Belajar menjadi hafidzah (2)

2.6K 129 6
                                        

Ujian nasional semakin dekat, tinggal beberapa minggu lagi.
Ku persiapkan secara matang untuk menghadapi pertempuran dengan soal-soal ujian.
Ku kerjakan setiap hari latihan soal untuk menghadapi ujian nasional.
Namun masih ku rasakan ada sedikit beban, bagaimana aku akan memulai menghafal al-quran, jika setiap hari mengerjakan soal. Bukankah kita harus seimbang untuk mendalami ilmu agama dan ilmu pengetahuan.
Baiklah, setelah makan malam aku akan meminta pada Abi untuk memulai hafalannya besok sore saja~batinku mantap.

Adzan magrib berkumandang, hari ini aku libur tak berangkat mengaji. Dan saat libur mengaji kadang Abi dan Umi juga libur dalam mengurus pekerjaannya, aku sering menceritakan tentang sekolah dan mengaji ku kepada beliau.
Setelah makan malam selesai, ku bantu Umi membersihkan meja dan mencuci piring. Setelah itu Kami akan mengobrol di ruang depan sambil menonton televisi. Kadang televisi yang menonton kami saat ngobrol.
Abi dan Umi ku sangat asyik saat mereka bersantai, tapi saat mereka sibuk dengan pekerjaan mereka lupa dengan waktu. Tapi mereka tak lupa untuk beribadah, aku bangga pada Abi dan Umi ku.
"Abiiii...."panggilku sambil berlari dari dapur menghampiri Abi yang sedang duduk santai sambil nonton tv.
"Iya, ada apa sayang", rangkul Abi dan terus menciumi kepalaku
"Bi, bagaimana kalau besok sore hafalannya aku mulai"
"Ya bagus dong, semakin cepat semakin baik. Nanti Abi hubungi yang ngajar kamu hafalan"
"Emang siapa sih bi yang ajari aku hafalan nanti??",tanyaku
"Abi lupa siapa namanya, tapi kayaknya masih seumuran kamu kok anaknya"
"Oh ya??? Masa sih bii. Ya sudah syukron ya bi udah cariin Aullia guru ngaji"
"Tapi kamu masih ngaji di pondok kan??",tanya Umi
"Masih kok Umi. Nanti aku atur waktunya. Pagi sampai siang aku sekolah, terus istirahat sebentar abis ashar aku mulai hafalan. Terus abis magrib aku ngaji dipondok sampai selesai, setelah selesai mengaji aku belajar lagi buat sekolah",jelasku panjang kali lebar. Yang dijawab oleh Umi dengan cubitan dipipi.
"Iya, umi percaya kamu bisa mengatur waktu dengan baik. Tapi kamu juga harus jaga kesehatan. Jangan sampai begadang sama jangan terlalu dipaksakan. Kalau udah lelah di lanjut besok, kan ujian kamu juga udah dekat, jadi jangan sampai sakit saat ujian"
"Qolas Umi ku sayang", jawabku dengan senyum dan memeluk Umiku
"Ya sudah, ini udah mau adzan isya. Abi sama Umi mau ke masjid dulu ya. Apa kamu mau ikut?",ajak Umi
"Enggak Umi, Aullia sholat dirumah aja"
"Ya sudah Abi sama Umi pamit dulu, jaga rumah ya. Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam"

Setelah sholat isya, aku langsung memegang buku yang berisi latihan soal menghadapi ujian nasional, tak aku kerjakan tapi hanya kutatap. Entah kenapa aku malah jadi memikirkan siapa guru hafalanku besok. Atau mungkin itu Amar. Kata Abi seumuranku. Tapi masak iya, aku kan juga gak tahu Abi cari gurunya dimana. Ahh sudahlah yang penting besok aku sudah mulai menghafal, semoga niatku ini diridhoi Allah swt. Aamiin.

**
Matahari bersinar tanpa ada malu, sinarnya begitu menghangatkan, sebelum berangkat sekolah ku sambut pagi dengan lagu sholawatan yang paling aku suka, Roqqot 'aina dan sholawatan lain yang sering Maher Zain lantunkan. Walaupun suara ku gak bagus banget, tapi kalau dirumah tetep PD aja menirukan sholawat nya.

Hari ini aku melakukan kegiatan seperti biasa, pergi sekolah dengan sahabat, mengikuti pelajaran hingga berakhir, dan setelah itu selesai aku langsung pulang ke rumah. Mempersiapkan setoran hafalan pertama ku.
Di hari pertama setoran ini, Aku akan setor hafalan dari juz 30 walaupun sudah hafal tapi masih tetap diasah kembali supaya tidak salah bacaannya.
Hp ku bergetar, ada pesan masuk dari Abi ku.

Abi  :Nak, kamu udah siap kan buat hafalannya. Nanti setelah ashar setoran hafalan kamu sudah bisa dimulai.

Me: Iya Abi, Aullia udah siap kok. Terimakasih Abi.

Adzan ashar berkumandang, aku bergegas mengambil air wudhu kemudian sholat, setelah sholat selesai aku segera mandi. Dan berias didepan cermin, entah kenapa rasanya aku ingin terlihat cantik hari ini.
Setelah selesai berias, ku dengar ketukan pintu dari luar.

Tok...tok..tok.. Assalamualaikum...

Aku berlari menuruni anak tangga. Sebelum aku membuka pintu itu, ku rapikan jilbab ku yang terlihat agak miring. Setelah itu ku pegang ganggang pintu, dan setelah ku buka dan ku balas ucapan salam itu, ternyata dia.......
Aku terdiam, mematung, seakan-akan ini mimpi. Ya Allah, aku merasakan pipiku memanas. Mungkin warnanya seperti tomat merah.
"Aullia.. Kamu kenapa??", tanya Amar sambil melambai-lambai kan tangannya di depan mukaku.
"Astagfirullah, E..enggak kok. Kamu ngapain kesini mar??",tanyaku
"Aku kesini karena perintah Abah Kyai, katanya Abi kamu yang meminta Abah untuk mencarikan orang yang bisa ajari kamu hafalan al-quran"
"Ow, jadi kamu yang bakal ajari aku hafalan. Ya sudah, silahkan masuk"
"Iya, tapi maaf sebelumnya, apa dirumah kamu ada Abi Umi mu? Atau kamu sendirian??",tanyanya
"Aku sendiri, jam segini Abi dan Umi belum pulang"
"Maaf ya, kalau begitu kita mulai hafalannya di teras saja Li",pintanya
"Oh ya baiklah. Silahkan duduk. Tunggu sebentar ya aku ambil Al-quran dulu"

Mungkin bukan sebentar aku masuk ke dalam rumah, tetapi cukup lama. Aku malu, pipi merahku tidak bisa diajak kompromi. Kenapa setiap aku bertemu dengan Amar, pipiku selalu memerah.
Huahh... Kalau begini aku setoran hafalannya jadi grogi deh.

Setelah beberapa menit kemudian, aku keluar dengan membawa segelas es sirup melon dan cemilan seadanya.
"Maaf ya lama, ini silahkan diminum dulu",ucapku
"Iya gpp, terimakasih". Aku diam menunggu nya, tak berani aku menatap wajahnya.
"Ehm.. Bagaimana, sudah bisa dimulai sekarang hafalannya?",tanya Amar
"Oh iya, sudah. Aku mulai dari juz 30 ya."
"Baiklah, baca ta'awud dulu"

Alkhamdulillah aku hafalan dengan lancar, aku telah selesai mengulang hafalan ku dari surah An-Naba' sampai An-Nas.

"Alkhamdulillah, kamu lancar Aullia. Kalau besok kamu mulai hafalannya dari yang awal ya"
"InsyaAllah besok aku mulai menghafal surah Al-baqarah",jawabku
"Iya, tapi kamu jangan hanya bisa menghafal nya saja. Tapi juga harus bisa memahami dan mengamalkan isi dari al-quran"
"InsyaAllah. Aku akan berusaha"
"Ya sudah aku pamit dulu, Aku harus sudah sampai dipondok sebelum magrib.",pamit Amar
"Hati-hati ya mar. Dan terimakasih sudah mau menyimak hafalanku hari ini"
"Iya sama-sama, sampai jumpa untuk hafalannya besok😊. Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam"

Bersambung.....

**
Maaf ya kalau ceritanya masih flat..
Dan maaf kalau ceritanya agak nggak nyambung sama judul.
Soalnya saya bukan santri asli😅.
Cerita ini sebenarnya tentang kisah yang saya alami, tapi agak sedikit beda.

Maaf.. Sekali lagi maaf yaa teman-teman ku.
Kalau ada cerita atau dialog yang gak nyambung.
Tapi kalau kalian suka, saya bersyukur alkhamdulillah.

Maaf juga karena update nya lama banget.

Jangan lupa vote ya.
Terimakasih❤

Ada Cinta Di PesantrenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang