Dia menatapku dengan tatapan tajamnya, namun aku menemukan sorot bingung di matanya. Tapi tak ada satu katapun keluar darinya. Dia hanya diam berdiri di sana. Aku juga ikutan diam, bingung mau ngomong apa.
Aku mematikan rokokku dengan canggung, dan melihat Leon masih berdiri di tempatnya, hanya saja pandangannya sudah beralih ke taman di depan kami.
Sebagai seorang designer, aku terbiasa memperhatikan penampilan orang, dan saat ini mau tidak mau aku jadi memperhatikan satu-satunya manusia di depanku.
Leon bertubuh tinggi besar, namun badannya tegap. Dan saat ini, di bawah terik matahari, aku justru memperhatikannya lebih jelas dibanding semalam.
Bahunya lebar dengan dada yang bidang, namun pinggangnya cukup ramping. Proporsional. Dia tidak berotot sampai bertonjolan ke mana-mana, tapi tidak ada lemak yang bertonjolan juga. Dia mengenakan kemeja lengan panjang pas badan dan dasi yang sudah dilonggarkan.
Dan wajahnya...
Aku agak nggak ngerti sih sebenarnya. Oke dia memang menyeramkan, tapi apa semua perempuan di luar sana begitu bodoh dan mengabaikan pesona pria ini?
Kalau aku mengabaikan matanya yang menyorot tajam dan jambangnya, sebenarnya wajahnya cukup keren. Serius.
Dia kembali menatapku dan aku mendadak salah tingkah. Untuk menutupi kecanggunganku, aku melambaikan tangan memanggilnya mendekat.
"Ngapain lo di sana? Ayo duduk."
Dia menatapku seakan-akan menimbang ajakanku, lalu dia berjalan mendekatiku dan tiba-tiba duduk di sebelahku. Lalu hening lama sekali. Dia diam, aku juga diam. Bingung mau ngapain.
Kok tiba-tiba jadi panas ya?
Aku mencari kipas portable di ranselku dan mulai menyalakannya.
Kipas portable ada salah satu dari must have item ala Karenina Hanafi. Kenapa? Karena aku merokok dan aku jadi lebih sering menghabiskan waktu di luar ruangan. Dan aku benci berkeringat.
Lalu aku mendengar suara dengusan di sebelahku. Dia mendengus??
"Lo panas?"
Akhirnya dia bicara. Terimakasih Tuhan... Aku hampir mati kaku karena hening yang canggung tadi...
"Iya. Panas. Bisa duduknya geser jauhan nggak?"
Leon tidak bergerak, tapi tangannya mengangkat gelas kertas yang masih terisi separuh milikku dan menggoyangkannya lalu menatapku seolah-olah minuman itulah yang membuatku kepanasan.
Aku merebut kembali gelasku dari tangannya dengan kesal. Tapi dia malah melihat buku sketsaku.
"Lo designer?"
"Ya."
Aku mencoba menutup buku sketsaku, namun dia lebih cepat. Dia menyambar buku sketsaku dan membolak-baliknya. Dahinya mengernyit.
"Wedding gown?"
"Iya, sekarang balikin buku gue."
KAMU SEDANG MEMBACA
Nina and the Lion [TERBIT]
ЧиклитCerita sudah dihapus sebagian untuk kepentingan penerbitan meet Karenina, gadis 23 tahun dengan penampilan seperti anak remaja dan nggak bisa pasang sekat antara otak sama mulut. meet Leonardo, pemuda 23 tahun dengan penampilan seperti penculik ana...
![Nina and the Lion [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/127315767-64-k307442.jpg)