Entahlah apa yang aku rasakan saat ini, apa mungkin aku merasa kan cinta, tapi dengan siapa? Amar? Enggak, bukan Amar, dia hanya temanku, aku kenal dengannya juga karena dia teman Ahmad, yang juga kebetulan ngaji dan sekolah ditempat yang sama . Kenal juga baru beberapa waktu yang lalu.~pikirku
"Aullia?",panggil umi sambil masuk ke kamar dengan membawakan segelas susu hangat untuk ku.
"Iya Umi"
"Kamu sedang belajar nak?", tangan umi seraya mengelus dan membelai rambut hitam panjangku. Yang ku jawab hanya dengan anggukan dan senyum.
"Emb, Umi boleh tanya nak?", tak seperti biasanya umi bertanya seserius ini, dan beliau berjalan lalu duduk diranjang ku.
"Tanya apa Umi?", aku menyusul Umi ke ranjang dan meletakkan kepalaku di paha umi.
"Aullia udah juz berapa? Maksud Umi, Aullia udah hafal sampai juz berapa?"
"Aullia baru hafal juz 1 sama 30 Umi. Memangnya kenapa umi??"
"Apa Aullia gak pengen memakai kan mahkota untuk Umi dan Abi disurga?"jawab Umi dengan menggunakan kata yang kurang aku pahami
"Maksud Umi? Aullia belum paham Umi?"
"Maksud Umi, Umi pengen Aullia menjadi penghafal Al-quran dan mengamalkan isi kandungan Al-quran, supaya kelak Umi dan Abi mendapatkan mahkota yang begitu istimewa disurga, karena anak Umi ini"rayu Umi dengan mencolek dagu ku.
"Aullia ingin sekali Umi, baiklah sekarang Aullia akan berusaha untuk menjadi hafidzah. Doa kan Aullia ya Umi", aku bangkit dari pangkuan Umi dan menemukannya, kami berpelukan dengan menitihkan air mata.
"Iya Aullia, Umi selalu mendoakan yang terbaik untuk mu nak. Ya sudah sekarang lanjutkan belajarnya ya. Kalau sudah waktunya tidur segera tidur, jangan sampai larut malam. Selamat malam nak, umi tinggal dulu. Assalamualaikum", kecupan Umi tepat di keningku, dan beranjak keluar meninggalkan ku sendiri.
Bagaimana aku bisa fokus pada pelajaran kalau saat ini aku masih memikirkan bagaimana aku bisa belajar untuk menghafal al-quran dengan benar.
Mungkin Tian bisa mengajariku ~pikirku
Ah sudah malam, sebaiknya aku tidur, besok baru menemui Tian untuk memintanya mengajariku.
**
Hari ini matahari terbit begitu menawan,
Suara ayam jago berkokok pun terdengar nyaring.
Ku buka tirai kamar, seperti biasa sebelum beranjak keluar dari kamar, kulihat dari balkon lantai dua ini pemandangan yang sangat indah. Kulihat Pondok-pondok pesantren dengan bangunan yang begitu sederhana, terlihat jelas dari sini asrama putra milik abah kyai. Setelah itu bergegas mandi dan bersiap untuk berangkat.
"Aullia, cepat turun. Kita sarapan dulu"teriak Abiku
"Iya Bi, sebentar", setelah itu aku bergegas turun dan sarapan bersama. Selesai sarapan aku pamit pada Abi dan Umi ku, tak lupa ku kecup tangan beliau dan meminta doa untuk hari ini.
"Abi, Umi, Aullia berangkat dulu ya. Assalamualaikum"
"Iya, Umi doakan semoga lancar belajarnya. Hati-hati dijalan. Wa'alaikumsalam"
Seperti biasa sahabatku sudah menunggu di depan gerbang pondok. Dan kami berangkat bersama.
Dikelas masih sepi hanya ada sekitar lima siswa yang datang dan ditambah aku dan sahabatku.
"Kamu kenapa Aullia? Kok kayaknya lagi mikir sesuatu"
"Iya nih Tian, Umi sama Abi suruh aku buat hafalin Al-quran"
"Wah ya bagus dong Li, terus nanti kamu jadi hafidzah"
"Iya aku juga pengen dari dulu, tapi gak ada yang mau ajari aku"
"Kenapa gak sama Abi Umi kamu?? Li",usul Anisa
"Abi ku setiap hari pulang hampir magrib, terus abis itu sibuk ngurus kerjaan kantornya. Kalau Umi ku, sibuk ngajar murid-muridnya, pulang dari ngajar Umi selalu sibuk dengan laptop nya. Kamu bisa kan Tian ajari aku, kamu kan juara tartilnya" aku memohon pada Tian agar ia dapat membantuku menghafal Al-quran.
"Gimana ya Li, bukannya aku gak mau. Tapi aku belum fasih dalam bacaan tajwidnya. Takut salah, entar kamu dapat dosa aku juga ikut dosa. Mending kamu minta Abah kyai aja buat ajari kamu"
"Gak berani buat bicaranya",jawabku
"Ya udah kamu minta sama Abi kamu aja, suruh nyariin guru buat kamu",usul Isma.
Hari ini begitu lelah, banyak pelajaran dan tambahan materi untuk mempersiapkan ujian nasional yang tinggal beberapa minggu lagi.
Sepulang sekolah aku ingin mencari guru yang mau mengajariku hafalan Al-quran, aku ingin membanggakan Abi dan Umi. Aku ingin memakai kan mahkota atau jubah emas pada mereka disurga kelak, seperti yang sering ku dengar dari cerita ustadz atau penceramah lainnya.
Tapi aku bingung harus cari guru kemana, yang ku kenal hanya Tian. Tetapi Tian bilang dia belum lancar, kalau minta tolong Abah kyai, takutnya ganggu. Kan urusan kyai pasti banyak. Lalu siapa??
Diperjalanan pulang pun, aku hanya memikirkan dimana aku bisa mendapatkan guru untuk membimbingku.
Ahh nanti akan aku bicarakan pada Abi, aku ingin meminta pada Abi untuk mencarikan guru saja lah.
Adzan magrib sudah berkumandang, namun Abi belum juga pulang. Biasanya Abi pulang sebelum magrib.
"Umi, Abi belum pulang",tanya ku. Kulihat Umi menunggu di depan pintu, dengan wajah yang cemas.
"Belum, tak seperti biasanya Abi kamu pulang terlambat nak"
"Umi jangan khawatir, mungkin Abi sedang ada pekerjaan yang belum selesai, kita berdoa saja semoga nanti Abi pulang dengan selamat. Oh iya Umi, Aullia pamit ngaji dulu ya. Kalau ada apa-apa Umi kabari Aullia. Assalamualaikum Umi", aku pamit dan ku kecup punggung tangan Umi.
"Aamiin, insyaallah Abi kamu pulang dalam keadaan sehat. Iya nak, hati-hati. Wa'alaikumsalam"
Saat tiba di gerbang pondok, kulihat Amar dan santri putra lainya sedang menuju ke pendopo untuk mengaji juga.
Dia tersenyum kepada ku, dan ku balas dengan senyuman juga. Lalu aku lanjutkan jalan untuk ke masjid.
Santriwan dan santriwati memang mengaji ditempat yang berbeda, kecuali saat jadwal Abah Kyai.
Setelah selesai mengaji, aku langsung pulang kerumah. Sahabatku bingung, tak seperti biasanya. Biasanya selesai mengaji kami ada banyak topik pembicaraan, tapi tidak untuk hari ini. Aku khawatir, bila terjadi sesuatu pada Abi, umi juga tak memberi kabar tentang Abi. Apakah Abi sudah pulang atau belum. Sejak tadi aku hanya memikirkan Abi. Aku berjalan menuju gerbang, kulihat Amar berdiri sendirian di depan gerbang. Sepertinya ia sedang menungguku, atau mungkin aku yang terlalu PD.
Tak ku pedulikan tatapannya, aku menunduk dan berjalan santai didepannya. Dia memanggilku, dan ku hentikan langkahku.
"Aullia", panggil nya dengan nada yang sangat lembut
"Iya, ada apa?",tanyaku
"Kamu sepertinya sedang buru-buru"
"Iya Amar, aku ingin segera kembali kerumah. Aku khawatir, Abi ku belum ada kabar sejak tadi"
"Astagfirullah, ya sudah hati-hati pulangnya. Dan semoga Abi kamu pulang dalam keadaan sehat, Aullia"
"Aamiin, terimakasih. Kalau begitu aku pamit dulu. Assalamualaikum", ucapku dan aku langsung keluar dari pondok.
Setiba dirumah, ku ketuk pintu. Tak ada jawaban dan pintu rumah juga tidak dikunci. Aku takut terjadi sesuatu.
Lalu aku langsung masuk rumah, dan Alkhamdulillah, Abi sudah pulang dengan keadaan sehat walafiat. Ku hampiri Abi dan Umi di meja makan. Kucium tangan mereka, lalu duduk bersama.
"Kok tumben kamu udah dirumah jam segini, nak",tanya Abi. Karena Abi tahu setelah selesai mengaji aku biasanya mengobrol dulu dengan sahabatku.
"Iih, Abi. Aullia pulang cepat bingung, pulang agak lambat Abi marahin",bibirku manyun dihadapan Abi.
"Aullia, gak sopan kayak gitu. Udah duduk dulu",jari telunjuk Abi menyentil bibir manyun ku.
"Aduh, sakit Abi. Abi kok tumben hari ini pulangnya lambat"
"Iya, maaf tadi ada kerjaan yang belum selesai. Oh iya, kamu udah mulai hafalan Al-quran nya nak?",tanya Abi
"Belum bi, Aullia gak bisa kalau gak ada yang mendampingi, Aullia takut salah bacaannya"
"Maaf kan Abi ya nak, Abi belum bisa mendampingimu. Tetapi Abi sudah carikan guru mengaji untukmu"
"Benarkah? Siapa Bi? Tetapi Aullia bisa kan tentukan hari sama jam bimbingan hafalan Al-quran nya? Soalnya Aullia juga baru fokus sama ujian nasional bi"
"Iya tidak apa-apa, terserah kamu akan memulai nya"
"Terimakasih Abi, insyaallah Aullia bakal banggain Abi sama Umi", ku peluk tubuh Abiku.
Aku pamit pergi ke kamar untuk belajar, ada beberapa latihan soal ujian yang harus aku kerjakan. Aku ingin lulus dengan nilai yang terbaik, dan aku juga ingin menjadi seorang hafidzah.
Semoga apa yang aku harapkan, dapat tergapai.
Bersambung...
KAMU SEDANG MEMBACA
Ada Cinta Di Pesantren
EspiritualMenunggu seseorang itu bukan hal bodoh. Tapi meninggalkan orang itu demi orang lain yg lebih mengharap kehadiran kita, itu jauh lebih pintar. ~Ais.Aullia
