lalunya di tinggal sang kekasih demi pria lain.

Trauma tersendiri baginya menjalani suatu hubungan dengan para gadis, dia juga tidak mau terjebak dalam suatu hubungan sesama jenis yang sekarang populer di kalangan kampus, hatinya dilema. Bunyi kicauan burung bersama silauan mentari pagi membuatnya beranjak dari tempat tidurnya yang empuk, bergegas mandi, mengambil ransel dan berjalan menuju halte bus.

"Hoaaam..." Dia menguap panjang, seolah-olah menghisap penumpang yang menunggu bus di halte.

Bus yang dinantikan datang, melangkahkan kakinya, berpegangan di tiang besi, pintu bus tertutup, sopir melajukan busnya dengan pelan sesekali menginjak rem mendadak membuat kepala gadis di sebelahnya terbentur di lengan Evans.

"Sorry." Ucap gadis itu singkat, tersenyum ke arah Evas dan menyapa. "Good morning Evans."

"Morning too Elle, tumben naik bus?" Evans menatap Elle dengan tatapan ngantuk, tangannya masih berpegangan erat di tiang besi.

"Iya, soalnya hari ini mobil mami rusak, jadi terpaksa aku naik bus."

"Hehe begitu."

Bus berhenti tepat di depan halte kampus, mereka berdua turun dari bus, memasuki halaman kampus yang luas, mereka berpisah di depan kelas dengan melambaikan tangan, di kelas ternyata masih sepi, cuman ada beberapa anak gadis yang sedang berdandan, dan Daniel sedang membaca buku.

Duduk di samping Daniel, meletakan kepalanya di atas meja, perasaanya sangat malas mengikuti pelajaran, memejamkan matanya sebentar dan Daniel langsung membangunkannya. Otaknya tidak sanggup mengikuti mata pelajaran, dia meminta ijin keluar, beristirahat di bawah pohon yang rindang sampai menjelang siang hari.

Carlina dan Daniel menghampiri Evans, membangunkan anak laki-laki yang tertidur pulas itu.

"Kalian mengganggu tidurku, sana pergi." Usir Evans.

"Kamu pasti begadang sehariankan? Vans?" Ucap Daniel menempuk pelan kaki sahabatnya.

"Begitulah, makanya jangan ganggu aku!" Usir Evans lagi.

"Yasudahlah, kami berdua ke canteen, mimpi indah, Vans." Ucap Carlina beranjak berdiri, mengandeng tangan kekasihnya.

Dengan kepergian mereka berdua menurut Evans bisa tenang akan tetapi pikirannya itu salah besar, tiba-tiba saja kedatangan gadis memeluk kedua kaki, menangis pelan di sampingnya. Suara tangisan gadis itu merobek gendang telinga Evans, membuka matanya, melirik gadis itu.

"Kamu kenapa El?" Tanya Evans.

"Aku habis di kerjain anak-anak, Vans, benarkah aku sehina ini?" Elle tidak bisa berhenti menangis.

"Tidak hina banget kok, sudah jangan di pikirin, berhentilah menangis."

"Tidak bisa Vans, aku aku hiks." Isak tangis Elle membuat kepala Evans semakin pusing, ia duduk dan menghapus air mata gadis itu.

"Diam ya, kalau kamu diam semakin cantik, sumpah ini bukan gombalan." Evan tersenyum, mengusap rambut Elle.

"Makasih Vans sudah mau menghiburku."

"Sama-sama El, kamu sudah makan?"

"Belum Vans, aku takut ke canteen."

"Sama aku juga belum makan, kamu cukup berlindung di belakangku." Evan berdiri, membersihkan celananya yang kotor akibat tanah dan rumput yang menempel.

Prison Love [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang