Lebih dekat dengan mu

3.9K 144 3
                                        

Hari ini malam jumat, santri-santri libur mengaji, aku bersama santri-santri membaca sholawat barjanzi bersama di masjid.
Waktu itu aku duduk di depan bersama mbak Layla, ia pengurus pondok pesantren, Amar juga duduk didepan tepat dihadapanku. Dengan jarak yang sangat membuatku gelisah walau mungkin bisa dibilang agak jauh tapi tetap saja aku merasa gelisah.
Kucoba memperhatikan dirinya yang sedang duduk dan bertengger di sebuah tiang, tiba-tiba tidak sengaja aku dan dia saling menatap. Dari tatapan pertama aku merasa aneh, kami saling memalingkan muka. Kemudian aku dan Amar saling bertatap lagi dan tatapan yang ini berbeda ada rasa yang membuat dadaku berdegup kencang, sunggingan senyum diatas bibirnya membuat siapa saja yang melihatnya akan terpana, walaupun dalam hatiku aku tidak bermaksud untuk memandang dirinya tapi rasanya seperti ada reaksi secara tidak langsung.

Uhh, kenapa deg-degan gini.
Astagfirullah,  ampuni Aullia ya Allah, Aullia udah zina mata ini~batinku.

"Sampeyan mesem kaleh sinten Aullia?"tanya mb Layla.
"Nggeh, kula mesem kaleh rencang-rencang mb, lah pripun to mb?"
"Mesem kaleh rencang kok pipine abang, mesem kaleh Amar nggeh??"goda mb Layla
"Mboten mb, sampun lah mb di lanjut mawon ngaos e."
"Nggeh, monggo diwaos sareng-sareng"

**
Setelah membaca sholawat, aku dan sahabatku pergi ke warung mbak Siti, warung itu menjadi tempat favorit bagi santri-santri sekitar, apalagi malam jumat warung itu pasti ramai dipenuhi santri-santri.
Disana menjual nasi, lauk pauk, perlengkapan sehari-hari, dan apalagi kopi buatan mbak Siti, wuiihh mantap bener.
Aku dan sahabatku hanya memesan kopi dan makanan ringan. Kulihat Ahmad, Amar dan santri putra lainnya juga ada disana, mereka sedang kebingungan mencari tempat untuk diduduki, lalu Ahmad melihat ada tempat kosong disebelah ku.
"Permisi, boleh kah aku dan teman-teman ku duduk disini??" pinta Ahmad
"Silahkan boleh saja, tapi jangan dekat-dekat ya. Jangan cari kesempatan dalam kesempitan wkwk", jawab Isma
"Iya, Syukron"
Aku tepat berhadapan dengan Amar, ku tundukkan kepala karena aku takut kalau Amar mengetahui pipiku yang merah jambu ini.

Astagfirullahal'adzim.. Astagfirullahal'adzim..Astagfirullahal'adzim, ya Allah dosa kah hambamu ini~ dadaku berdegup kencang.

"Hem.. Kamu kenapa Li kok nunduk terus?? Sakit ya",tanya Anisa
"E..enggak kok, gak papa",aku masih meletakkan kepalaku diatas meja
"Ya udah santai aja kali, atau jangan-jangan pipi kamu memerah ya gara-gara ada Amar didepanmu??" bisik Anisa tepat di telinga ku
"Apaan sih enggak kok" lalu aku tegakkan kepalaku dan bola mataku tepat berada di dalam bola mata Amar, begitupun bola mata Amar tepat berada di dalam bola mataku, tubuhku bagaikan tak menapak bumi, melayang jauh.

"Astagfirullahal'adzim" ucap Amar, membuyarkan lamun ku
"Kalian ini kenapa sih, kayak kesambet setan aja" sahut Ahmad
"Gak papa kok" jawab Amar. Sedangkan aku hanya terdiam
"Embb... Buruan diminum kopinya, keburu dingin enggak nikmat lagi nanti",kata Amar pada ku
"Ehh... Iya iya"
"Li kamu kenal aku gak??"
"Aku cuma tahu namamu" jawabku singkat
"Syukurlah, kalau kamu tahu namaku"
"Memangnya kenapa??"
"Enggak kok, gak apa-apa. Cuma nanya aja masak satu sekolah sama satu pondok kok gak kenal kan gak bener itu." jelas Amar disertai tawa kecil.
"ya udah lah aku pamit pulang dulu. Takut ke malaman" pamitku
"Gak mau dianterin Li??" tanya Tian
"Enggak usah kan cuma deket, makasih ya semua. Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam hati-hati ya Li"jawab mereka.
"Iya,sampai ketemu besok"

Ada Cinta Di PesantrenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang