Tepatnya sudah sejak 1 bulan setelah kembalinya Kise. Yang berarti ujian kenaikan juga sudah selesai.
Kise begitu menikmati masa setelah ujian. Tapi dirinya merasa ada yang aneh dengan tubuhnya.
Sudah sejak seminggu lalu Kise merasa kan perutnya mual setiap pagi. Adakalanya sampai muntah-muntah.
Dengan paksaan keluarganya Ryouta akhirnya memeriksakan dirinya. Ditemani kedua kakaknya dan kedua orang tuanya. Kise pergi ke rumah sakit.
Mereka cukup kenal baik dengan sang dokter. Karena anak mereka berteman saat SMP. Ya, dokter itu adalah ayah dari Midorima Shintarou, rekan tim basketnya saat masih di Teiko.
Dokter di hadapannya itu mengerutkan kening, suasana hening.
"Jadi aku kenapa ssu?" tanya Kise yang tak sabar menunggu ayah temannya itu berbicara.
"Aku sudah berkali-kali memeriksanya dan berkali-kali pula aku melakukan tes, dan hasilnya selalu sama. Ini sungguh langka" ujar sang dokter membuka suara.
"Eh, memangnya ada apa? Apa anak kamu mengidap penyakit ganas dan langka?" tanya Ayah Kise.
"Bukan, bukan penyakit langka, tapi ini sungguh langka, karena hanya ada 1:1000 di dunia ada kejadian male pregnant" jelas sang dokter.
"Male pregnant?" gumam mereka.
"Benar. Selamat tuan dan nyonya Kise, sebentar lagi kalian akan menjadi kakek dan nenek. Aku tidak percaya teman anakku akan menjadi seorang ibu di usia muda" jelas sang dokter.
"Maksud Anda, Ryouta hamil?" tanya salah satu kakak Kise.
"Ya, male pregnant atau lelaki yang bisa mengandung" jawab sang dokter.
Mereka semua terkejut, begitu pula dengan Kise. Mereka semua terdiam, bahkan sampai di rumah mereka.
Plakkk...
"Tou-san" gumam Kise saat tiba-tiba sang ayah menampar pipinya.
"Memalukan" gumam sang ayah.
"Siapa ayah bayi itu?" tanya sang ibu.
Kise terdiam.
"Gugurkan" ucap sang ayah.
Kise tersentak mendengar ucapan sang ayah. Air matanya menetes.
"Tidak" jawab Kise.
"Gugurkan" ucap sang ayah sekali lagi.
"Tidak mau ssu, aku tidak mau menggugurkannya" sahut Kise mulai terisak.
"Kalau kau tak mau menggugurkannya, pergi dari rumah ini" bentak sang ayah.
"Tou-san" gumam Kise.
"Kau memalukan keluarga, pergi dari sini dan jangan pernah kembali" bentak sang ayah.
Kedua kakaknya hanya terdiam sambil memeluk sang ibu yang terisak dan sedih karena syok.
Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut Kise. Tanpa membantah lagi, Kise meninggalkan rumahnya. Dengan berurai air mata, Kise melangkahkan kakinya keluar dari kediaman Kise.
Berjalan gontai, sambil membawa hasil lab. Kise mencoba menemui Aomine.
"Aomine-cchi temui aku di tempat biasa" ucap Kise dengan teleponnya.
Kise menunggu Aomine di bangku pondok dekat danau rahasia mereka. Tak butuh berapa lama, Aomine akhirnya datang.
"Kise, ada apa?" tanya Aomine lalu duduk disampingnya.
Kise menyerahkan amplop coklat yang dari tadi di bawanya.
Aomine membaca dengan teliti tiap tulisan di kertas itu.
Matanya melotot ketika membaca bagian tengah surat itu.
"Kise, kau-" ucap Aomine terpotong.
"Hiks hiks bagaimana ssu, aku hamil" gumamnya sambil terisak.
Aomine mengusap wajahnya dengan kasar.
"Bagaimana bisa, kita kan sama-sama laki-laki" ucap Aomine
"Aku tidak tahu ssu, dokter bilang ini memang langka, hanya ada 1:1000 di dunia" jelas Kise masih terisak lirih.
Aomine menghela napas kasar.
"Gugurkan" ucap Aomine.
"Aomine-cchi" ucap Kise lirih karena terkejut.
"Aku bilang gugurkan" ucap ulang Aomine.
"Tidak mau ssu" jawab Kise.
"Aku tidak bisa menerimanya Kise"
"Aomine-cchi"
"Bagaimana itu bisa terjadi, kita sama-sama laki-laki, dan terlebih kita samaih bersekolah, aku belum siap" jelas Aomine.
"Gugurkan saja, kita bisa mengulanginya lagi saat aku menikahinya dan aku cukup siap menjadi seorang ayah" lanjut Aomine.
Kise menggelengkan kepalanya, air matanya menetes dengan cepat. Ia tidak percaya dengan ucapan Aomine.
"Aku tidak akan membunuh bayi yang tidak berdosa ini" ucap Kise lirih.
"Tapi Kise-"
"Aomine-cchi jahat ssu, aku benci Aomine-cchi" teriak Kise lalu berlari meninggalkan Aomine.
Aomine bingung harus bagaimana, dia tidak mengira akan terjadi seperti ini.
Sementara itu, Kise masih terus berlari tanpa arah.
Kise duduk di bangku dekat lapangan basket. Dengan menekuk kakinya, Kise masih menangis sedih.
"Kise-kun" panggil Kuroko yang melihat Kise ketika dalam perjalanan pulang.
Kise mendongak, matanya berkaca-kaca saat melihat Kuroko.
"Kurokocchi" panggil Kise lalu menangis dan memeluk Kuroko.
Kuroko terkejut melihat keadaan Kise, lantas mengelus kepala Kise dengan lembut.
"Ayo ke rumahku" ajak Kuroko, Kise mamgangguk setuju.
Kise masih terus terisak sepanjang perjalanan menuju ke tempat Kuroko.
Kuroko hanya memperhatikan sahabatnya itu.
Sesampainya di tempat Kuroko, Kuroko memberi selimut pada Kise karena badannya yang sedikit dingin, akibat udara malam. Dan membuatkannya teh hangat.
Air mata Kise kembali mengalir. Kise menumpahkan kesedihannya di pelukan Kuroko.
TBC
___________
Yeee TBC lagi....
Pendek pendek banget ya...
Ahahahahahahah....
Sengaja pendek emang...
Karena biar gambar sama cerita nyambung 😄😄😄😄
Yosh....
Jangan lupa yang mampir votcom ya. .
Terima kasih...
Sampai jumpa next chap
Sankyuu
Pai pai
KAMU SEDANG MEMBACA
Ao-Ki-Se - Complete
Fanfictionkurobas ©Tadatoshi Fujimaki alur punya saya . . Kise Ryouta, pemuda pirang yang selalu ceria, mengagumi sosok rekan tim basketnya semasa SMP, Aomine Daiki. Sosok kagum yang berubah menjadi rasa cinta. Tak ada yang tahu hubungan mereka, semua beg...
